Jakarta, Javanusa—Masyarakat kini dapat memantau perkembangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta sebaran hotspot melalui SiPongi+, sistem pemantauan milik Kementerian Kehutanan (Kemenhut).
Kemenhut terus menjalankan operasi penanganan Karhutla di sejumlah provinsi prioritas. Berdasarkan pantauan terbaru, jumlah hotspot nasional menunjukkan tren penurunan.
Informasi tersebut dapat masyarakat akses melalui kanal resmi Kementerian Kehutanan. Data pemantauan Karhutla tersedia melalui layanan SiPongi+.
Cara Memantau Data Karhutla di SiPongi+
SiPongi+ menyediakan informasi mengenai hotspot dan perkembangan penanganan Karhutla. Sistem tersebut membantu masyarakat melihat kondisi berdasarkan wilayah dan periode tertentu.
Untuk mengakses data terbaru, masyarakat dapat membuka situs resmi Kementerian Kehutanan. Pengguna juga dapat langsung mengunjungi layanan SiPongi+.
Berikut langkah untuk mengecek data Karhutla:
- Buka situs resmi Kehutanan.go.id dan cari banner SiPongi+. Pengguna juga dapat langsung mengakses SiPongi+.
- Informasi dan siaran pers terbaru tersedia pada halaman utama situs Kementerian Kehutanan.
- Untuk melihat perkembangan Karhutla, buka halaman utama SiPongi+ yang memuat rangkuman data terbaru.
- Pilih menu Peta Hotspot untuk melihat titik panas berdasarkan lokasi dan data pendukung.
- Gunakan menu Sebaran Titik Panas untuk memperoleh informasi yang lebih terperinci.
- Sesuaikan periode, provinsi, satelit, serta tingkat kepercayaan sesuai kebutuhan pemantauan.
Kenali Tingkat Kepercayaan Hotspot
SiPongi+ menggunakan tingkat kepercayaan atau confidence level untuk menunjukkan indikasi hotspot. Sistem tersebut membaginya dalam tiga kategori.
Hijau atau low (0–29 persen) menunjukkan indikasi dengan tingkat kepercayaan rendah.
Kuning atau medium (30–79 persen) menunjukkan tingkat kepercayaan sedang dan membutuhkan verifikasi lebih lanjut.
Merah atau high (80–100 persen) menunjukkan tingkat kepercayaan tinggi sehingga perlu mendapat perhatian lebih.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa hotspot bukan berarti secara otomatis menunjukkan lokasi kebakaran.
Hotspot Perlu Verifikasi di Lapangan
Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit.
Satu peristiwa kebakaran juga dapat menghasilkan beberapa titik hotspot. Karena itu, petugas tetap perlu melakukan groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
Selain data satelit, Kemenhut bersama instansi terkait memantau berbagai faktor pendukung. Pemantauan mencakup kondisi kebakaran, curah hujan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, hingga jarak pandang.
Data tersebut membantu pemerintah menentukan prioritas pengerahan personel. Informasi yang sama juga menjadi dasar untuk menjalankan operasi darat dan udara serta mengambil langkah perlindungan masyarakat.
Masyarakat Diminta Waspadai Dampak Asap
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan menggunakan api.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap juga perlu mengikuti informasi resmi terkait kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya menyesuaikan kondisi lingkungan.
Selain itu, masyarakat dapat membantu penanganan Karhutla dengan melaporkan keberadaan asap, titik api, atau indikasi kebakaran kepada petugas.
Laporan dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan di nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.
Dengan laporan lebih awal, petugas dapat segera melakukan pengecekan dan menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan. (*)






