Padang Pariaman, Javanusa—Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman membuka kembali jembatan darurat di Nagari Anduriang setelah pekerjaan normalisasi Sungai Batang Anai rampung.
Keberadaan jembatan tersebut menjadi akses sementara yang menghubungkan aktivitas masyarakat hingga jembatan permanen dibangun oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN).
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Padang Pariaman, El Abdes Marsyam, mengatakan pembukaan jembatan berlangsung lebih cepat berkat koordinasi intensif dengan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Provinsi Sumatera Barat.
Awalnya, akses itu diperkirakan baru dapat digunakan dalam tiga hari. Namun, kerja sama antarinstansi berhasil mempercepat proses sehingga masyarakat sudah bisa melintasi jembatan hanya dalam waktu dua hari.
“Percepatan ini agar aktivitas masyarakat, khususnya pelajar, pekerja, dan pengguna kendaraan roda dua, dapat kembali berjalan normal tanpa harus menunggu lebih lama,” ujar El Abdes Marsyam.
Hanya untuk Pejalan Kaki dan Kendaraan Ringan
Saat ini, jembatan darurat masih berstatus fungsional. Pemerintah daerah akan melengkapi fasilitas keselamatan secara bertahap, termasuk memasang pengaman di sisi kiri dan kanan jembatan.
Untuk sementara, akses tersebut hanya dapat dilalui pejalan kaki, sepeda motor, dan kendaraan roda tiga seperti becak. Kendaraan roda empat belum diperbolehkan melintas karena konstruksi jembatan masih bersifat sementara.
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tetap berhati-hati saat menggunakan jalur tersebut. Pasalnya, lintasan ini menjadi akses penting yang setiap hari digunakan lebih dari 2.000 kendaraan sehingga faktor keselamatan tetap menjadi perhatian utama.
BPJN Siapkan Jembatan Permanen
Sebagai langkah permanen, BPJN telah menyiapkan pembangunan jembatan baru untuk menggantikan jembatan darurat Batang Anai.
Rencananya, jembatan permanen memiliki panjang 140 meter yang terdiri atas dua bentang masing-masing sepanjang 70 meter. Infrastruktur itu akan dibangun dengan lebar enam meter menggunakan konstruksi rangka baja.
Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp45,2 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pembangunannya ditargetkan mulai pada 2026.
Kehadiran jembatan permanen diharapkan mampu memulihkan konektivitas kawasan sekaligus memperlancar akses transportasi bagi lebih dari 40 ribu warga yang selama ini bergantung pada jalur penyeberangan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman menegaskan percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana menjadi bagian dari komitmen meningkatkan pelayanan publik. Sinergi pemerintah kabupaten, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan pemerintah pusat diharapkan mempercepat penyediaan infrastruktur yang aman, andal, dan berkelanjutan. (*)






