Javanusa.com—Banyak orang mengira telur rebus lebih tahan lama dibandingkan telur mentah karena sudah melalui proses pemasakan.
Faktanya, telur rebus tetap bisa basi jika disimpan dengan cara yang kurang tepat. Mengenali tanda-tanda kerusakan dan menerapkan penyimpanan yang benar menjadi langkah penting untuk mencegah risiko keracunan makanan.
Telur Rebus Tetap Bisa Basi Meski Sudah Matang
Telur rebus menjadi salah satu lauk praktis yang kaya protein dan mudah disiapkan dalam jumlah banyak. Namun, kematangan telur bukan jaminan makanan ini akan bertahan lebih lama.
Proses perebusan justru menghilangkan lapisan pelindung alami pada kulit telur. Akibatnya, telur lebih mudah terpapar udara, bakteri, maupun jamur apabila penyimpanannya tidak higienis atau terlalu lama berada di suhu ruang.
Karena itu, penting untuk memeriksa kondisi telur sebelum dikonsumsi, terutama jika sudah disimpan selama beberapa hari di dalam lemari pendingin.
Ciri-Ciri Telur Rebus yang Sudah Basi
Ada beberapa tanda yang menunjukkan telur rebus sudah tidak layak dikonsumsi.
1. Mengeluarkan Bau Menyengat
Bau busuk menjadi tanda paling mudah dikenali. Aroma menyengat menyerupai belerang bahkan dapat tercium meski cangkang telur masih utuh.
Jika bau tidak sedap muncul saat telur dikupas atau sebelum cangkang dipecahkan, sebaiknya segera buang telur tersebut.
2. Putih Telur Berlendir
Putih telur rebus yang masih segar memiliki tekstur padat dan sedikit kenyal. Sebaliknya, telur yang mulai rusak akan terasa licin, berlendir, atau bahkan berair saat disentuh.
Perubahan warna menjadi keabu-abuan atau kehijauan juga menjadi indikator bahwa proses pembusukan telah terjadi.
3. Kuning Telur Berubah Warna
Kuning telur segar umumnya berwarna kuning cerah dengan tekstur lembut. Ketika kualitasnya menurun, warnanya dapat berubah menjadi lebih gelap hingga kehitaman.
Selain itu, kuning telur bisa mengering, mengeras, atau terlepas dari bagian putihnya. Kemunculan bercak hitam juga menandakan telur sudah tidak aman untuk dimakan.
4. Muncul Jamur
Jamur dapat terlihat sebagai bercak hijau, biru, atau hitam pada cangkang maupun isi telur. Kondisi ini biasanya muncul akibat penyimpanan di wadah yang lembap atau tidak tertutup rapat.
Apabila jamur sudah terlihat, telur harus segera dibuang karena berisiko menyebabkan gangguan kesehatan.
Cara Menyimpan Telur Rebus agar Tidak Cepat Basi
Penyimpanan yang benar membantu mempertahankan kualitas telur rebus lebih lama. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
-
- Simpan telur rebus utuh di dalam wadah tertutup lalu letakkan di kulkas.
- Telur rebus yang masih bercangkang umumnya dapat bertahan hingga satu minggu dalam suhu dingin.
- Hindari membiarkan telur berada di luar kulkas lebih dari dua jam, terutama di daerah beriklim tropis.
- Kupas kulit telur hanya ketika akan dikonsumsi.
- Gunakan wadah yang bersih, kering, dan tertutup rapat.
- Pisahkan penyimpanan telur rebus dari daging atau ikan mentah untuk mengurangi risiko kontaminasi silang.
Meski disimpan di dalam kulkas, selalu periksa aroma, warna, dan teksturnya sebelum disantap.
Bahaya Mengonsumsi Telur Rebus Basi
Mengonsumsi telur rebus yang sudah rusak dapat meningkatkan risiko keracunan makanan. Beberapa gejala yang dapat muncul meliputi:
-
- Mual.
- Muntah.
- Diare.
- Nyeri atau kram perut.
- Demam.
Jika keluhan tersebut muncul setelah mengonsumsi telur rebus, segera periksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan yang sesuai.
Jangan Abaikan Tanda Kerusakan
Jadi, apakah telur rebus bisa basi? Jawabannya adalah ya. Cara penyimpanan menjadi faktor utama yang menentukan daya tahan telur rebus.
Sebelum mengonsumsinya, pastikan telur tidak mengalami perubahan aroma, warna, maupun tekstur. Apabila muncul keraguan terhadap kondisinya, lebih aman membuang telur tersebut daripada mengambil risiko terhadap kesehatan. (*/red)






