Javanusa.com—Anak yang makan dengan porsi besar belum tentu mengalami kenaikan berat badan sesuai usianya.
Kondisi ini bisa berkaitan dengan kebutuhan energi, faktor genetik, aktivitas fisik, hingga gangguan penyerapan nutrisi.
Orang tua perlu memperhatikan pola pertumbuhan anak, bukan hanya jumlah makanan yang dihabiskan setiap hari. Berat badan yang sulit bertambah juga dapat menjadi tanda masalah kesehatan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Lantas, apa penyebab anak makan banyak tetapi tetap kurus? Dikutip dari Hellosehat, berikut tujuh faktor yang perlu diketahui beserta langkah untuk membantu menjaga pertumbuhan anak.
1. Faktor genetik
Faktor keturunan dapat memengaruhi bentuk tubuh dan kecenderungan berat badan anak. Anak yang memiliki orang tua bertubuh ramping mungkin mewarisi karakteristik tersebut.
Namun, tubuh yang kurus tidak selalu menandakan masalah kesehatan. Orang tua perlu melihat pertumbuhan anak dari waktu ke waktu, termasuk kenaikan berat badan, tinggi badan, aktivitas, dan kondisi kesehatannya.
Jika pertumbuhan berlangsung baik dan anak tidak menunjukkan keluhan, bentuk tubuh yang ramping mungkin merupakan variasi normal.
2. Asupan kalori belum mencukupi
Anak yang sering makan belum tentu memperoleh energi sesuai kebutuhannya. Jumlah makanan, kandungan kalori, serta nilai gizinya turut menentukan kecukupan asupan harian.
Misalnya, anak mengonsumsi makanan dalam porsi besar, tetapi sebagian besar terdiri atas makanan rendah energi. Kondisi ini dapat membuat kebutuhan kalori untuk aktivitas dan pertumbuhan belum terpenuhi.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan komposisi makanan, bukan hanya frekuensi dan ukuran porsinya. Kebutuhan energi setiap anak berbeda, bergantung pada usia, ukuran tubuh, aktivitas, dan tahap pertumbuhan.
3. Aktivitas fisik yang tinggi
Anak yang aktif bergerak membutuhkan energi lebih besar untuk menunjang kegiatannya. Berlari, bermain, bersepeda, dan melakukan berbagai aktivitas sepanjang hari dapat meningkatkan pengeluaran energi.
Jika asupan makanan tidak sebanding dengan energi yang digunakan, berat badan anak mungkin sulit bertambah.
Selain itu, perbedaan metabolisme antarindividu juga memengaruhi kebutuhan energi. Namun, orang tua tidak sebaiknya langsung menyimpulkan bahwa metabolisme tinggi menjadi penyebab utama tanpa menilai pola pertumbuhan anak.
4. Gangguan sistem pencernaan
Gangguan pencernaan dapat menghambat penyerapan nutrisi atau meningkatkan kehilangan zat gizi. Akibatnya, anak mungkin kesulitan menambah berat badan meskipun asupan makanannya terlihat cukup.
Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan meliputi penyakit celiac, diare kronis, refluks gastroesofageal, dan penyakit hati kronis.
Gejala penyerta dapat berupa diare berkepanjangan, muntah berulang, sakit perut, atau perubahan pola buang air besar. Jika keluhan tersebut muncul bersama berat badan yang sulit meningkat, orang tua perlu membawa anak ke dokter.
5. Intoleransi atau reaksi terhadap makanan tertentu
Reaksi terhadap makanan tertentu juga dapat memengaruhi kondisi pencernaan dan asupan nutrisi anak.
Intoleransi makanan terjadi ketika tubuh kesulitan mencerna zat tertentu. Sebagai contoh, intoleransi laktosa dapat menimbulkan kembung, nyeri perut, atau diare setelah anak mengonsumsi produk yang mengandung laktosa.
Sementara itu, alergi makanan merupakan kondisi berbeda yang melibatkan sistem kekebalan tubuh. Penyakit celiac juga memiliki mekanisme tersendiri dan dapat merusak lapisan usus sehingga penyerapan nutrisi terganggu.
Jika anak mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan tertentu, dokter dapat membantu menentukan penyebabnya. Orang tua sebaiknya tidak menghilangkan kelompok makanan penting dari menu anak tanpa arahan tenaga kesehatan.
6. Gangguan metabolisme
Gangguan metabolisme dapat memengaruhi kemampuan tubuh mengolah zat gizi dan menghasilkan energi. Sejumlah kondisi juga dapat meningkatkan kebutuhan energi atau mengganggu pertumbuhan anak.
Salah satu kondisi yang perlu dipertimbangkan dokter adalah hipertiroidisme, meskipun penyebab berat badan sulit naik sangat beragam.
Gejala lain dapat membantu mengarahkan pemeriksaan, seperti jantung berdebar, mudah berkeringat, diare, atau perubahan perilaku. Tidak semua anak dengan berat badan rendah mengalami gangguan metabolisme.
Dokter akan menilai gejala, riwayat pertumbuhan, dan hasil pemeriksaan sebelum menentukan apakah anak memerlukan pemeriksaan lanjutan.
7. Infeksi cacing
Infeksi cacing usus dapat mengganggu status gizi anak, terutama jika infeksinya cukup berat atau berlangsung lama.
Parasit tertentu dapat menyebabkan kehilangan darah, gangguan penyerapan nutrisi, atau penurunan nafsu makan. Dampaknya, pertumbuhan dan kenaikan berat badan anak dapat terhambat.
Keluhan yang mungkin muncul meliputi sakit perut, diare, gangguan pertumbuhan, atau gatal di sekitar anus pada infeksi cacing kremi. Namun, sebagian anak tidak menunjukkan gejala yang jelas.
Berat badan yang sulit bertambah saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis cacingan. Dokter dapat menentukan kebutuhan pemeriksaan dan pengobatan berdasarkan gejala serta risiko infeksi.
Cara Membantu Menaikkan Berat Badan Anak secara Sehat
Penanganan anak yang makan banyak tetapi tetap kurus perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Orang tua dapat memulai dengan memperbaiki pola makan sambil memantau pertumbuhan dan memperhatikan gejala yang menyertai.
1. Pastikan asupan energi dan gizinya cukup
Berikan makanan dengan kandungan energi dan zat gizi yang sesuai kebutuhan anak. Pilih sumber protein, karbohidrat, lemak sehat, vitamin, dan mineral secara seimbang.
Beberapa pilihan makanan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan energi meliputi telur, ikan, daging, alpukat, kacang-kacangan, serta produk susu yang sesuai dengan toleransi anak.
Orang tua juga dapat mengombinasikan makanan pokok dengan lauk berprotein dan sumber lemak sehat. Hindari mengandalkan makanan tinggi gula yang rendah nilai gizi untuk meningkatkan berat badan.
2. Tambahkan camilan bergizi
Selain makan utama, anak dapat memperoleh camilan sehat di antara waktu makan. Frekuensi dan porsinya perlu disesuaikan dengan usia, nafsu makan, serta kebutuhan energi.
Pilihan camilan meliputi yoghurt, smoothie dengan bahan bergizi, telur, buah, atau kacang-kacangan sesuai usia dan kemampuan mengunyah anak.
Pada anak kecil, hindari memberikan kacang utuh atau makanan lain yang berisiko menyebabkan tersedak. Pastikan tekstur makanan sesuai dengan tahap perkembangan anak.
3. Pantau berat dan tinggi badan secara berkala
Catat berat badan dan tinggi badan anak untuk melihat pola pertumbuhannya. Hasil pengukuran perlu dibandingkan dengan kurva pertumbuhan yang sesuai usia dan jenis kelamin.
Pada anak, berat badan yang tidak meningkat tidak selalu menunjukkan gangguan gizi. Dokter perlu menilai tren pertumbuhan, tinggi badan, indeks massa tubuh sesuai usia, serta riwayat kesehatan anak.
Jika berat badan menurun, pertumbuhan melambat, atau kurva pertumbuhan menyimpang, segera konsultasikan kepada dokter spesialis anak.
4. Periksakan anak jika berat badan sulit bertambah
Pemeriksaan medis membantu mengidentifikasi penyebab yang mendasari masalah pertumbuhan. Dokter akan menilai riwayat makan, aktivitas, gejala pencernaan, kondisi kesehatan, dan pola pertumbuhan.
Pemeriksaan laboratorium tidak selalu diperlukan untuk setiap anak. Dokter menentukan jenis pemeriksaan berdasarkan temuan klinis dan dugaan penyebab.
Jika diperlukan, dokter dapat merujuk anak kepada ahli gizi untuk menyusun rencana makan yang sesuai dengan kebutuhan energinya.
5. Berikan obat cacing sesuai anjuran
Pemberian obat cacing dapat menjadi bagian dari pencegahan atau pengobatan infeksi cacing, bergantung pada usia anak, risiko paparan, dan kebijakan kesehatan setempat.
Jadwal pemberian obat cacing setiap enam bulan berlaku pada program atau kelompok tertentu, bukan sebagai aturan universal untuk semua anak. Konsultasikan pilihan obat dan jadwal pemberiannya dengan tenaga kesehatan.
Orang tua juga perlu membiasakan anak mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan kuku, menggunakan sanitasi yang baik, dan mengonsumsi makanan yang diolah secara higienis.
Orang tua sebaiknya berkonsultasi jika berat badan anak tidak bertambah dalam beberapa waktu, menurun, atau pertumbuhannya melambat. Pemeriksaan juga penting jika kondisi tersebut disertai diare kronis, muntah berulang, sakit perut berkepanjangan, atau perubahan nafsu makan yang nyata. (*)






