Jakarta, Javanusa—Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menegaskan komitmennya dalam memperluas edukasi lingkungan hidup. Langkah ini sekaligus memperkuat upaya menjaga ekosistem mangrove.
Pemerintah meluncurkan Program KELANA (Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda). Bersamaan dengan itu, dilakukan screening video dokumenter “Menjaga Akar Negeri: Mangrove Indonesia untuk Dunia”.
Peluncuran ini berlangsung di Jakarta pada 13 Mei 2026. Program tersebut menjadi bagian dari penguatan partisipasi publik dalam isu lingkungan.
Generasi Muda Jadi Motor Perubahan Lingkungan
Menteri LH/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat menegaskan bahwa KELANA membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.
“Kita baru saja meluncurkan program KELANA, dan ini menjadi kebahagiaan bagi kita karena diinisiasi pemerintah dan berkolaborasi dengan anak-anak muda. Isu lingkungan ini memang tidak bisa dilepaskan dari peran generasi muda, sehingga kita harus mampu memfasilitasi ruang-ruang partisipasi mereka secara lebih luas,” ujar Menteri Jumhur.
Program ini mendorong mahasiswa dan pelajar untuk terjun langsung ke lapangan. Mereka juga berinteraksi dengan masyarakat dan mengolah pengalaman menjadi narasi edukatif.
KELANA Dorong Literasi dan Aksi Nyata di Lapangan
Program KELANA dirancang sebagai platform pembelajaran lintas isu lingkungan. Melalui program ini, peserta tidak hanya belajar teori.
Mereka juga mengalami langsung kondisi lingkungan di lapangan. Hasil pengalaman tersebut kemudian dikemas menjadi konten yang membangun kesadaran publik.
Peran Digital Ambassador dan Isu Eco-Anxiety
KELANA juga melahirkan generasi muda sebagai digital ambassadors. Mereka dituntut menyampaikan isu lingkungan secara kreatif dan relevan.
Pendekatan ini penting untuk menjawab eco-anxiety di kalangan anak muda. Kekhawatiran tersebut diarahkan menjadi aksi nyata berbasis pengalaman langsung.
Antusiasme Peserta KELANA Episode 1
Puteri Indonesia Lingkungan 2024 Sophie Kirana ikut mendampingi peserta KELANA Episode 1 di Jambi. Peserta mempelajari ekosistem gambut dan mangrove secara langsung di lapangan.
“Saya bangga sekali dengan teman-teman KELANA Episode 1. Antusiasme mereka luar biasa untuk turun langsung ke lapangan mengenali lingkungan. Program ini menjadi salah satu cara bagi teman-teman yang terlibat bersama Kementerian Lingkungan Hidup untuk menyosialisasikan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan dari generasi muda. Harapannya, ini bisa menjadi budaya untuk terus menjaga lingkungan,” ungkap Sophie.
Dokumenter Mangrove Indonesia dan Kolaborasi Global
Selain program KELANA, KLH/BPLH juga merilis dokumenter “Menjaga Akar Negeri: Mangrove Indonesia untuk Dunia”.
Dokumenter ini diproduksi bersama National Geographic Indonesia. Karya ini menampilkan kehidupan masyarakat pesisir di Tarakan, Kalimantan Utara, dan Palu, Sulawesi Tengah.
Editorial Team National Geographic Indonesia, Viennanda Nur Ikhwalfi, menilai dokumenter ini menunjukkan praktik nyata pelestarian lingkungan.
“Ini adalah contoh besar upaya keberpihakan manusia kepada alam. Harapannya, praktik ini bisa dicontoh dan diaplikasikan oleh seluruh masyarakat yang tinggal di pesisir Indonesia, sehingga mangrove dapat menjadi benteng awal kita untuk menjaga hamparan laut yang cukup luas,” Jelas Viennanda.
Mangrove Indonesia Jadi Benteng Ekologi Dunia
Indonesia memiliki ekosistem mangrove seluas 3,45 juta hektare. Luasan ini setara sekitar 23 persen mangrove dunia. Mangrove berfungsi melindungi garis pantai dari abrasi. Ekosistem ini juga menjadi habitat keanekaragaman hayati.
Selain itu, mangrove berperan sebagai penyerap karbon. Fungsi ini penting dalam pengendalian perubahan iklim global.
“Akar mangrove adalah simbol ketangguhan Indonesia. Hari ini, kita berkumpul untuk memastikan bahwa akar-akar tersebut tetap kokoh, tidak hanya melalui kebijakan di atas kertas, tetapi melalui kolaborasi nyata antara data, teknologi, dan semangat kemanusiaan,” tegas Menteri Jumhur.
Penguatan Kebijakan Perlindungan Mangrove Nasional
Upaya perlindungan mangrove diperkuat melalui regulasi nasional. Salah satunya Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025.
Regulasi ini mengatur perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove. Selain itu, pemerintah juga menetapkan Peta Mangrove Nasional 2025. Peta ini menjadi rujukan data tunggal dalam pengelolaan ekosistem mangrove di Indonesia.
KLH/BPLH berharap Program KELANA dan pemutaran dokumenter ini menjadi momentum penting. Gerakan lingkungan diharapkan melibatkan generasi muda secara aktif.
Kolaborasi ini ditargetkan berkelanjutan. Tujuannya untuk memperkuat kesadaran dan aksi nyata menjaga lingkungan Indonesia. (*/red)






