Jakarta, Javanusa—Pemain Timnas Indonesia Calvin Verdonk menilai keberhasilan Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup menjadi penanda perubahan besar bagi tim nasional.
Menurutnya, generasi saat ini sudah memiliki kesempatan untuk meninggalkan catatan pahit masa lalu.
Indonesia memastikan gelar juara setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti pada final FIFA ASEAN Cup di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).
Pertandingan berlangsung dramatis hingga 120 menit. Kedua tim bermain imbang 2-2 sebelum Indonesia memastikan kemenangan 4-2 melalui adu penalti.
Hasil tersebut sekaligus memutus catatan kurang baik Indonesia saat menghadapi Thailand dalam laga besar yang berakhir lewat titik putih.
Indonesia Akhiri Catatan Pahit Lawan Thailand
Thailand sebelumnya pernah menjadi bagian dari dua momen mengecewakan Indonesia di GBK. Indonesia kalah melalui adu penalti pada final SEA Games 1997 dan Piala AFF 2002 setelah kedua pertandingan berakhir imbang.
Namun, sejarah berbeda tercipta ketika kedua negara kembali bertemu dalam final FIFA ASEAN Cup. Generasi baru Timnas Indonesia mampu melewati tekanan tersebut dan membawa pulang trofi perdana kompetisi.
Verdonk melihat keberhasilan itu bukan sekadar soal membalas kekalahan masa lalu. Bek kiri Lille tersebut menganggap kemenangan ini menunjukkan bahwa Indonesia telah memasuki fase baru.
“Rasanya sangat luar biasa. Saya sempat melihat catatan rekor-rekor terdahulu, tetapi itu semua sudah tidak penting lagi karena sekarang adalah era baru dengan susunan pemain yang baru,” ujar Verdonk kepada FIFA.
Menurutnya, catatan masa lalu tetap menjadi bagian dari perjalanan sepak bola Indonesia. Namun, generasi saat ini memiliki kesempatan untuk menentukan sendiri cerita yang ingin mereka ukir.
Verdonk Akui Final Berlangsung Gila
Verdonk tidak menilai kemenangan atas Thailand sebagai hasil dari permainan sempurna. Ia justru mengakui pertandingan berjalan sulit dan menuntut tim untuk terus bertahan dalam situasi yang berubah.
“Itu tidak penting, yang utama kita menang. Trofi pertama… Ya, pertandingan yang gila. Kami harus tampil lebih baik lagi, tetapi kami menang. Jadi tidak masalah,” katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana Indonesia menghadapi tekanan sepanjang final. Ketika permainan tidak berjalan sesuai harapan, skuad Garuda tetap menemukan cara untuk mencapai target utama.
Peran Verdonk juga berubah mengikuti kebutuhan taktik tim. Ia memulai pertandingan sebagai bek atau sayap kiri sebelum bergeser ke lini tengah dan kembali menempati sisi kiri.
“Di babak pertama saya bermain di bek/sayap kiri, itu posisi asli saya. Saya merasa sangat nyaman di sana. Namun, pelatih ingin melakukan beberapa perubahan taktik, dan saya selalu siap bermain di mana pun beliau menempatkan saya—baik di gelandang tengah, lalu kembali ke sisi kiri. Singkatnya, di mana saja,” ujarnya.
Pesan Herdman: Terus Percaya
Situasi semakin menegangkan ketika final harus ditentukan melalui adu penalti. Dalam momen tersebut, John Herdman meminta para pemain mempertahankan keyakinan terhadap kemampuan tim.
“Dia meminta kami untuk terus percaya—cukup percaya bahwa kita bisa,” ungkap pemain berusia 29 tahun itu.
Verdonk menilai kepercayaan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemain yang mengambil tendangan penalti. Seluruh anggota tim, menurutnya, ikut menghadapi tekanan yang sama.
“Saya rasa untuk semua pemain. Ini adalah pertandingan yang sangat berat, tetapi kami terus percaya satu sama lain. Jadi ya, menurut saya seluruh pemain berhak mendapatkan apresiasi positif,” lanjutnya.
Kemenangan itu pun menjadi pencapaian penting bagi Indonesia. Namun, Verdonk menyadari tantangan berikutnya akan jauh lebih besar.
Tantangan Indonesia Berlanjut di Piala Asia
Indonesia akan kembali menghadapi Thailand pada Piala Asia. Selain Thailand, skuad Garuda juga berada satu grup dengan Jepang dan Qatar.
Verdonk melihat Indonesia tetap memiliki peluang menghadapi tiga lawan tersebut. Ia mengakui Jepang memiliki level berbeda, tetapi peluang tetap terbuka.
“Kita memiliki peluang saat menghadapi Thailand dan Qatar. Melawan Jepang pun kita tetap punya peluang, meski harus diakui mereka berada di level yang berbeda,” tuturnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa gelar FIFA ASEAN Cup tidak membuat Indonesia berhenti mengejar perkembangan. Trofi tersebut justru menjadi tolok ukur baru sebelum menghadapi persaingan yang lebih tinggi.
Verdonk Ingat Generasi Muda
Di luar lapangan, Verdonk juga menaruh perhatian kepada anak-anak yang menjadi bagian dari kegiatan sosial yang ia ikuti beberapa hari sebelum final.
Setelah membawa Indonesia menjadi juara, ia berharap anak-anak tersebut dapat terus mengejar masa depan meski menghadapi berbagai tantangan.
“Saya rasa sangat penting untuk sering mengunjungi mereka. Saya pribadi sangat suka melakukan hal itu. Saya tahu situasi tidak selalu mudah bagi anak-anak tersebut, tetapi mereka harus terus melangkah. Semoga mereka memiliki masa depan yang cerah,” pungkasnya.
Bagi Indonesia, keberhasilan di FIFA ASEAN Cup menciptakan catatan baru dalam sejarah sepak bola nasional. Sementara bagi Verdonk dan rekan-rekannya, gelar tersebut menjadi awal untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.
Indonesia kini memiliki kesempatan membangun cerita baru. Seperti dikatakan Verdonk, generasi ini tidak lagi harus hidup di bawah bayang-bayang hasil masa lalu. (*)






