Javanusa.com—Tidak semua orang harus menjadi yang pertama untuk bisa merasa bahagia. Gagasan itu menjadi napas utama Juara Dua, single keempat dari EP Garis Tegak yang mempertemukan Lafa Pratomo, Ari Lesmana, dan White Chorus.
Lagu tersebut mengangkat keresahan tentang ritme hidup yang serba cepat. Ketiganya kemudian menerjemahkan keresahan itu menjadi karya yang memberi ruang bagi pilihan untuk menjalani hidup dengan lebih tenang.
Juara Dua dan Pilihan untuk Hidup Lebih Bahagia
Bagi Lafa Pratomo, posisi kedua bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai kegagalan. Ia melihat Juara Dua sebagai pilihan yang tetap sah ketika posisi tersebut justru membuat seseorang lebih nyaman dan bahagia.
Gagasan itu sekaligus memperkuat tema resiliensi yang sejak awal menjadi payung proyek Garis Tegak. Melalui kolaborasi tersebut, Lafa menemukan bentuk baru dari keresahan yang muncul ketika tiga pihak menghadapi pengalaman hidup dengan ritme berbeda.
Ari Lesmana membawa pengalaman dari kehidupan yang bergerak cepat. Kesibukan dengan ritme kerja tinggi membuatnya mulai mempertanyakan kembali hal yang sebenarnya ingin ia kejar.
Pada akhirnya, Ari memilih ketenangan dan kehidupan yang secukupnya. Ia juga tidak lagi melihat validasi sebagai sesuatu yang harus terus dicari.
“Gak perlu validasi juga, gak perlu apa-apa gitu,” ujar Ari.
Sementara itu, White Chorus menemukan kegelisahan yang serupa dalam perkembangan musik saat ini. Mereka melihat banyak orang terburu-buru membuat sekaligus merilis lagu.
Meski tetap memiliki target, White Chorus menilai perjalanan bermusik tidak harus berubah menjadi perlombaan dengan orang lain.
“Kita tuh gak lomba sama orang lain,” tambah White Chorus.
Berawal dari Enam Pilihan Beat
Kesamaan keresahan tersebut kemudian berkembang melalui percakapan. Dari sisi musik, prosesnya bermula dari stok beat milik White Chorus.
Saat itu, White Chorus membawa enam pilihan beat untuk dikembangkan bersama. Draft nomor enam akhirnya menarik perhatian dan menjadi embrio lagu Juara Dua.
Pada tahap awal, materi tersebut masih sangat sederhana. Isinya baru beberapa bar dengan drum break dan gitar akustik.
Materi itu sempat tersimpan karena arahnya tidak sesuai dengan konsep EP yang ketika itu ingin dibuat lebih elektronik dan menghentak. Namun, Ari justru tertarik dengan nada dan karakter mentah yang muncul dari draft tersebut.
Setelah mendengarkan sejumlah opsi berulang kali, ketiganya akhirnya sepakat mengembangkan materi tersebut lebih jauh.
Kolaborasi Membentuk Karakter Lagu
Proses pengembangan kemudian membuka kemungkinan baru dalam aransemen. Mereka memasukkan bagian yang lebih tenang dengan gitar akustik serta perubahan nada di tengah pola awal yang repetitif.
Bagi Ari, bagian tersebut menjadi salah satu titik penting dalam proses kreatif. Karakter Lafa, Ari, dan White Chorus mulai menyatu tanpa kehilangan identitas masing-masing.
Bagian itu sekaligus memperkuat pesan utama Juara Dua tentang hak seseorang untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Dari sisi produksi, karakter drum break tetap dipertahankan. Emir menjelaskan bahwa sampel drum pada versi awal kemudian berkembang menjadi permainan drum yang direkam ulang.
Menurut Lafa, seluruh proses penggarapan Juara Dua berlangsung melalui dua pertemuan utama. Proses tersebut menjadi ruang bagi ketiganya untuk menemukan bentuk akhir lagu sekaligus mempertemukan gagasan tentang ritme hidup, kebebasan memilih, dan kebahagiaan. (*)
Sumber: IG Podcast Some Story






