Madinah, Javanusa—Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melibatkan Musyrif Diny untuk memperkuat pembinaan ibadah jemaah Indonesia selama pelaksanaan Haji 2026 di Tanah Suci.
Sebanyak 32 anggota Musyrif Diny tiba di Madinah melalui Bandara Amir Mohammad bin Abdul Aziz (AMAA), Senin (12/5/2026).
Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam mendukung layanan pembinaan ibadah bagi jemaah haji Indonesia.
Program ini sekaligus mendukung visi Tri Sukses Haji 2026 yang mencakup sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi haji, serta sukses peradaban dan keadaban.
Dampingi Jemaah Selama Rangkaian Haji
Anggota Musyrif Diny, KH. Chalil Nafis menjelaskan, pembimbing ibadah bertugas mendampingi jemaah agar menjalankan seluruh rangkaian haji sesuai syariat Islam.
“Musyrif Diny memberikan guidance bagaimana pelaksanaan ibadah haji sesuai syariat Islam yang diajarkan Rasulullah SAW,” ujar KH. Chalil Nafis.
Pendampingan dilakukan mulai dari pelaksanaan haji tamattu’, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, hingga tawaf serta lempar jumrah.
Selain itu, Musyrif Diny juga mendampingi jemaah dengan kondisi khusus, termasuk jemaah sakit yang membutuhkan dispensasi ibadah seperti safari wukuf. Namun, dispensasi tetap mengacu pada ketentuan syariat Islam.
Perkuat Pembinaan Akhlak Jemaah
Tidak hanya fokus pada kesempurnaan ritual ibadah, Musyrif Diny juga memberikan pembinaan akhlak selama jemaah berada di Tanah Suci.
Jemaah diimbau menjaga sikap, menghindari perdebatan, ghibah, dan ucapan tidak baik agar mampu meraih haji mabrur.
“Hal-hal yang menunjang kemabruran juga kita anjurkan seperti tidak rafats, tidak berkata kotor, dan tidak banyak berdebat,” katanya.
Sebanyak 32 pembimbing ibadah tersebut nantinya ditempatkan di berbagai sektor layanan haji di Makkah. Mereka akan menjadi rujukan pembimbing ibadah kloter sekaligus tempat konsultasi fikih haji bagi petugas dan jemaah.
Awasi Kepatuhan Syariah Layanan Haji
Anggota Musyrif Diny lainnya, KH. Asrorun Niam Soleh mengatakan, pembinaan ibadah dilakukan melalui dua pendekatan, yakni pembinaan langsung kepada jemaah dan pembinaan pada level penyelenggaraan.
Menurutnya, seluruh desain layanan haji seperti transportasi, akomodasi, dan konsumsi dikonsultasikan secara keagamaan agar sesuai dengan prinsip syariah.
“Nah, desain penyelenggaraan itu dikonsultasikan secara keagamaan agar memiliki kepatuhan syariah dengan lembaga yang namanya Musyrif Diny,” ujar KH. Asrorun Niam Soleh.
Ia menambahkan, Musyrif Diny juga berperan memberikan solusi keagamaan saat terjadi kondisi darurat atau force majeure. Dengan begitu, jemaah tetap dapat menjalankan ibadah secara sah sesuai tuntunan syariat.
Dukung Tri Sukses Haji 2026
Chalil Nafis menilai, kehadiran Musyrif Diny menjadi penguat dalam mewujudkan Tri Sukses Haji 2026. Tidak hanya sukses dalam pelaksanaan ritual, program ini juga bertujuan membangun karakter dan peradaban jemaah haji Indonesia.
“Jemaah haji diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa kebaikan bagi masyarakat setelah kembali ke Tanah Air,” ujarnya.
Ia juga optimistis penyelenggaraan ibadah haji tahun ini berjalan lancar meski menghadapi tantangan tingginya jumlah jemaah lansia dan padatnya aktivitas ibadah di Tanah Suci.
Menurutnya, koordinasi antara Kemenhaj dan pemerintah Arab Saudi sejauh ini berjalan baik serta didukung skema layanan ramah lansia.
“Mudah-mudahan jemaah haji Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan baik dan sempurna serta pulang membawa haji mabrur,” pungkasnya. (*/red)






