Javanusa.com—Harapan Belanda melangkah lebih jauh di Piala Dunia FIFA 2026 berakhir secara dramatis setelah kalah dari Maroko melalui adu penalti.
Bek Oranje, Jan Paul van Hecke, mengaku sangat terpukul karena mimpi membawa negaranya menjadi juara dunia harus kandas di babak gugur.
Belanda sebenarnya tampil meyakinkan sepanjang fase grup. Tim besutan Ronald Koeman melaju ke babak gugur sebagai juara Grup F setelah mencetak 10 gol dalam tiga pertandingan dan masuk daftar unggulan turnamen.
Namun, perjalanan itu berhenti secara menyakitkan saat menghadapi Maroko, tim yang sebelumnya mencatat sejarah dengan finis di peringkat keempat Piala Dunia Qatar 2022.
Oranje sempat berada di ambang kemenangan setelah Cody Gakpo membawa timnya unggul 1-0. Akan tetapi, Maroko berhasil mencetak gol penyama kedudukan pada menit-menit akhir waktu tambahan sehingga pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan dan akhirnya ditentukan melalui adu penalti.
“Saya merasa benar-benar hampa setelah tersingkir ini,” kata Van Hecke kepada FIFA.
“Saya sangat kecewa karena kami tidak lolos ke babak selanjutnya. Impian kami adalah memenangkan Piala Dunia, jadi saat ini sangat menyakitkan melihat semuanya sirna,” tambahnya.
Belanda Tampil Baik, tetapi Kehabisan Tenaga
Van Hecke menilai Belanda mengawali pertandingan dengan performa yang solid. Menurutnya, tim mampu menciptakan sejumlah peluang berbahaya pada babak pertama.
Meski demikian, ia mengakui Belanda memilih bermain lebih bertahan setelah jeda. Strategi itu memberi Maroko kesempatan menguasai bola lebih lama meski lawan tidak banyak menciptakan peluang bersih.
“Saya pikir kami memiliki babak pertama yang bagus dan menciptakan beberapa peluang emas. Di babak kedua, mungkin kami sedikit terlalu bertahan. Tapi saya rasa Maroko tidak menciptakan banyak peluang. Mereka memiliki penguasaan bola lebih banyak daripada kami, tetapi hanya itu saja,” kata Van Hecke.
Memasuki babak tambahan, kondisi fisik pemain Belanda mulai menurun. Situasi tersebut membuat Oranje lebih mengandalkan serangan balik untuk mencari peluang.
“Kami kehabisan energi menjelang akhir pertandingan,” ujar Van Hecke.
“Itulah mengapa kami mencoba bermain dengan serangan balik untuk menciptakan peluang. Kami sudah mencetak gol pembuka, jadi sangat sulit untuk kebobolan gol penyama di waktu tambahan. Dan kemudian menjadi lebih menyakitkan ketika Anda kalah dalam adu penalty,” katanya.
Luka Lama Adu Penalti Kembali Terulang
Kegagalan ini mengingatkan publik Belanda pada Piala Dunia Qatar 2022. Saat itu, Oranje juga harus mengakhiri perjalanan setelah kalah adu penalti dari Argentina, ketika Emiliano Martínez tampil gemilang di bawah mistar.
Sebelum menghadapi Maroko, Ronald Koeman mengungkapkan timnya telah mempersiapkan adu penalti.
Namun, ia menilai tekanan psikologis dalam pertandingan sesungguhnya tidak pernah bisa sepenuhnya disimulasikan di sesi latihan.
Koeman juga menyoroti semakin cerdiknya para kiper dalam mengganggu konsentrasi eksekutor penalti.
Meski kembali kalah lewat adu penalti, Van Hecke tidak ingin mencari kambing hitam. Menurutnya, hasil tersebut merupakan bagian dari sepak bola.
“Saya rasa tidak banyak yang bisa dikatakan tentang penalti. Itu bagian dari sepak bola. Hari ini, keberuntungan tidak berpihak pada kami. Sampai batas tertentu, hanya itu yang terjadi, dan hari ini kami tidak beruntung,” pungkasnya. (*/red)






