Pessel, Javanusa—Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) Sumatera Barat (Sumbar) Selasa, (19/8/2025).
Peristiwa tersebut menghanguskan sekitar tiga hektare lahan perkebunan milik warga di dua kecamatan berbeda.
Karhutla pertama kali diketahui sekitar pukul 11.00 WIB. Saat warga melaporkan adanya asap tebal yang muncul di kawasan Nagari Gurun Panjang Selatan, Kecamatan Bayang.
Beberapa jam berselang, api juga dilaporkan muncul di Kampung Teluk Betung, Nagari IV Koto Hilie, Kecamatan Batang Kapas, sekitar pukul 18.30 WIB.
Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab terjadinya kebakaran tersebut.
Namun, musim kemarau panjang yang melanda wilayah Sumatera Barat dalam beberapa pekan terakhir diduga memperparah kondisi di lapangan.
Laporan dari masyarakat menjadi informasi awal yang diterima oleh Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Pesisir Selatan.
Setelah menerima laporan, tim reaksi cepat segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan penanganan.
“Begitu kami mendapatkan laporan dari warga, kami langsung turunkan Satgas TRC ke dua lokasi kejadian. Tim juga dibantu oleh personel TNI, Polri, serta masyarakat setempat dalam proses pemadaman,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Pessel, Yuskardi, Rabu (20/8/2025).
Upaya pemadaman dilakukan secara manual karena medan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
“Kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri, sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga ekstra,” tambah Yuskardi.
Menurut Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Pessel, Deftisiswadi, koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam penanganan karhutla kali ini.
Ia juga mengapresiasi respons cepat masyarakat yang turut membantu di lapangan.
“Kerja sama yang solid antara BPBD, TNI, Polri, dan warga sangat membantu dalam menekan penyebaran api. Berkat sinergi ini, api berhasil dipadamkan sebelum merembet ke permukiman,” ujar Defrisiswadi.
Meskipun api berhasil dipadamkan, dampak kebakaran cukup terasa bagi warga, khususnya pemilik lahan.
Sekitar tiga hektar lahan perkebunan dilaporkan hangus terbakar, dengan kerugian yang belum dapat ditaksir secara keseluruhan.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun, BPBD Pesisir Selatan tetap mengimbau warga untuk lebih waspada terhadap potensi kebakaran, terutama selama musim kemarau yang masih berlangsung.
Saat ini, kondisi di kedua lokasi telah dinyatakan aman dan terkendali.
Pihak BPBD juga menyampaikan akan dilakukan penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya karhutla serta pentingnya pencegahan dini, terutama di kawasan yang rawan kebakaran.
Pemerintah daerah akan melakukan evaluasi dan meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk memperkuat peralatan dan personel di tingkat nagari.
“Ini penting agar kejadian serupa tidak terulang,” kata Defrisiswadi.
Kasus karhutla ini menambah daftar panjang insiden kebakaran hutan di Sumatera Barat selama 2025.
Meski demikian, penanganan cepat oleh berbagai pihak dinilai mampu meminimalisir dampak lebih luas.
BPBD Pesisir Selatan mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, dan segera melaporkan jika menemukan titik api sekecil apa pun. (sus)






