Magelang, Javanusa—Ribuan umat Buddha, masyarakat umum, dan wisatawan memadati jalur kirab Perayaan Tri Suci Waisak 2570 B.E. tahun 2026.
Prosesi yang membentang dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur itu mengarak Api Dharma dari Mrapen dan Air Berkah dari Umbul Jumprit, dua simbol penting dalam ritual Waisak.
Sebelum kirab berlangsung, umat menyemayamkan Api Dharma dari Mrapen, Grobogan, serta Air Berkah dari Umbul Jumprit, Temanggung, di Candi Mendut. Setelah itu, rombongan membawa keduanya menuju Candi Borobudur sebagai bagian dari rangkaian puncak perayaan Waisak.
Prosesi Kirab Menuju Borobudur
Prosesi kirab dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dari kompleks Candi Mendut. Barisan terdepan membawa bendera, kemudian disusul kendaraan pembawa Api Dharma dan Air Berkah, tandu Garuda Pancasila, Barisan Bhinneka Tunggal Ika, tandu Kitab Suci Tripitaka, serta rombongan pembawa hasil bumi.
Deretan payung warna-warni yang mengiringi para Bhikkhu Sangha menambah semarak perjalanan menuju Candi Borobudur. Suasana khidmat berpadu dengan kemeriahan budaya yang menjadi ciri khas perayaan Waisak di Indonesia.
Selanjutnya, para bhikkhu menempati kendaraan hias sambil melantunkan doa dan paritta. Sepanjang perjalanan, mereka juga memercikkan air berkah kepada umat yang menyambut di tepi jalan. Banyak umat tampak antusias mendekat untuk menerima percikan air berkah tersebut.
Rombongan kirab yang membentang hingga sekitar tiga kilometer itu turut melibatkan perwakilan majelis-majelis Buddha, organisasi keagamaan, serta umat dan simpatisan dari berbagai daerah di Indonesia.
Kemeriahan kirab tidak hanya dirasakan umat Buddha. Ribuan warga dan wisatawan juga memadati kawasan Mendut hingga Borobudur untuk menyaksikan prosesi yang telah menjadi tradisi tahunan tersebut.
Sejumlah wisatawan mancanegara bahkan tampak mengikuti perjalanan kirab hingga mencapai kawasan Candi Borobudur.
Harapan Umat dan Warga
Umat Buddha asal Kota Tangerang yang juga Anggota DPRD Kota Tangerang, Christian Lois, menilai kirab Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur merupakan tradisi yang perlu terus dilestarikan. Menurutnya, tradisi tersebut mencerminkan nilai spiritualitas, budaya, sekaligus toleransi yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia.
“Kirab Waisak ini bukan hanya tradisi keagamaan umat Buddha, tetapi juga simbol kebersamaan dan toleransi. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus dijaga dan dilestarikan,” ujar Christian Lois di Magelang, Minggu (31/5/2026).
Menurut Lois, perayaan Waisak di Borobudur telah berkembang menjadi pusat spiritual umat Buddha sekaligus daya tarik budaya yang dikenal dunia. Ia berharap momentum Waisak membawa berkah, kedamaian, dan kebahagiaan bagi seluruh masyarakat.
Sementara itu, Ulfa, warga Mungkid, Magelang, mengaku setiap tahun menyempatkan diri datang bersama keluarganya untuk menyaksikan kirab Waisak.
“Saya bersama keluarga sejak pagi menunggu di sini untuk melihat arak-arakan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur. Setiap tahun selalu menarik untuk disaksikan dan menjadi hiburan bagi masyarakat,” kata Ulfa.
Bagi warga sekitar, kirab Waisak bukan sekadar agenda keagamaan. Tradisi ini juga menjadi peristiwa budaya yang mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus menghidupkan suasana kawasan Borobudur setiap tahunnya. (*/red)






