Padang, Javanusa—Pemerintah Kota (Pemko) Padang resmi meluncurkan Program Padang Mandiri Benih Padi sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mewujudkan kemandirian benih melalui pemberdayaan penangkar lokal.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, meluncurkan program yang menjadi bagian dari Program Unggulan (Progul) Padang Melayani tersebut di areal persawahan Kelompok Tani Desa Baru, Kelurahan Air Pacah, Kecamatan Koto Tangah, Jumat (3/7/2026).
Peluncuran program dirangkai dengan penyerahan bantuan benih padi bersertifikat kepada sejumlah kelompok tani.
Kegiatan itu turut dihadiri Tokoh Pertanian Sumatera Barat Prof. James Hellyward, perwakilan Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), perwakilan Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, perwakilan UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi Sumatera Barat, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Padang Didi Aryadi, Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Yoice Yuliani, sejumlah kepala OPD, Camat Koto Tangah Rio Ebu Pratama, serta kelompok tani penerima bantuan.
Perkuat Ketahanan Pangan dan Penangkar Lokal
Fadly Amran menegaskan sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan Kota Padang. Luas baku sawah yang mencapai 4.358 hektare membutuhkan dukungan benih unggul untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani dan penangkar benih.
Ia mengungkapkan, pada 2026 Pemko Padang melalui Dinas Pertanian menyalurkan 14,37 ton benih padi bersertifikat kepada 29 kelompok tani di enam kecamatan.
Keenam kecamatan tersebut meliputi Koto Tangah, Kuranji, Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan, Pauh, dan Bungus Teluk Kabung.
Bantuan itu ditargetkan memenuhi kebutuhan benih bagi 575 hektare lahan sawah di Kota Padang. Program tersebut juga mendukung Asta Cita Presiden RI dalam mewujudkan swasembada pangan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Fadly Amran juga menekankan pentingnya menjaga keberadaan lahan pertanian dari alih fungsi. Di sisi lain, pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi, peningkatan mutu benih, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, keberhasilan program ini bergantung pada sinergi pemerintah, penyuluh pertanian, kelompok tani, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat.
Mengakhiri sambutannya, Fadly Amran berharap sektor pertanian mampu menarik minat generasi muda melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi.
Ia menilai kehadiran petani milenial menjadi salah satu kunci keberlanjutan pembangunan pertanian di Kota Padang tanpa mengorbankan lahan pertanian akibat perkembangan investasi.
“Melalui Program Padang Mandiri Benih Padi, kita ingin mengurangi ketergantungan terhadap benih dari luar daerah sekaligus memperkuat kapasitas penangkar benih lokal. Manfaat ekonominya tidak hanya dirasakan petani pengguna benih, tetapi juga kelompok penangkar yang memproduksinya,” kata Fadly Amran.
Melalui mekanisme off take yang didukung APBD Kota Padang tahun 2026, hasil produksi penangkar benih akan terserap secara berkelanjutan. Dengan demikian, tercipta siklus yang saling menguntungkan, di mana penangkar memperoleh kepastian pemasaran. Sementara kelompok tani mendapatkan benih unggul yang sesuai dengan kondisi lahan sawah di Kota Padang.
“Yang harus kita dorong bukan hanya penyediaan benih, tetapi juga teknologi pertanian, peningkatan mutu, dan kolaborasi semua pihak. Dengan lahan yang terbatas, kita ingin hasil pertanian terus meningkat sehingga semakin menyejahterakan petani,” tutur Fadly Amran.
Target Seluruh Sawah Gunakan Benih Bersertifikat pada 2029
Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani, menjelaskan Program Padang Mandiri Benih Padi merupakan implementasi RPJMD Kota Padang 2025–2030.
Program tersebut hadir sebagai respons atas berkurangnya luas baku sawah di Kota Padang dari 5.216 hektare pada 2019 menjadi 4.358 hektare pada 2024. Selain itu, penggunaan benih yang belum bersertifikat di kalangan petani masih tergolong tinggi.
Yoice mengatakan, melalui program ini Pemko Padang menargetkan seluruh kebutuhan benih padi bersertifikat dipenuhi oleh penangkar lokal.
Program tersebut akan berlanjut hingga 2030. Pemko Padang menargetkan seluruh lahan sawah di Kota Padang telah menggunakan benih padi bersertifikat hasil produksi penangkar lokal pada 2029.
“Kita berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas produksi penangkar, memperluas kelompok tani penerima manfaat, serta memperkuat dukungan anggaran agar kemandirian benih padi di Kota Padang dapat terwujud secara berkelanjutan,” ujar Yoice Yuliani. (*/red)






