Daratan Baru Seluas 32,8 Hektare Muncul di Sekitar Gunung Anak Krakatau

Penulis -

Kamis, 24 September 2026 - 17:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Daratan baru Gunung Anak Krakatau. (Foto: Ist)

Daratan baru Gunung Anak Krakatau. (Foto: Ist)

Jakarta, Javanusa—Daratan baru seluas 32,8 hektare muncul di kawasan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, setelah rangkaian erupsi pada September 2026. Badan Geologi menyebut daratan tersebut terbentuk dari material hasil aktivitas vulkanik.

Kemunculan daratan itu terdeteksi melalui citra satelit Sentinel. Lokasinya berada di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung.

Daratan Baru Terbentuk dari Material Erupsi

Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, SS Rita Susilawati, menyampaikan adanya penambahan luas daratan tersebut.

“Badan Geologi menghitung penambahan luasan sebesar 32,8 ha,” kata Rita melalui laman media sosial Badan Geologi, Kamis (24/9/2026).

Badan Geologi menemukan perubahan tersebut pada tubuh Gunung Anak Krakatau. Perubahan terutama terlihat di sektor barat laut hingga barat-barat daya.

Kajian citra Sentinel menunjukkan material piroklastik dan aliran lava membentuk tambahan daratan tersebut. Material itu berasal dari erupsi yang berlangsung pada 4-6 September 2026.

Selain daratan utama, citra satelit juga menunjukkan kemunculan gumuk berupa pulau-pulau kecil. Lokasinya berada di sebelah barat laut dan tenggara tubuh Gunung Anak Krakatau.

Menurut Badan Geologi, material hasil erupsi diduga menjadi penyebab terbentuknya daratan tersebut.

Erupsi Berlangsung Sekitar 25 Jam

Rita menjelaskan, kemunculan dua daratan kecil itu berkaitan dengan aktivitas erupsi yang berlangsung cukup lama.

“Kemunculannya ‘kedua pulau’ tersebut diduga berkaitan dengan erupsi menerus selama sekitar 25 jam,” ujar Rita.

Luas 32,8 hektare memberikan gambaran cukup besar mengenai perubahan bentang alam di kawasan Gunung Anak Krakatau. Luasan tersebut hampir mendekati kompleks Candi Prambanan yang memiliki area sekitar 39,8 hektare.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau juga mengonfirmasi kemunculan daratan baru di kawasan tersebut.

Sejarah Panjang Terbentuknya Anak Krakatau

Kemunculan daratan baru di sekitar Anak Krakatau kembali memperlihatkan dinamika vulkanik kawasan Selat Sunda. Proses tersebut memiliki kaitan dengan sejarah panjang Gunung Krakatau.

Baca Juga :  5 Penyebab Lutut Kasar dan Menghitam, Kenali Pemicunya agar Kulit Kembali Halus  

Berdasarkan kajian Badan Geologi, Krakatau pada awalnya merupakan sebuah kerucut gunung api berukuran besar. Diperkirakan pada abad ke-5 Masehi, terjadi letusan besar yang membentuk kaldera atau cekungan raksasa.

Proses tersebut menyisakan tiga pulau, yakni Verlatern, Lang, dan Rakata. Di kawasan Rakata kemudian tumbuh kerucut gunung api baru yang juga dikenal sebagai Gunung Rakata.

Kerucut lain kemudian muncul di bagian tengah kaldera. Dua di antaranya bernama Perbuwatan dan Danan.

Ketiga kerucut tersebut berkembang dan akhirnya menyatu dengan Rakata. Gabungan itu kemudian membentuk Gunung Krakatau.

Letusan 1883 Mengubah Bentang Alam Selat Sunda

Gunung Krakatau kembali mengalami erupsi dengan komposisi andesitik pada 1680. Setelah periode panjang relatif tenang, aktivitas vulkanik kembali meningkat pada 20 Mei 1883.

Puncak erupsi terjadi pada 26 dan 28 Agustus 1883. Letusan tersebut menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling dikenal dalam sejarah karena kekuatannya.

Erupsi itu diperkirakan menghasilkan sekitar 18 kilometer kubik batu apung dan abu. Sebagian tubuh gunung kemudian runtuh ke dalam kaldera.

Gunung Perbuwatan, Danan, serta sebagian Rakata ikut ambles. Peristiwa tersebut membentuk cekungan baru dengan kedalaman sekitar 250 meter dan diameter mencapai 70 kilometer.

Runtuhnya tubuh gunung juga memicu gelombang tsunami hingga sekitar 20 meter. Gelombang tersebut menerjang pantai di Selat Sunda dan wilayah Jawa bagian barat.

Bencana itu menyebabkan 36.417 orang meninggal dunia.

Anak Krakatau Muncul 44 Tahun Setelah Erupsi Besar

Aktivitas vulkanik tidak berhenti setelah bencana 1883. Selama puluhan tahun berikutnya, proses pembentukan kerucut gunung api baru terus berlangsung.

Pada Desember 1927, muncul Gunung Anak Krakatau. Kemunculannya terjadi sekitar 44 tahun setelah letusan besar Krakatau pada 1883.

Baca Juga :  Aplikasi Kawal Haji Diluncurkan, Jemaah Kini Bisa Lapor Keluhan Secara Real Time

Sejak saat itu, Gunung Anak Krakatau terus mengalami aktivitas vulkanik dan membentuk perubahan pada kawasan sekitarnya.

Kini, proses tersebut kembali terlihat melalui terbentuknya daratan baru seluas 32,8 hektare. Fenomena itu menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terus membentuk dan mengubah bentang alam di Selat Sunda. (*)

Sumber:

Berita Terkait

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat di Pasaman Barat dan Pesisir Selatan Hari Ini
Kepala BGN Sudaryono: Insentif MBG Kini Lebih Adil, Proporsional dan Efisien
Uji Coba MBG Sistem Prasmanan, BGN Ingin Makanan Lebih Hangat dan Segar di Sekolah
MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah SLTA, tapi Tak Batalkan sebagai Wapres
Pemerintah Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah dan Madrasah hingga 2029, Kemenag Siap Bersinergi
Kemenag Buka Bantuan S2 dan S3 hingga Rp25 Juta, Cek Syarat dan Jadwalnya
Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026 Dorong Peternak Perkuat Genetik dan Produktivitas
Mentan Amran Sambut Wamentan Saleh Mustafa: Speed Kerja Pertanian Harus Meningkat

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:50 WIB

David Silva Comeback dari Pensiun, Gabung Klub Hong Kong Supreme Sha Tin

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Usai Bertugas di FIFA ASEAN Cup 2026, Pedro Rodriguez Umumkan Pensiun

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:37 WIB

Stefano Cugurra Resmi Tangani Semen Padang FC, Targetkan Promosi ke Super League

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:04 WIB

Gateball Kota Padang Raih Emas Perdana Porprov Sumbar 2026 lewat Double Putra

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:54 WIB

Edo Vernando Sumbang Emas Pertama Biliar Kota Padang di Porprov Sumbar 2026

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Jadwal Lengkap Pertamina Grand Prix Indonesia: MotoGP, Sprint, hingga Balapan Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

MotoGP Mandalika 2026: Perebutan Gelar Memanas, Martin dan Marquez Cuma Terpaut 2 Poin

Berita Terbaru