Bengkulu, Javanusa—Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan kembali makna motto “Ikhlas Beramal” dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bengkulu, Jumat (24/4/2026).
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan langsung pesan tersebut di hadapan aparatur sipil negara.
Ia menekankan bahwa nilai “Ikhlas Beramal” harus menjadi fondasi kerja seluruh jajaran. Menurutnya, ikhlas bukan sekadar slogan, melainkan sikap kerja yang tidak bergantung pada pujian, popularitas, maupun kepentingan jabatan.
“Ikhlas itu bekerja tanpa perlu pengakuan. Tidak perlu diumumkan dan tidak perlu dipuji. Fokus pada tanggung jawab,” ujarnya.
Kerja Berdampak, Bukan Sekadar Rutinitas
Menag kemudian menjelaskan makna “beramal” dalam konteks kerja aparatur. Ia menegaskan bahwa amal bukan aktivitas rutin tanpa arah, tetapi kerja yang terukur dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Amal itu kerja yang punya perhitungan, ada input, output, dan outcome. Jadi bukan sekadar rutinitas,” jelasnya.
Dengan demikian, setiap program dan kegiatan harus memiliki hasil yang jelas serta manfaat langsung bagi publik.
Integritas dan Ancaman Gratifikasi
Selain itu, Menag mengingatkan pentingnya menjaga integritas dalam menjalankan tugas. Ia menyoroti praktik gratifikasi yang sering dianggap sepele, padahal berpotensi merusak kepercayaan publik.
“Gratifikasi jangan dianggap biasa. Justru dari situlah integritas kita diuji,” katanya.
Ia meminta seluruh ASN tetap konsisten menjaga nilai moral dalam setiap aspek pekerjaan.
Tantangan Era Digital dan Disrupsi Informasi
Di sisi lain, Menag menilai arus digital membawa tantangan baru bagi aparatur. Perkembangan teknologi memicu perubahan cepat dan berlapis yang dikenal sebagai multiple shock.
Kondisi ini sering menciptakan jarak antara nilai normatif dan realitas di lapangan. Bahkan, arus informasi yang tidak terkendali dapat memicu distorsi kebenaran.
“Kementerian Agama harus hadir untuk mendekatkan jarak antara teks dan konteks itu. Kadang yang salah terlihat benar, dan yang benar justru disalahpahami,” tegasnya.
Jangan Lengah dengan Capaian
Menag juga mengapresiasi capaian Kementerian Agama dalam dua tahun terakhir. Meski begitu, ia mengingatkan agar keberhasilan tersebut tidak membuat jajaran menjadi lengah.
“Jangan sampai berita baik membuat kita lengah. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan harus lebih berdampak bagi umat,” tandasnya.
Ia menutup dengan ajakan agar seluruh aparatur terus meningkatkan kinerja dan menjaga nilai ikhlas serta integritas dalam setiap tugas. (*/red)






