Jakarta, Javanusa—Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan dan Ngaji Sirah Nabawi 1448 H.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat meneladani Rasulullah dalam menjaga lingkungan dan mencegah kerusakan alam.
Peluncuran tersebut berlangsung bersamaan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tingkat Nasional 1448 Hijriah. Kegiatan mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah: Merajut Persaudaraan, Memuliakan Kemanusiaan”.
Momentum itu tidak hanya menekankan penguatan spiritual. Kemenag juga mendorong umat menerapkan nilai akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Gema Selawat Kebangsaan Targetkan 1,78 Juta Peserta
Kemenag membuka rangkaian kegiatan dengan Peringatan Maulid dan Ijazah Kubro Dalail Khairat. Menag Nasaruddin Umar menjelaskan makna penting ijazah dalam tradisi pembacaan selawat.
Menurut Nasaruddin, ijazah menjadi simbol penguatan spiritual bagi seseorang. Ia mengibaratkan proses tersebut seperti kelulusan setelah menjalani sebuah tahapan.
“Ijazah itu semacam wisuda. Ijazah itu adalah tanda penguatan. Powerful terhadap seseorang yang dengan demikian kita perlu untuk memberikan pemberkahan,” ungkap Menag Nasaruddin di Gedung Kemenag Thamrin, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Ngaji Sirah Nabawi Perkuat Keteladanan Rasulullah
Nasaruddin Umar menilai pemahaman terhadap sirah Nabi tidak cukup melalui cerita secara terpisah. Menurutnya, sirah menggambarkan kehidupan Rasulullah secara lengkap dan kronologis.
Kajian tersebut mencakup latar belakang kehidupan Rasulullah hingga akhir hayatnya. Pemahaman menyeluruh itu diharapkan memperkuat hubungan batin umat dengan Nabi Muhammad SAW.
Nasaruddin juga menyampaikan pandangan spiritual bahwa Rasulullah senantiasa hidup dan hadir dalam kehidupan umat.
Karena itu, ia berharap masyarakat tidak berhenti pada peringatan Maulid. Nilai keteladanan Rasulullah perlu diterapkan dalam berbagai persoalan kehidupan.
Menag Soroti Ancaman Kebakaran Hutan dan Kabut Asap
Salah satu perhatian Nasaruddin dalam momentum Maulid Nabi ialah persoalan lingkungan. Ia menyoroti kebakaran hutan dan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Indonesia.
Menurutnya, masyarakat perlu menjadikan momentum tersebut sebagai dorongan untuk menghentikan kerusakan lingkungan. Ia bahkan mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan asap sebagai musuh bersama.
“Mari kita menjadikan asap itu sebagai musuh bersama,” tegas Menag.
Nasaruddin mengingatkan dampak kabut asap tidak sebatas mengganggu pernapasan. Kondisi tersebut juga dapat memicu persoalan kesehatan yang serius.
“Ternyata bencana asap itu bukan sekedar menyusahkan kita bernafas, tapi itu akan menyimpan bibit-bibit penyakit yang sangat fundamental dan susah untuk disembuhkan, terutama yang berpenyakit asma, dan itu akan mempercepat proses kematian,” paparnya.
Karena itu, ia mengajak umat memahami kembali pesan ekologis dalam ajaran Rasulullah. Menurutnya, Nabi memiliki keteladanan kuat dalam memperlakukan alam dan makhluk hidup.
Pesan Ekologis Rasulullah Jadi Teladan
Nasaruddin mengisahkan larangan Rasulullah menggunakan api untuk menghancurkan makhluk hidup. Larangan tersebut bahkan mencakup makhluk kecil seperti semut.
“Hanya Allah yang berhak untuk menghukum dengan api. Jadi kalian tidak boleh menghukum semut, membakar tumbuh-tumbuhan dengan api,” ucap Menag.
Ia juga mengingatkan hubungan Rasulullah dengan alam. Pepohonan dan lingkungan, menurutnya, menjadi bagian dari kisah keteladanan Nabi.
Nasaruddin kemudian menekankan pentingnya penghijauan melalui pesan Rasulullah tentang menanam pohon.
“Seandainya dunia ini besok pasti kiamat, tetaplah kalian menanam pohon,” tegasnya.
Dalam pandangan yang ia sampaikan, membakar hutan merupakan bentuk kerusakan di muka bumi. Ia juga mengaitkannya dengan pentingnya menjaga kehidupan seluruh makhluk biologis.
Menag Ajak Hentikan Pembukaan Lahan dengan Membakar
Pada bagian akhir, Nasaruddin mengimbau masyarakat meninggalkan kebiasaan membakar pepohonan saat membuka lahan. Menurutnya, praktik tersebut membawa dampak luas bagi lingkungan.
“Nasihatilah saudara-saudara kita agar kita jangan membiasakan membersihkan atau membuka kebun-kebun dengan membakar pepohonan, sebab itu akan merusak oksigen, merusak alam, merusak paru-paru bumi,” imbaunya.
Ia berharap Gema Selawat Kebangsaan dan Ngaji Sirah Nabawi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Gerakan tersebut harus mendorong tindakan nyata untuk menjaga lingkungan.
“Itulah yang harus menjadi kekuatan moral, bagaimana supaya bangsa Indonesia ini tetap kita pertahankan sebagai paru-paru bumi,” pungkas Menag.
Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan gerakan tersebut mengajak umat berselawat secara serentak. Kegiatan itu menargetkan 1.781.945 peserta dari seluruh Indonesia.
Angka tersebut memiliki makna simbolis karena berkaitan dengan sejarah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Selain selawat bersama, Kemenag meluncurkan estafet Ngaji Sirah Nabawi. Program tersebut berlangsung selama tujuh hari bersama para ulama.
Kegiatan itu mengajak masyarakat memahami perjalanan hidup dan perjuangan Rasulullah secara lebih utuh.
“Gerakan ini mengajak masyarakat Indonesia memperbanyak shalawat melalui pembacaan Dalail Khairat, dengan semangat bershalawat untuk negeri meneladani sirah Nabi,” tutur Abu Rokhmad.
Sejumlah pejabat turut menghadiri kegiatan tersebut. Mereka antara lain Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi.
Hadir pula Ketua Komisi Yudisial Abdul Chair Ramadhan dan Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i. Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin juga mengikuti kegiatan tersebut. (*)






