Javanusa.com—Tanaman kecubung dikenal sebagai salah satu bahan obat tradisional di sejumlah daerah. Meski dipercaya memiliki manfaat untuk mengatasi beberapa keluhan kesehatan, tanaman ini juga mengandung racun yang dapat memicu gangguan serius jika dikonsumsi tanpa pengawasan.
Kecubung (Datura stramonium) mengandung senyawa alkaloid tropan, seperti atropine, hyoscyamine, dan scopolamine. Ketiga senyawa tersebut bekerja dengan menghambat neurotransmiter asetilkolin yang berperan penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami gejala keracunan mulai dari mulut kering, haus berlebihan, mual, muntah, sensitif terhadap cahaya, hingga halusinasi, delirium, dan kejang. Karena itu, penting memahami bahaya konsumsi kecubung sebelum menggunakannya sebagai obat herbal.
Kandungan Racun pada Tanaman Kecubung
Meski kerap dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk membantu meredakan peradangan dan gejala asma, hampir seluruh bagian tanaman kecubung mengandung racun. Daun, buah, biji, akar, hingga getahnya sama-sama memiliki kandungan alkaloid tropan yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Semakin banyak jumlah yang dikonsumsi, semakin tinggi pula risiko terjadinya keracunan.
1. Mengganggu Fungsi Sistem Saraf
Efek paling dikenal dari konsumsi kecubung adalah gangguan pada sistem saraf. Alkaloid tropan dapat memicu halusinasi, kejang, hingga penurunan kesadaran.
Sebuah laporan kasus yang dipublikasikan dalam jurnal Advances in Research juga menunjukkan bahwa keracunan kecubung dapat menyebabkan delirium. Kondisi ini membuat seseorang mengalami kebingungan berat sehingga sulit berpikir, berkonsentrasi, maupun mengingat informasi dengan jelas.
2. Memicu Dehidrasi
Kandungan racun dalam kecubung juga dapat mengurangi produksi cairan tubuh sehingga memicu dehidrasi.
Gejalanya meliputi rasa haus yang sangat kuat, mulut kering, dan kulit yang terasa lebih kering dari biasanya. Bila tidak segera ditangani, dehidrasi berat berisiko menyebabkan kerusakan organ bahkan mengancam keselamatan jiwa.
3. Menyebabkan Gangguan Pencernaan
Keracunan kecubung juga sering menyerang saluran pencernaan. Penderitanya dapat mengalami nyeri perut, mual, muntah, hingga diare.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang dimuat dalam jurnal BMC Public Health terhadap 293 kasus keracunan alkaloid tropan akibat konsumsi kecubung. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 22 persen pasien mengalami diare, sedangkan sekitar 18 persen mengalami mual dan muntah.
4. Berisiko Menimbulkan Kecanduan
Selain menyebabkan keracunan, kecubung juga memiliki potensi menimbulkan ketergantungan.
Tanaman ini dapat memunculkan sensasi euforia, perasaan sangat senang, serta meningkatkan energi selama sekitar tiga hingga empat jam. Efek tersebut dapat mendorong sebagian orang untuk mengonsumsinya berulang kali sehingga meningkatkan risiko kecanduan.
5. Berpotensi Merusak Organ Tubuh
Dampak konsumsi kecubung tidak hanya terbatas pada sistem saraf dan pencernaan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Toxicology Research pada hewan percobaan menemukan bahwa ekstrak biji kecubung berpotensi mengganggu fungsi berbagai organ.
Gangguan tersebut meliputi hati, ginjal, jantung, hingga otak. Meski penelitian dilakukan pada tikus, hasilnya menunjukkan adanya potensi toksisitas yang perlu diwaspadai.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Keracunan Kecubung?
Tingkat keparahan keracunan bergantung pada jumlah kecubung yang dikonsumsi. Pada orang dewasa, konsumsi alkaloid tropan lebih dari 10 miligram dapat menimbulkan keracunan serius.
Apabila muncul gejala setelah mengonsumsi kecubung, segera cari pertolongan medis darurat. Penanganan dini dapat mengurangi risiko komplikasi yang lebih berat.
Dokter akan menentukan terapi sesuai kondisi pasien. Jika racun baru tertelan dalam waktu sekitar satu jam, tindakan yang dapat dilakukan antara lain pencucian lambung atau pemberian arang aktif untuk membantu mengurangi penyerapan racun.
Selain itu, dokter dapat memberikan benzodiazepin untuk mengatasi gelisah dan membantu mengendalikan suhu tubuh, serta physostigamine pada pasien yang mengalami delirium sesuai indikasi medis.
Konsultasikan Sebelum Menggunakan Obat Herbal
Keracunan kecubung dapat terjadi pada siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Oleh karena itu, penggunaan tanaman herbal ini tidak boleh dilakukan sembarangan.
Sebelum mengonsumsi kecubung atau obat herbal lainnya, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter agar manfaat dan risikonya dapat dipertimbangkan secara tepat. (*)






