Labuan Bajo, Javanusa—Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) menimbulkan dampak besar di sejumlah wilayah.
Hingga Sabtu (22/8/2026), Pos Pendamping Nasional mencatat 87 orang meninggal dunia, 1.298 warga terluka, dan 150.576 orang mengungsi.
Gempa Susulan Tembus 5.000 Kejadian
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 5.012 gempa susulan hingga Jumat (21/8), pukul 05.00 WIB.
Gempa susulan tersebut memiliki magnitudo yang beragam. Gempa terbesar mencapai M6,2, sedangkan yang terkecil tercatat M1,1.
Dari ribuan gempa susulan itu, sebanyak 124 kejadian dirasakan oleh masyarakat di wilayah terdampak.
Korban Meninggal Capai 87 Orang
Pos Pendamping Nasional mencatat 87 korban meninggal dunia hingga Sabtu (22/8), pukul 16.00 WIB.
Kabupaten Manggarai mencatat jumlah korban meninggal terbanyak dengan 31 orang. Berikutnya Manggarai Timur 30 orang, Nagekeo 13 orang, Sikka 9 orang, Ngada 4 orang, Ende 2 orang, dan Manggarai Barat 1 orang.
Sementara itu, jumlah korban luka mencapai 1.298 orang. Rinciannya terdiri atas 336 orang luka berat, 61 luka sedang, dan 895 luka ringan.
Sebanyak enam korban lainnya masih menjalani proses pendataan. Manggarai Timur menjadi wilayah dengan korban luka terbanyak, yakni 643 orang, disusul Manggarai dengan 285 orang.
Lebih dari 150 Ribu Warga Mengungsi
Dampak gempa juga memaksa 150.576 warga meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mencari lokasi yang lebih aman.
Kabupaten Manggarai menampung 41.427 pengungsi. Kemudian Nagekeo 34.256 orang, Manggarai Timur 31.372 orang, dan Manggarai Barat 19.954 orang.
Jumlah pengungsi di Sikka mencapai 17.587 orang. Sementara itu, Ende mencatat 3.429 pengungsi dan Ngada sebanyak 2.551 orang.
Bantuan Logistik Capai 954 Ton
Pemerintah terus mengirimkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Pos Pendukung Logistik Nasional (Posduklognas) di Halim Perdanakusuma mencatat 147 ton bantuan telah dikirim pada Sabtu (22/8) melalui 10 sorti penerbangan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 70 ton bantuan menuju Labuan Bajo. Sebanyak 77 ton lainnya dikirim ke Maumere.
Jika dihitung sejak 15 hingga 22 Agustus 2026, total bantuan yang sudah didistribusikan mencapai 954 ton melalui 68 sorti penerbangan.
Sebanyak 651 ton bantuan dikirim ke Labuan Bajo, sedangkan 303 ton lainnya menuju Maumere.
Ribuan Personel Dikerahkan
Penanganan darurat juga melibatkan ribuan personel gabungan dari berbagai unsur. Data Pos Pendamping Nasional mencatat 5.832 personel TNI dan 238 personel Polri telah terlibat dalam operasi tersebut.
Selain itu, sebanyak 903 relawan dari 104 organisasi ikut membantu penanganan bencana.
Jumlah tersebut belum mencakup seluruh tim dari kementerian dan lembaga yang turut diterjunkan, termasuk personel Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
KRI dr. Suharso Perkuat Layanan Kesehatan
Memasuki hari kedelapan penanganan, dukungan medis bertambah dengan kedatangan KRI dr. Suharso 990 di Pelabuhan Reo.
Personel TNI Angkatan Laut dari kapal tersebut kemudian mendirikan rumah sakit lapangan di Lapangan Waso dan Wangkong, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.
Kapal rumah sakit itu memiliki fasilitas untuk menangani tindakan medis besar. Fasilitas tersebut juga mencakup ruang rawat inap dengan kapasitas hingga 75 pasien.
Rumah Sakit Terapung Layani Korban di Manggarai Timur
Dukungan kesehatan juga datang dari Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga milik Ikatan Alumni Universitas Airlangga.
Kapal tersebut bersandar di Teluk Nangalirang, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
Keberadaan dua fasilitas kesehatan terapung dan rumah sakit lapangan tersebut memperkuat layanan medis bagi masyarakat yang terdampak gempa bumi M7,7 NTT. (*)






