Agam, Javanusa—Minangkabau, Sumatera Barat, menyimpan beragam tradisi dan kesenian unik yang menjadi warisan bangsa. Keindahan dan kekayaan budaya ini berpotensi mendukung serta melengkapi kesenian lain di Indonesia.
Namun, perkembangan zaman membuat generasi muda mulai acuh terhadap kebudayaannya. Salah satu tradisi yang kini terancam adalah Tupai Janjang, pertunjukan Bakaba (bercerita) dari Silungkang, Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.
Tradisi ini memiliki makna mendalam dalam kehidupan sosial dan telah mendapat apresiasi hingga tingkat internasional.
Kisah di Balik Tupai Janjang
Amril Sutan Caniago, maestro Tupai Janjang asal Palembayan, menceritakan kisah legendaris Puti Silinduang Bulan dan Datuk Bandaro dari Kampung Pakudoran, yang dikutip Dinas Kebudayaan Sumbar.
Pasangan ini telah menikah selama 10 tahun namun belum dikaruniai anak. Suatu hari, mereka menempuh perjalanan menuju ladang kopi di Tabek Talao, melewati Lumbuak Batu, Kampung Pinang, Kampung Lansek, hingga Gunung Sago dan Kayu Ampek.
Di kebun kopi, Puti Silinduang Bulan melihat seekor tupai melompat di atas kayu. “Datuak, apa nama binatang itu?” tanyanya. Datuk Bandaro pun bertanya pada Bujang Salamaik, yang menjawab, “Itu tupai janjang, saya bermain setiap hari dan sangat menyenangkan.”
Puti Silinduang Bulan kemudian berujar, “Kalau kita mendapatkan anak seperti tupai janjang, betapa senangnya hati kita. “Datuk Bandaro menimpali, “Niat kita sama, marilah kita pulang dan menuju musala Inyiak,” begitu yang ditirukan Amril Sutan.
Perkembangan dan Ciri Khas Pertunjukan
Tupai Janjang awalnya berkembang dari kebiasaan mendongeng orang tua kepada anak sebagai media pendidikan moral. Menurut Gayatri (dalam Efendi, 2011:103), kesenian ini dulu menjadi bagian dari pertunjukan Randai saat waktu istirahat.
Kini, Tupai Janjang telah menjadi pertunjukan mandiri dengan ciri khas:
- Penutur Tunggal
Pertunjukan dibawakan oleh satu orang yang memerankan seluruh tokoh.
- Gerakan Silat
Setiap tokoh diperankan dengan gerakan menyerupai seni bela diri silat Minangkabau.
- Dendang
Penutur menyanyikan nyanyian khas untuk mengiringi atau menggambarkan suasana.
- Sastra Lisan
Cerita diwariskan dari mulut ke mulut tanpa naskah tertulis.
Upaya Pelestarian
Selain sebagai hiburan tradisional dalam acara adat, Tupai Janjang berfungsi sebagai sarana pendidikan moral dan media pewarisan budaya.
Seni ini menampilkan kekayaan sastra lisan Minangkabau dalam bentuk teater rakyat tutur.
Meski pertunjukan ini jarang ditemui saat ini, upaya pelestarian tetap penting agar generasi mendatang mengenal dan menghargai kekayaan budaya Minangkabau. (*/red)






