Iqbaal Ramadhan Rilis OST Operasi Pesta Copet, Lagu Kita Melawan Dunia Angkat Kisah Persahabatan

Penulis -

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Iqbaal Ramadhan rilis OST Film Operasi Pesta Copet. (Foto: IG @iqbaal.e)

Iqbaal Ramadhan rilis OST Film Operasi Pesta Copet. (Foto: IG @iqbaal.e)

Jakarta, Javausa—Aktor sekaligus musisi Iqbaal Ramadhan kembali meramaikan industri perfilman melalui film Operasi Pesta Copet.

Tak hanya tampil sebagai pemain dan produser, Iqbaal juga mempersembahkan original soundtrack (OST) bertajuk Kita Melawan Dunia yang mengangkat tema persahabatan di tengah kerasnya tekanan hidup.

Dalam proyek musik terbarunya, Iqbaal menggunakan nama panggung BAALE. Lewat identitas tersebut, ia menulis sekaligus memproduseri lagu Kita Melawan Dunia yang dibuat khusus untuk mengiringi perjalanan emosional film Operasi Pesta Copet.

Film produksi Imajinari itu mengikuti kisah sekelompok anak muda yang terdesak persoalan ekonomi hingga nekat menyusun aksi pencopetan saat festival musik terbesar di Indonesia, Pestapora.

Di balik konflik yang mereka hadapi, cerita film juga menonjolkan nilai persahabatan dan solidaritas sebagai kekuatan utama para tokohnya.

Lirik Terinspirasi Persahabatan Empat Tokoh

Iqbaal menjelaskan, proses penulisan lirik lagu tersebut turut melibatkan Andi “AWWE” Wijaya dari Podcast Seminggu. Selain membantu menulis lirik, AWWE juga berperan sebagai konsultan komedi dalam film tersebut.

“Lagu ini mencoba merangkum persahabatan keempat geng Operasi Pesta Copet di tengah kesulitan dan tuntutan hidup. Saat semua gagal, terkadang hanya ada persahabatan yang bisa menyelamatkan,” ujar Iqbaal Ramadhan.

Kita Melawan Dunia menjadi original soundtrack ketujuh yang dibawakan Iqbaal untuk sebuah film. Sebelumnya, ia terakhir mengisi OST film pada 2021.

Berawal dari Demo Lama Tahun 2025

Menariknya, lagu tersebut lahir dari materi yang sudah lama tersimpan. Iqbaal mengungkapkan progresi chord lagu berasal dari sebuah demo yang ia buat pada 2025 sebelum akhirnya dikembangkan menjadi soundtrack resmi Operasi Pesta Copet.

“Progresi chord-nya sendiri aku ambil dari salah satu demoku di tahun 2025. Senang banget akhirnya demo lamaku bisa membawa lagunya sampai sejauh ini,” ungkapnya.

Baca Juga :  Akbar Chalay dan Mingse Kembali Bawa Kisah Rindu Lewat Single “Kok Masih Rindu?”
Aransemen Hangat dengan Dominasi Gitar

Sejak awal proses produksi, Iqbaal ingin menghadirkan nuansa musik yang hangat dan ringan. Karena itu, ia menjadikan gitar sebagai instrumen utama untuk membangun karakter lagu.

Menurutnya, gitar selalu identik dengan momen berkumpul bersama teman, bernyanyi, dan berbagi cerita. Konsep tersebut kemudian menjadi fondasi dalam menyusun aransemen Kita Melawan Dunia.

“Kalau ngomongin tongkrongan, sudah pasti gitar mudah sekali ditemukan untuk dipakai genjrengan, nyanyi-nyanyi, dan bersantai bersama kawan. Bergerak dari ide itu, aku memutuskan untuk fokus mengembangkan lagunya dari gitar yang diaransemen sedemikian rupa agar tetap terasa ringan dan hangat untuk terus didengar,” jelas Iqbaal.

Meski mengusung aransemen sederhana, Iqbaal tetap mempertahankan warna pop yang selama ini melekat pada karya-karyanya.

“Genre sendiri tentu tetap pop. Jiwa dan ragaku ini kan pop dan aku bisanya bikin pop versi aku,” katanya.

Melalui perpaduan antara cerita film dan musik, Kita Melawan Dunia diharapkan mampu memperkuat emosi dalam Operasi Pesta Copet. Lagu tersebut tidak hanya menjadi pengiring cerita, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa persahabatan dapat menjadi kekuatan utama saat menghadapi berbagai tantangan hidup. (*)

Berita Terkait

Neona Rilis Lagu Fokus, Ajak Perempuan Berani Ungkapkan Perasaan Cinta
Alee Rilis Single Apa Kabarmu?, Angkat Rindu yang Kembali Setelah Perpisahan
BLINGOUTKID Rilis Single Freak Like Me, Kisah Keberanian Menjadi Diri Sendiri
satchi! Rilis All the Almost, Lagu Indie-Folk tentang Cinta yang Tak Kunjung Terungkap
Setelah 18 Tahun, Ifan Resmi Mundur dari GOVINDA
Gavendri Rilis Album Kedua Sympathy/Empathy, Rekam Pergulatan Hidup sebagai Orang Dewasa
Patras Jalani Tur Jepang Perdana, Bawa Cha-Cha Boo! ke Empat Panggung
Tak Harus Menang untuk Bahagia, Lafa Pratomo dan Ari Lesmana Hadirkan Juara Dua

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Dorong Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Cegah Korupsi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Evi Yandri Tinjau SLB Negeri 1 Padang, Siap Perjuangkan Kebutuhan Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Muhidi Ungkap 3 Kunci Kesuksesan Siswa: Dengarkan Guru, Perbanyak Literasi, dan Perkuat Karakter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Guru PPPK Sumbar Didorong Jadi Agen Perubahan, Muhidi Tekankan SDM Unggul

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Gebyar Pajak Sumbar, Muhidi Dorong Warga Taat Bayar PKB untuk Perkuat Pembangunan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Solsel, Mario Syahjohan Minta UU TPKS Ditegakkan Solsel, Javanusa—Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Solok Selatan (Solsel) mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Mario Syahjohan. Mario meminta seluruh pihak memperkuat pencegahan dan memastikan setiap laporan kekerasan mendapat penanganan sesuai ketentuan hukum. Menurutnya, dampak kekerasan tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan korban. Sebagai putra daerah Solok Selatan, Mario menilai masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Ia juga mengingatkan agar kasus kekerasan tidak dianggap sebagai persoalan keluarga yang dapat diselesaikan begitu saja melalui perdamaian. “Kekerasan seksual merupakan tindak pidana serius. Karena itu, setiap kasus harus ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai persoalan seperti ini dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup diselesaikan dengan perdamaian semata,” tegas Mario, Jumat (2/10/2026). Mario Tekankan Penegakan UU TPKS Mario mengatakan aparat dan pihak terkait perlu menggunakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS sebagai dasar penanganan. Undang-undang tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan seksual. Di antaranya pelecehan seksual nonfisik dan fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Namun, Mario menegaskan penanganan perkara tidak cukup hanya mengejar pertanggungjawaban pelaku. Negara dan seluruh pihak terkait juga harus memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan. “Yang harus kita pikirkan bukan hanya bagaimana menghukum pelaku, tetapi juga bagaimana memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak tanpa stigma,” ujarnya. Perdamaian Jangan Mengorbankan Hak Korban Mario turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perdamaian sebagai jalan pintas dalam perkara kekerasan seksual. Terlebih jika korban merupakan anak, proses penyelesaian harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan hak korban. Ia menilai tekanan untuk menjaga nama baik keluarga tidak boleh mengorbankan kepentingan anak. Korban juga tidak seharusnya menanggung beban untuk menyelesaikan persoalan yang dilakukan oleh orang dewasa. “Jangan sampai demi menjaga nama baik keluarga atau alasan lainnya, hak dan keselamatan korban justru dikorbankan. Anak adalah pihak yang harus kita lindungi, bukan pihak yang harus dibebani untuk menyelesaikan persoalan orang dewasa,” katanya. Selain itu, Mario meminta masyarakat berhati-hati terhadap pemberian uang atau imbalan yang berkaitan dengan upaya memengaruhi proses penegakan hukum. Menurutnya, penyelesaian setiap perkara harus berjalan dalam koridor peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk memastikan hak korban tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ancaman terhadap Anak Perlu Menjadi Evaluasi Mario juga menyoroti persoalan lain berupa ancaman pembunuhan dan tindakan penyerangan yang dilakukan orang dewasa hingga memasuki pekarangan rumah. Peristiwa tersebut menyasar anak dan pada akhirnya diselesaikan melalui jalan damai. Ia menilai kejadian seperti itu perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut Mario, lingkungan tempat anak tumbuh harus menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. “Ketika yang menjadi korban adalah anak, maka keselamatan dan masa depannya harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan karena merasa lingkungan di sekitarnya tidak memberikan rasa aman,” ujarnya. Perlindungan Perempuan dan Anak Tanggung Jawab Bersama Mario yang telah dua periode menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat menegaskan perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. “Keamanan dan perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, sementara masyarakat harus membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi kekerasan,” katanya. Karena itu, Mario mendorong Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat program pencegahan kekerasan. Edukasi masyarakat, pendampingan korban serta sistem pelaporan yang mudah diakses juga perlu diperkuat. Ia berharap sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, korban dan keluarga tidak merasa takut ketika hendak melaporkan kekerasan yang mereka alami. Dorong Solok Selatan Jadi Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak Mario berharap keberhasilan pembangunan Solok Selatan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan daerah menciptakan ruang hidup yang aman bagi perempuan dan anak juga harus menjadi indikator penting. “Mari kita jadikan Solok Selatan bukan hanya daerah yang maju pembangunannya, tetapi juga kabupaten yang ramah, aman dan memberikan rasa nyaman bagi perempuan dan anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, dan tidak boleh ada anak yang merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan,” pungkasnya. Menurut Mario, cita-cita menjadikan Solok Selatan sebagai Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak membutuhkan komitmen lintas sektor. Penguatan keluarga, edukasi masyarakat, keberanian melapor, pendampingan korban dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan. “Melindungi perempuan dan anak bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga investasi moral untuk memastikan generasi Solok Selatan tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat dan penuh kasih,” tutup Mario Syahjohan. (*)

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Muhidi Dorong Sekolah Ramah Anak Perkuat Perlindungan dan Hak Pelajar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila di HUT ke-81 Sumbar

Berita Terbaru