Pessel, Javanusa—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pesisir Selatan (Pessel) terus memperkuat komitmennya dalam memajukan sektor pendidikan.
Hal itu terungkap melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Penguatan Kinerja Kepala Sekolah, yang digelar Kamis (6/11/2025) di aula Dinas Pendidikan di Painan.
Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 200 peserta yang terdiri dari para kepala sekolah dasar (SD) dan pengawas sekolah dari empat kecamatan, yakni IV Jurai, Bayang, Bayang Utara, dan Koto XI Tarusan.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Kab Pessel, Evafauza Yuliasman, dengan juga didampingi Asisten I Bidang Pemerintahan dan Pembangunan, Syahrizal Antoni, Kepala Dinas Pendidikan Pessel, Salim Muhaimin, Kepala Bapedalitbang, Hadi Susilo, serta sejumlah pejabat eselon III dan IV di lingkungan Dinas Pendidikan.
Pj Sekdakab Pessel, Evafauza Yuliasman, dalam kesempatan itu menyampaikan kegiatan koordinasi tersebut sebenarnya telah lama direncanakan.
Karena padatnya agenda pemerintahan, pelaksanaannya baru dapat direalisasikan pada November ini. Dalam kesempatan itu ia menegaskan bahwa sektor pendidikan merupakan prioritas utama yang harus mendapat dukungan lintas instansi.
“Pendidikan adalah sektor strategis yang menentukan masa depan daerah. Dari itu kepada semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) harus memahami arah dan tujuan program pendidikan, yang saat ini dikemas melalui Nagari Pandai, sebagai salah satu program unggulan daerah,” katanya.
Evafauza menjelaskan Program Nagari Pandai merupakan gagasan Bupati Pessel, Hendrajoni, yang bertujuan mencetak generasi muda yang cerdas, berdaya saing, dan berkarakter.
Melalui program ini, pendidikan diharapkan tidak hanya berorientasi pada pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi sarana pembentukan moral, etika, dan tanggung jawab sosial peserta didik.
Ia menekankan pendidikan sejati adalah proses membangun manusia seutuhnya, bukan sekadar transfer ilmu.
“Dalam kehidupan ini, jika ingin sukses, maka hormatilah orang tua dan hargailah guru,” ujarnya.
Nilai-nilai moral tersebut, lanjutnya, menjadi fondasi penting agar peserta didik tumbuh dengan kepribadian yang kuat dan menghormati sesama.
Dalam kesempatan itu, Evafauza juga menyoroti perbedaan karakter murid masa kini dengan generasi terdahulu. Menurutnya, kemajuan teknologi memang membawa kemudahan dalam memperoleh informasi, namun juga menghadirkan tantangan baru dalam pembentukan adab dan etika.
“Anak-anak sekarang lebih mudah mengakses informasi, tapi kadang melupakan sopan santun. Ini tugas kita bersama untuk mengembalikan nilai-nilai itu,” ujarnya.
Ia mengingatkan pentingnya peran guru dalam menanamkan nilai-nilai adab dan moral kepada siswa. Guru, katanya, bukan sekadar pengajar mata pelajaran, tetapi juga pembimbing karakter yang menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Berdasarkan itu, sehingga ia mengimbau seluruh kepala sekolah dan guru agar berperan aktif membantu pemerintah daerah membina anak didik agar menjadi generasi yang beradab dan berprestasi.
Selain menghormati guru dan orang tua, Evafauza juga menekankan pentingnya menghargai senior dalam dunia kerja.
“Dalam kehidupan profesional, rekomendasi dari senior sering menjadi penentu jalan karier. Karena itu, biasakanlah menghargai mereka sejak dini. Nilai-nilai seperti ini juga perlu ditanamkan oleh guru kepada siswa,” pesannya.
Lebih lanjut, ia menegaskan keberhasilan pendidikan ditentukan oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Ada enam variabel utama yang berpengaruh terhadap keberhasilan sektor pendidikan, yakni guru, murid, orang tua, keluarga, lingkungan, serta sarana dan prasarana.
“Guru adalah motor penggerak, murid pusat perhatian, orang tua dan keluarga pondasi moral, lingkungan membentuk karakter, serta sarana dan prasarana menjadi pendukung utama. Bila semuanya harmonis, kualitas pendidikan akan meningkat secara sebagaimana diharapkan,” jelasnya.
Untuk mewujudkan hal itu, Evafauza menilai integritas, etika, dan kualitas guru harus terus ditingkatkan. Menurutnya, guru yang berintegritas akan menjadi teladan nyata bagi murid dalam bersikap dan bertindak.
“Kalau kita ingin anak-anak beradab, maka guru juga harus menjadi contoh dalam kejujuran dan ketulusan,” ingatnya.
Kepala Dinas Pendidikan Pessel, Salim Muhaimin menilai kegiatan tersebut merupakan momentum penting untuk memperkuat sinergi antara kepala sekolah, pengawas, dan pemerintah daerah.
“Kami berharap kegiatan ini melahirkan komitmen nyata dari para kepala sekolah untuk membawa perubahan di satuan pendidikan masing-masing,” ujarnya.
Salim menambahkan, semangat perubahan dan pembentukan karakter harus terus ditularkan ke seluruh sekolah. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama antara guru, orang tua, dan masyarakat.
“Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimis cita-cita Nagari Pandai akan terwujud dalam melahirkan generasi Pessel yang cerdas, beradab, dan berdaya saing tinggi,” timpalnya. (yoniks)






