Agam, Javanusa—Pemerintah mempercepat pemulihan lahan pertanian terdampak bencana sekaligus mengantisipasi kekeringan melalui Gerakan Tanam Serempak 50.000 hektare.
Program ini berlangsung di berbagai daerah secara nasional, termasuk Sumatera Barat.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, turun langsung menanam padi pada kegiatan yang dipusatkan di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Kamis (30/4/2026).
Program nasional tersebut berlangsung serentak di 25 provinsi. Pemerintah menjadikannya sebagai strategi menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman kekeringan dalam beberapa bulan ke depan.
Ribuan Hektare Sawah Mulai Pulih
Mahyeldi menyebut Sumbar terdampak besar akibat bencana hidrometeorologi.
Ribuan hektare sawah mengalami kerusakan sehingga pemerintah mempercepat rehabilitasi dan penanaman kembali.
“Yang terdampak di Sumatera Barat lebih kurang 7.000 hektare. Untuk kategori ringan dan sedang sekitar 3.902 hektare. Alhamdulillah rehabilitasi sudah mencapai sekitar 62 persen dan yang sudah ditanami hampir 50 persen,” ujar Mahyeldi.
Ia menegaskan percepatan tanam terus dilakukan agar lahan yang telah dipulihkan segera kembali produktif.
“Penanaman kembali lahan yang telah dipulihkan harus cepat, supaya ketersediaan pangan, khususnya beras tetap aman,” katanya.
Pemetaan Wilayah Rawan Kekeringan
Selain mempercepat tanam, pemerintah daerah juga mengantisipasi kekeringan. Langkah ini dilakukan dengan memetakan wilayah rawan agar musim tanam tidak terganggu.
“Arahan Pak Sekjen segera kita tindak lanjuti supaya pada Agustus nanti tidak terdampak kekeringan dan kita bisa panen tepat waktu,” ujarnya.
Melalui langkah tersebut, Sumbar diharapkan mampu mendukung target swasembada pangan nasional dengan optimalisasi lahan produktif.
Peran Kementerian Pertanian dan Target Nasional
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, memimpin langsung pelaksanaan gerakan tanam di Kabupaten Agam.
Ia menjelaskan total 50.000 hektare lahan terdiri dari 5.000 hektare Cetak Sawah Rakyat (CSR), 43.000 hektare Optimasi Lahan (Oplah), serta lahan terdampak bencana di Sumbar yang telah direhabilitasi.
“Lahan yang sudah siap tanam harus segera ditanami. Tidak boleh menunggu terlalu lama karena nanti kembali ditumbuhi semak dan tidak produktif,” tegasnya.
Menurutnya, percepatan tanam menjadi strategi penting untuk menjaga produksi pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Tantangan di Lapangan dan Solusi Daerah
Bupati Agam, Benni Warlis, menyebut pemulihan sawah terdampak bencana di daerahnya masih menghadapi tantangan. Ancaman longsor susulan menjadi kendala utama.
Dari sekitar 1.700 hektare lahan terdampak, sebagian telah ditanami dan kini memasuki usia tanam sekitar satu bulan. Pemerintah menjalankan rehabilitasi melalui pola padat karya.
“Dana bantuan langsung masuk ke rekening kelompok tani. Mereka mengelola sendiri, termasuk menyewa alat. Jadi perputaran ekonomi langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Namun, sedimentasi dari perbukitan saat hujan deras masih berpotensi menimbun sawah yang telah diperbaiki.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Agam mengusulkan tambahan alat berat, khususnya ekskavator mini, agar penanganan berlangsung cepat dan kerusakan tidak meluas. (*/adpsb)






