Jakarta, Javanusa—Pemerintah mencatat penguatan signifikan stok beras nasional pada awal 2026. Hingga akhir Januari, cadangan beras mencapai sekitar 3,5 juta ton dan diproyeksikan terus meningkat seiring panen raya serta tren kenaikan produksi nasional.
Data tersebut disampaikan Andi Amran Sulaiman saat memimpin Rapat Koordinasi Nasional (Rakor) Pertanian di Auditorium Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (24/2/2026).
Menteri Pertanian menjelaskan, pengadaan beras pada Januari 2026 meningkat 78 persen dibandingkan periode sebelumnya. Produksi beras nasional juga menunjukkan tren kenaikan sekitar 15 persen hingga Maret 2026.
Berdasarkan proyeksi tersebut, stok beras nasional berpotensi menembus 6 juta ton dalam tiga bulan ke depan apabila tren produksi bertahan. Jika konsistensi produksi berlanjut hingga akhir tahun, surplus beras diperkirakan dapat mencapai sekitar 9 juta ton.
Penjajakan Ekspor ke Sejumlah Negara
Dengan proyeksi surplus yang kuat, pemerintah mulai menjajaki peluang ekspor beras ke sejumlah negara, antara lain Filipina, Malaysia, Arab Saudi, dan Papua Nugini.
Ekspor direncanakan dilakukan secara bertahap, termasuk opsi pengiriman langsung dari wilayah Indonesia bagian timur menuju Papua Nugini.
Menteri Pertanian menegaskan, keberlanjutan swasembada beras tidak hanya bergantung pada hasil panen jangka pendek. Pemerintah memperkuat fondasi produksi melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan (oplah).
Pada 2025, realisasi cetak sawah tercatat sekitar 200 ribu hektare. Tahun 2026, pemerintah menargetkan perluasan hingga 250 ribu hektare. Sementara itu, program oplah telah berjalan di ratusan ribu hektare dalam dua hingga tiga tahun terakhir.
Fokus Komoditas Strategis Lainnya
Selain beras, pemerintah mencatat terdapat sembilan komoditas yang telah mencapai swasembada. Dua komoditas yang masih menjadi perhatian adalah kedelai dan bawang putih.
Untuk gula, pemerintah menargetkan swasembada gula konsumsi tercapai pada 2026. Sementara swasembada gula industri diproyeksikan menyusul dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Rakor Nasional Pertanian diikuti oleh Wakil Menteri Pertanian, jajaran Eselon I dan II, serta Kepala Dinas Pertanian provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia. Pemerintah pusat meminta seluruh daerah menjaga konsistensi produksi, mempercepat program strategis, dan memastikan pengawasan berjalan efektif guna mempertahankan surplus beras nasional. (*/red)






