Pessel, Javanusa—Melalui ceramah bertema Ketika Al Qur’an Diabaikan, Ustad Sapta Kardeni, Pimpinan Pondok Pesantren Khairatul Hasanah Muhammadiyah Lakitan, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, membuka tausiyahnya dengan membaca ayat suci Al Qur an Surah Al Furqan ayat 30.
Kajian Jumat yang disampaikan Ustad Sapta Kardeni ini, diharapkan bisa sebagai renungan bagi semua umat Islam, khususnya di Kabupaten Pesisir Selatan.
Dikatakannya bahwa Rasulullah Muhammad Shalallahu alayhi wasallam berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Qur’an ini diabaikan.
Ayat itu, menurut Sapta Kardeni adalah bentuk keluhan Rasulullah kepada Allah atas sikap sebagian umatnya yang tidak lagi menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup.
“Ayat ini mengguncang hati,” tutur Ustad Sapta dengan nada bergetar.
“Bayangkan, Rasul kita yang penuh kasih, sampai mengadu kepada Allah SWT karena umatnya sendiri meninggalkan Al Qur’an,” katanya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa Al Qur’an secara bahasa berarti bacaan, atau sesuatu yang dibaca, sedangkan secara istilah adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia.
“Al Qur an bukan sekadar bacaan yang dibungkus indah di lemari, tapi sebagai pedoman kehidupan yang diturunkan untuk menuntun manusia dari gelap menuju cahaya,” ujarnya.
Lebih jauh, Ustad Sapta menguraikan bahwa fungsi Al Qur’ an amatlah luas. Pertama, sebagai petunjuk (Huda) bagi orang-orang yang beriman.
“Siapa yang mengikuti petunjuk ini, hidupnya akan terarah dan hatinya tenteram,” katanya.
Kedua, sebagai pembeda (Furqan), yang membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang halal dan haram. “Dalam dunia modern, ketika batas benar dan salah mulai kabur, Al Qur’an tetap menjadi kompas moral,” jelasnya.
“Ketiga, sebagai obat (Syifa). Al Qur’an menyembuhkan bukan hanya penyakit fisik, tetapi juga penyakit hati seperti iri, sombong, dan gelisah,” jelasnya sambil mengutip firman Allah SWT dalam QS Yunus: 57, dan menjelaskan, wahai manusia, telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit-penyakit di dada.
Selain itu, Al Qur’an juga berfungsi sebagai sumber hukum, sumber ilmu pengetahuan, dan alat pensucian jiwa.
“Ilmu yang bersumber dari Al Qur’an menumbuhkan keimanan, bukan kesombongan,” tambah Ustad Sapta.
Namun, lanjutnya, di tengah kemajuan zaman, banyak bentuk pengabaian terhadap Al Qur’an yang sering tidak disadari umat Islam sendiri.
“Pertama, dengan tidak membacanya. Banyak mushaf hanya menjadi pajangan, bukan teman harian,” ucapnya lirih.
“Kedua, tidak mengamalkan ajarannya. Orang mungkin hafal ayat-ayatnya, tapi perilakunya jauh dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” tambahnya.
“Ketiga, tidak berhukum dengan Al Qur’an. Ketika hukum Allah diganti dengan hawa nafsu manusia, maka kezaliman merajalela,” tegasnya dengan mengutip sabda Rasulullah SAW, Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh pada keduanya, kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. (HR Malik).
Kemudian yang keempat adalah tidak berobat dengan Al Qur’an, padahal Al Qur’an mengandung kekuatan spiritual luar biasa.
“Bacaan ayat-ayatnya bisa menjadi penenang hati dan sumber kekuatan ketika manusia terpuruk,” ujarnya.
Dan terakhir, tidak menyadari keberadaan Al Qur’an sebagai mukjizat terbesar.
“Banyak orang memandang Al Qur’an hanya sebagai simbol keislaman, bukan sumber kehidupan,” ujar Ustad Sapta lagi.
Mengakhiri tausyiahnya, Ustad Sapta mengajak semua umat Islam untuk melakukan introspeksi.
“Coba tanya diri kita masing-masing, sudahkah Al Qur’an menjadi sahabat dalam hidup kita. Sudahkah kita membaca, memahami, dan mengamalkannya setiap hari,” ucapnya.
Sapta juga menegaskan bahwa pengabaian terhadap Al Qur’an bukan hanya berarti meninggalkan bacaan, tapi juga menjauh dari petunjuk Allah SWT.
“Dan ketika manusia jauh dari petunjuk itu, maka kekacauan dan kesesatan akan menghampiri,” jelasnya.
Sebagai solusi, Ustad Sapta mengajak umat Islam untuk kembali mencintai Al Qur’an.
“Bacalah setiap hari walau satu halaman. Renungkan maknanya. Amalkan isinya. Niscaya hidupmu akan dipenuhi cahaya,” ingatnya.
Ia juga berpesan jangan sampai Rasulullah SAW kembali mengadu kepada Allah karena kita termasuk orang yang mengabaikan Al Qur’an. (yoniks)






