Jembatan Hildesheim Diresmikan di Padang, Simbol 38 Tahun Persahabatan Sister City

Penulis -

Jumat, 7 Agustus 2026 - 22:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Wali Kota Hildesheim, Jerman, Ingo Meyer, meresmikan Jembatan Hildesheim di kawasan Batang Arau, Jumat (7/8/2026). (Foto: Pemko Padang)

Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Wali Kota Hildesheim, Jerman, Ingo Meyer, meresmikan Jembatan Hildesheim di kawasan Batang Arau, Jumat (7/8/2026). (Foto: Pemko Padang)

Padang, Javanusa—Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Wali Kota Hildesheim, Jerman, Ingo Meyer, meresmikan Jembatan Hildesheim di kawasan Batang Arau, Jumat (7/8/2026).

Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita, penandatanganan prasasti, serta pembukaan selubung papan nama jembatan oleh kedua kepala daerah.

Peresmian tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Denny Abdi, Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir, Ketua TP-PKK Kota Padang Ny. Dian Fadly Amran, Ketua GOW Kota Padang Ny. Sri Hayati Maigus Nasir, Ketua DPRD Kota Padang Muharlion, unsur Forkopimda, serta tamu undangan lainnya.

Fadly Amran menyampaikan, peresmian Jembatan Hildesheim menjadi simbol semakin eratnya hubungan sister city antara Kota Padang dan Kota Hildesheim. Hubungan persahabatan kedua kota tersebut telah terjalin selama 38 tahun sejak 1988.

Menurut Fadly Amran, momentum ini semakin bermakna karena menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357. Selama lebih dari tiga abad, Kota Padang terus bertumbuh dengan tetap menjunjung tinggi sejarah, budaya, dan nilai-nilai kebersamaan.

Fadly Amran mengatakan, pada 23 Juni 2022 Kota Hildesheim secara resmi memberikan nama salah satu jembatan di kotanya sebagai bentuk penghormatan terhadap hubungan persahabatan dengan Kota Padang.

“Pada 23 Juni 2022, Kota Hildesheim secara resmi memberikan nama salah satu jembatan di kotanya sebagai bentuk penghormatan terhadap hubungan persahabatan dengan Kota Padang. Hari ini, Kota Padang dengan bangga membalas penghormatan tersebut dengan memberikan nama Jembatan Hildesheim kepada jembatan ini,” ujar Fadly Amran.

Ia menegaskan, jembatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur, tetapi juga menjadi lambang hubungan persahabatan yang telah berlangsung selama empat dekade.

“Jembatan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan simbol persahabatan yang telah terjalin selama empat dekade. Kami berharap jembatan ini menjadi simbol persahabatan dua negara yang menghadirkan lebih banyak kolaborasi dalam mendukung pembangunan, serta bermanfaat bagi masyarakat Kota Padang,” tuturnya.

Baca Juga :  Syafira Penerima Kartu Padang Juara: Semangat Sekolah Kian Berkobar, Bercita-cita Jadi Dokter
Dua Kota Kini Saling Memiliki Jembatan Persahabatan

Wali Kota Hildesheim Ingo Meyer mengatakan, setelah 38 tahun menjalin hubungan persahabatan, kini kedua kota memiliki dua jembatan yang saling menjadi simbol ikatan tersebut.

Menurut Ingo Meyer, kehadiran Jembatan Padang di Hildesheim dan Jembatan Hildesheim di Padang menjadi penanda kuat hubungan kedua kota yang terus terpelihara sejak 1988.

“Di Hildesheim telah berdiri Jembatan Padang, dan hari ini di Padang berdiri Jembatan Hildesheim. Ini merupakan simbol yang luar biasa dari persahabatan yang telah kita bangun dan pelihara sejak tahun 1988. Saya merasa sangat bangga dan bahagia dapat menyaksikan momen bersejarah ini bersama masyarakat Kota Padang,” tuturnya. (*)

Berita Terkait

Atasi Kemacetan Pengisian Solar di SPBU, Pemko Padang Terapkan Sistem Antrean Digital
Terkait Kisruh Gelar Datuak Rajo Bandaro, Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Mantan Wali Nagari Puluik Puluik Mencuat
Fadly Amran Minta OPD Padang Perkuat Inovasi Smart City di Enam Dimensi
Koto Tangah Siapkan 16 Venue MTQ ke-42 Padang, Ini Daftar Lokasinya
Koto Tangah Siapkan 65 Kafilah, Bidik Juara Umum MTQ ke-42 Kota Padang
Pemko Padang dan Pelindo Siapkan Penataan Muaro Padang Jadi Kawasan Wisata Maritim
Tutupi Trotoar dan Drainase, Satpol PP Padang Bongkar Lapak Pedagang di Jalan Sutan Syahrir
Gubernur Mahyeldi Dorong Tata Kelola Pemerintahan Sumbar Makin Kuat, Cegah Korupsi Sejak Awal

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Dorong Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Cegah Korupsi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Evi Yandri Tinjau SLB Negeri 1 Padang, Siap Perjuangkan Kebutuhan Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Muhidi Ungkap 3 Kunci Kesuksesan Siswa: Dengarkan Guru, Perbanyak Literasi, dan Perkuat Karakter

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Guru PPPK Sumbar Didorong Jadi Agen Perubahan, Muhidi Tekankan SDM Unggul

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Gebyar Pajak Sumbar, Muhidi Dorong Warga Taat Bayar PKB untuk Perkuat Pembangunan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Solsel, Mario Syahjohan Minta UU TPKS Ditegakkan Solsel, Javanusa—Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Solok Selatan (Solsel) mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Mario Syahjohan. Mario meminta seluruh pihak memperkuat pencegahan dan memastikan setiap laporan kekerasan mendapat penanganan sesuai ketentuan hukum. Menurutnya, dampak kekerasan tidak berhenti pada luka fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan korban. Sebagai putra daerah Solok Selatan, Mario menilai masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Ia juga mengingatkan agar kasus kekerasan tidak dianggap sebagai persoalan keluarga yang dapat diselesaikan begitu saja melalui perdamaian. “Kekerasan seksual merupakan tindak pidana serius. Karena itu, setiap kasus harus ditangani sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jangan sampai persoalan seperti ini dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup diselesaikan dengan perdamaian semata,” tegas Mario, Jumat (2/10/2026). Mario Tekankan Penegakan UU TPKS Mario mengatakan aparat dan pihak terkait perlu menggunakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS sebagai dasar penanganan. Undang-undang tersebut mencakup berbagai bentuk kekerasan seksual. Di antaranya pelecehan seksual nonfisik dan fisik, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan sterilisasi, pemaksaan perkawinan, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual hingga kekerasan seksual berbasis elektronik. Namun, Mario menegaskan penanganan perkara tidak cukup hanya mengejar pertanggungjawaban pelaku. Negara dan seluruh pihak terkait juga harus memastikan korban memperoleh perlindungan dan pendampingan. “Yang harus kita pikirkan bukan hanya bagaimana menghukum pelaku, tetapi juga bagaimana memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan secara layak tanpa stigma,” ujarnya. Perdamaian Jangan Mengorbankan Hak Korban Mario turut mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perdamaian sebagai jalan pintas dalam perkara kekerasan seksual. Terlebih jika korban merupakan anak, proses penyelesaian harus tetap mempertimbangkan keselamatan dan hak korban. Ia menilai tekanan untuk menjaga nama baik keluarga tidak boleh mengorbankan kepentingan anak. Korban juga tidak seharusnya menanggung beban untuk menyelesaikan persoalan yang dilakukan oleh orang dewasa. “Jangan sampai demi menjaga nama baik keluarga atau alasan lainnya, hak dan keselamatan korban justru dikorbankan. Anak adalah pihak yang harus kita lindungi, bukan pihak yang harus dibebani untuk menyelesaikan persoalan orang dewasa,” katanya. Selain itu, Mario meminta masyarakat berhati-hati terhadap pemberian uang atau imbalan yang berkaitan dengan upaya memengaruhi proses penegakan hukum. Menurutnya, penyelesaian setiap perkara harus berjalan dalam koridor peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk memastikan hak korban tetap terlindungi dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Ancaman terhadap Anak Perlu Menjadi Evaluasi Mario juga menyoroti persoalan lain berupa ancaman pembunuhan dan tindakan penyerangan yang dilakukan orang dewasa hingga memasuki pekarangan rumah. Peristiwa tersebut menyasar anak dan pada akhirnya diselesaikan melalui jalan damai. Ia menilai kejadian seperti itu perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Menurut Mario, lingkungan tempat anak tumbuh harus menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. “Ketika yang menjadi korban adalah anak, maka keselamatan dan masa depannya harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan karena merasa lingkungan di sekitarnya tidak memberikan rasa aman,” ujarnya. Perlindungan Perempuan dan Anak Tanggung Jawab Bersama Mario yang telah dua periode menjadi Anggota DPRD Sumatera Barat menegaskan perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau sekolah. Pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dunia usaha, keluarga dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman. “Keamanan dan perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Negara hadir untuk memberikan perlindungan, sementara masyarakat harus membangun lingkungan yang tidak memberikan ruang bagi kekerasan,” katanya. Karena itu, Mario mendorong Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat program pencegahan kekerasan. Edukasi masyarakat, pendampingan korban serta sistem pelaporan yang mudah diakses juga perlu diperkuat. Ia berharap sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, korban dan keluarga tidak merasa takut ketika hendak melaporkan kekerasan yang mereka alami. Dorong Solok Selatan Jadi Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak Mario berharap keberhasilan pembangunan Solok Selatan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemampuan daerah menciptakan ruang hidup yang aman bagi perempuan dan anak juga harus menjadi indikator penting. “Mari kita jadikan Solok Selatan bukan hanya daerah yang maju pembangunannya, tetapi juga kabupaten yang ramah, aman dan memberikan rasa nyaman bagi perempuan dan anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, dan tidak boleh ada anak yang merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan,” pungkasnya. Menurut Mario, cita-cita menjadikan Solok Selatan sebagai Kabupaten Ramah Perempuan dan Anak membutuhkan komitmen lintas sektor. Penguatan keluarga, edukasi masyarakat, keberanian melapor, pendampingan korban dan penegakan hukum yang konsisten harus berjalan beriringan. “Melindungi perempuan dan anak bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga investasi moral untuk memastikan generasi Solok Selatan tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat dan penuh kasih,” tutup Mario Syahjohan. (*)

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:04 WIB

Muhidi Dorong Sekolah Ramah Anak Perkuat Perlindungan dan Hak Pelajar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Ketua DPRD Sumbar Muhidi Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila di HUT ke-81 Sumbar

Berita Terbaru