Jakarta, Javanusa—Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mendorong pertumbuhan ekonomi melalui efek berganda dari aktivitas komunitas hobi.
Ia menilai segmen komunitas hobi yang bersifat niche menyimpan potensi ekonomi yang besar. Aktivitas hobi yang terus berkembang dapat menciptakan nilai ekonomi baru, termasuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menteri yang akrab disapa Mendag Busan menyampaikan hal tersebut saat membuka “Festival Lomba Burung Berkicau dan Kuliner UMKM” pada Minggu (3/5) di lapangan parkir kantor Kementerian Perdagangan.
Komunitas Burung Kicau Kemendag (Kemendag Bird Club) bersama Pelestari Burung Indonesia (PBI) menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Efek Berganda dari Ekosistem Burung Kicau
Mendag Busan menjelaskan, peningkatan aktivitas lomba burung berkicau akan menggerakkan berbagai sektor ekonomi secara bersamaan.
Peternak burung, perajin sangkar, produsen pakan, hingga peternak jangkrik akan ikut berkembang. Para pedagang burung juga berpotensi meningkatkan pendapatan seiring tingginya minat masyarakat.
Ia menegaskan pemerintah mendorong peningkatan nilai ekonomi dari berbagai komunitas hobi, termasuk komunitas burung kicau. Menurutnya, aktivitas tersebut mampu menciptakan rantai ekonomi yang luas dan berkelanjutan.
Dorong Pelestarian melalui Burung Ternak
Mendag Busan juga menekankan burung yang dilombakan berasal dari hasil penangkaran, bukan dari alam liar. Ia mengajak masyarakat menjaga kelestarian lingkungan melalui praktik tersebut. Dengan demikian, kegiatan hobi tetap berjalan tanpa merusak ekosistem.
Nilai ekonomi dari perdagangan burung hias dan ekosistemnya terus menunjukkan tren positif. Di dalam negeri, perputaran ekonomi dari sektor ini mencapai Rp1,7 hingga Rp2 triliun per tahun.
Aktivitas ekonomi tersebut mencakup penangkaran, produksi pakan, suplemen, aksesori, jasa pelatihan, hingga perawatan.
Sementara itu, nilai ekspor burung hias pada 2025 mencapai sekitar Rp12,5 miliar. Angka tersebut meningkat sekitar 237,5 persen dibandingkan tahun 2024. Kenaikan ini menunjukkan permintaan burung hias asal Indonesia terus berkembang di pasar global.
UMKM Ikut Tumbuh dalam Festival
Selain membuka lomba, Mendag Busan meninjau langsung tenda-tenda UMKM yang berpartisipasi dalam festival. Para pelaku usaha kuliner menawarkan berbagai makanan, termasuk hidangan khas daerah dan minuman segar.
Di sisi lain, tersedia juga produk pendukung bagi pencinta burung seperti kandang dan pakan berkualitas. Kehadiran produk tersebut memperkuat keterkaitan antara komunitas hobi dan pertumbuhan UMKM.
Komunitas Dorong Pelestarian dan Promosi Produk
Ketua Umum PBI Pusat, Bagiya Rahmadi, menjelaskan bahwa aktivitas komunitas burung kicau tidak hanya berfokus pada jual beli dan kompetisi. PBI juga aktif dalam pelestarian dengan membina para penangkar burung di berbagai daerah.
Ia menilai lomba burung dapat menjadi sarana memperkenalkan produk hasil penangkaran kepada masyarakat luas. Selain itu, kegiatan tersebut juga mampu menciptakan dampak ekonomi yang berlipat.
Antusiasme Peserta Lomba
Salah satu peserta, Ismanto, mengikuti lomba dengan membawa murai batu medan miliknya. Ia memilih jenis burung tersebut karena memiliki variasi suara yang beragam dan durasi kicauan yang panjang. Burung itu juga mampu menirukan suara burung lain dengan baik.
Ismanto mengapresiasi penyelenggaraan lomba karena dapat memperkenalkan hobi ini kepada masyarakat luas. Ia menilai kegiatan tersebut akan mendorong peningkatan nilai ekonomi, termasuk bagi pelaku UMKM. Menurutnya, masyarakat juga dapat mengenal berbagai produk lokal seperti kandang burung dari Jepara dan Solo. (*/red)






