Rakor BBPOM di Padang Bahas Lima Program Strategis di Kota Pariaman

Penulis -

Selasa, 27 Januari 2026 - 20:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekdako Pariaman Afrizal Azhar memimpin Rakor bersama Kepala BBPOM di Padang Martin Suhendri dan kepala OPD, badan, serta camat di Ruang Rapat Wali Kota Pariaman, Selasa (27/1/2026). (Foto: Kominfo Kota Pariaman)

Sekdako Pariaman Afrizal Azhar memimpin Rakor bersama Kepala BBPOM di Padang Martin Suhendri dan kepala OPD, badan, serta camat di Ruang Rapat Wali Kota Pariaman, Selasa (27/1/2026). (Foto: Kominfo Kota Pariaman)

Pariaman, Padek—Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Pariaman Afrizal Azhar memimpin rapat koordinasi (Rakor) bersama Kepala BBPOM di Padang Martin Suhendri dan kepala OPD, badan, serta camat di lingkungan Pemko Pariaman. Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Wali Kota, Balaikota Pariaman, Selasa siang (27/1/2026).

Rakor ini menindaklanjuti pertemuan sebelumnya dengan Kepala BBPOM di Padang pada 15 Januari 2026. Terdapat lima agenda utama yang dibahas, yakni penanaman pohon pasca banjir, PJAS, pasar pangan aman berbasis komunitas, program desa pangan aman, dan pengawasan pabukoan menjelang Bulan Ramadhan.

Penanaman 400 Ribu Pohon di Empat Kecamatan

Afrizal Azhar menyambut baik program penanaman 400 ribu pohon dari BPOM Pusat melalui BBPOM Padang. Pohon akan ditanam di empat kecamatan, termasuk hutan kota Sikapak Timur seluas 2,5 hektare.

“Lokasi ini akan dikembangkan sebagai destinasi wisata keluarga berbasis alam. Penanaman juga dilakukan di kawasan sungai terdampak banjir dan lokasi lain pada 30 Januari 2026. Kegiatan melibatkan kepala OPD dengan mengenakan pakaian adat,” jelas Afrizal.

Pemeriksaan Jajanan Anak Sekolah

Rakor juga membahas PJAS untuk memeriksa jajanan anak sekolah. Pemerintah kota akan bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mendata pedagang dan memastikan makanan tidak mengandung zat berbahaya.

Kegiatan PJAS dijadwalkan berlangsung pada 12 Februari 2026. “Ini penting agar anak-anak sekolah dan masyarakat aman mengonsumsi jajanan,” tambah Afrizal.

Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas

Kota Pariaman berencana ikut serta lomba pasar pangan aman melalui Pasar Kuraitaji. Meskipun pasar kota sebelumnya juara pada 2021, kali ini Pasar Kuraitaji akan dibina dan dibenahi agar memenuhi standar lomba.

Program ini bertujuan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pangan di pasar dan mendukung ekonomi lokal.

Baca Juga :  Pemko Pariaman Peringati Harganas dan Hari Anak Nasional 2024
Program Desa Pangan Aman

Program desa pangan aman melibatkan kerja sama BBPOM, instansi terkait, desa/kelurahan, dan kader masyarakat. Tujuannya meningkatkan kemandirian masyarakat desa dalam menjamin pangan aman hingga tingkat individu.

“Selain itu, program ini memperkuat ekonomi desa melalui sosialisasi dan pendidikan pangan aman,” ujar Afrizal.

Pengawasan Pabukoan Jelang Ramadhan

Menjelang Bulan Ramadhan, BBPOM bersama Pemkot Pariaman akan mengawasi dan memeriksa pabukoan yang dijual pedagang. Pemeriksaan fokus pada kandungan formalin, boraks, dan zat berbahaya lainnya.

Jika ditemukan zat berbahaya, pedagang akan dikenakan sanksi sosial agar perbuatan serupa tidak terulang.

Kepala BBPOM Padang Martin Suhendri menekankan pentingnya pengawasan pangan untuk melindungi kesehatan masyarakat.

“Pengujian pangan jajanan penting agar masyarakat terhindar dari zat berbahaya. Konsumen juga harus cerdas dalam berbelanja untuk menjaga kesehatan,” jelasnya. (*/red)

Berita Terkait

Atasi Kemacetan Pengisian Solar di SPBU, Pemko Padang Terapkan Sistem Antrean Digital
Terkait Kisruh Gelar Datuak Rajo Bandaro, Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Mantan Wali Nagari Puluik Puluik Mencuat
Fadly Amran Minta OPD Padang Perkuat Inovasi Smart City di Enam Dimensi
Koto Tangah Siapkan 16 Venue MTQ ke-42 Padang, Ini Daftar Lokasinya
Koto Tangah Siapkan 65 Kafilah, Bidik Juara Umum MTQ ke-42 Kota Padang
Pemko Padang dan Pelindo Siapkan Penataan Muaro Padang Jadi Kawasan Wisata Maritim
Tutupi Trotoar dan Drainase, Satpol PP Padang Bongkar Lapak Pedagang di Jalan Sutan Syahrir
Gubernur Mahyeldi Dorong Tata Kelola Pemerintahan Sumbar Makin Kuat, Cegah Korupsi Sejak Awal

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Dorong Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Cegah Korupsi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Evi Yandri Tinjau SLB Negeri 1 Padang, Siap Perjuangkan Kebutuhan Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Muhidi Ungkap 3 Kunci Kesuksesan Siswa: Dengarkan Guru, Perbanyak Literasi, dan Perkuat Karakter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Guru PPPK Sumbar Didorong Jadi Agen Perubahan, Muhidi Tekankan SDM Unggul

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Gebyar Pajak Sumbar, Muhidi Dorong Warga Taat Bayar PKB untuk Perkuat Pembangunan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Solsel, Mario Syahjohan Minta UU TPKS Ditegakkan Solsel, Javanusa—Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Solok Selatan (Solsel) mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Mario Syahjohan. Mario meminta seluruh pihak memperkuat pencegahan dan memastikan setiap laporan kekerasan mendapat penanganan sesuai ketentuan hukum. Menurutnya, dampak kekerasan tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan korban. Sebagai putra daerah Solok Selatan, Mario menilai masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Ia juga mengingatkan agar kasus kekerasan tidak dianggap sebagai persoalan keluarga yang dapat diselesaikan begitu saja melalui perdamaian. “Kekerasan seksual merupakan tindak pidana serius. Karena itu, setiap kasus harus ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai persoalan seperti ini dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup diselesaikan dengan perdamaian semata,” tegas Mario, Jumat (2/10/2026). Mario Tekankan Penegakan UU TPKS Mario mengatakan aparat dan pihak terkait perlu menggunakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS sebagai dasar penanganan. Undang-undang tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan seksual. Di antaranya pelecehan seksual nonfisik dan fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Namun, Mario menegaskan penanganan perkara tidak cukup hanya mengejar pertanggungjawaban pelaku. Negara dan seluruh pihak terkait juga harus memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan. “Yang harus kita pikirkan bukan hanya bagaimana menghukum pelaku, tetapi juga bagaimana memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak tanpa stigma,” ujarnya. Perdamaian Jangan Mengorbankan Hak Korban Mario turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perdamaian sebagai jalan pintas dalam perkara kekerasan seksual. Terlebih jika korban merupakan anak, proses penyelesaian harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan hak korban. Ia menilai tekanan untuk menjaga nama baik keluarga tidak boleh mengorbankan kepentingan anak. Korban juga tidak seharusnya menanggung beban untuk menyelesaikan persoalan yang dilakukan oleh orang dewasa. “Jangan sampai demi menjaga nama baik keluarga atau alasan lainnya, hak dan keselamatan korban justru dikorbankan. Anak adalah pihak yang harus kita lindungi, bukan pihak yang harus dibebani untuk menyelesaikan persoalan orang dewasa,” katanya. Selain itu, Mario meminta masyarakat berhati-hati terhadap pemberian uang atau imbalan yang berkaitan dengan upaya memengaruhi proses penegakan hukum. Menurutnya, penyelesaian setiap perkara harus berjalan dalam koridor peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk memastikan hak korban tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ancaman terhadap Anak Perlu Menjadi Evaluasi Mario juga menyoroti persoalan lain berupa ancaman pembunuhan dan tindakan penyerangan yang dilakukan orang dewasa hingga memasuki pekarangan rumah. Peristiwa tersebut menyasar anak dan pada akhirnya diselesaikan melalui jalan damai. Ia menilai kejadian seperti itu perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut Mario, lingkungan tempat anak tumbuh harus menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. “Ketika yang menjadi korban adalah anak, maka keselamatan dan masa depannya harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan karena merasa lingkungan di sekitarnya tidak memberikan rasa aman,” ujarnya. Perlindungan Perempuan dan Anak Tanggung Jawab Bersama Mario yang telah dua periode menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat menegaskan perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. “Keamanan dan perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, sementara masyarakat harus membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi kekerasan,” katanya. Karena itu, Mario mendorong Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat program pencegahan kekerasan. Edukasi masyarakat, pendampingan korban serta sistem pelaporan yang mudah diakses juga perlu diperkuat. Ia berharap sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, korban dan keluarga tidak merasa takut ketika hendak melaporkan kekerasan yang mereka alami. Dorong Solok Selatan Jadi Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak Mario berharap keberhasilan pembangunan Solok Selatan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan daerah menciptakan ruang hidup yang aman bagi perempuan dan anak juga harus menjadi indikator penting. “Mari kita jadikan Solok Selatan bukan hanya daerah yang maju pembangunannya, tetapi juga kabupaten yang ramah, aman dan memberikan rasa nyaman bagi perempuan dan anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, dan tidak boleh ada anak yang merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan,” pungkasnya. Menurut Mario, cita-cita menjadikan Solok Selatan sebagai Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak membutuhkan komitmen lintas sektor. Penguatan keluarga, edukasi masyarakat, keberanian melapor, pendampingan korban dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan. “Melindungi perempuan dan anak bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga investasi moral untuk memastikan generasi Solok Selatan tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat dan penuh kasih,” tutup Mario Syahjohan. (*)

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Muhidi Dorong Sekolah Ramah Anak Perkuat Perlindungan dan Hak Pelajar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila di HUT ke-81 Sumbar

Berita Terbaru