Jakarta, Javanusa—Kementerian Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memfasilitasi kunjungan aktor dan sineas internasional Sung Kang dalam kegiatan “Night Drive” di Jakarta.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mendampingi langsung kegiatan tersebut pada Senin (11/5) malam.
Sung Kang menjelajahi sejumlah titik ikonik, termasuk Monumen Nasional (Monas) dan Bundaran HI. Kegiatan ini mengangkat wajah Jakarta dalam promosi menuju 5 abad kota.
Selain itu, agenda ini juga mendorong eksposur industri kreatif Indonesia di tingkat global melalui pendekatan pengalaman langsung.
Ekraf Dorong Kolaborasi Global Industri Kreatif
Irene Umar menegaskan peran Ekraf sebagai penghubung ekosistem kreatif nasional dan internasional. Ia menyebut Ekraf sebagai ruang pertemuan yang mempertemukan potensi secara tepat.
“Singkat kata, Ekraf adalah matchmaking agency atau biro jodoh, karena dengan jodoh yang benar atau jodohnya tepat itu bisa mengubah kehidupan menjadi lebih baik,” jelasnya.
Ia menambahkan keterlibatan figur global seperti Sung Kang memperkuat posisi Jakarta sebagai kota kreatif dunia. Langkah ini juga membuka peluang kerja sama lebih luas bagi pelaku industri kreatif nasional.
Kolaborasi ini berjalan melalui pendekatan hexahelix. Pemerintah, industri, komunitas, akademisi, media, dan masyarakat ikut terlibat aktif.
Film “Drifter” Jadi Jembatan Kreatif Internasional
Kunjungan Sung Kang juga berkaitan dengan proyek film terbarunya berjudul Drifter. Ia menyutradarai sekaligus membintangi film tersebut.
Cerita film menampilkan seorang petugas lintasan balap di kota gurun terpencil. Ia memiliki bakat drifting namun menyimpan masa lalu kelam.
Dalam perjalanan cerita, ia mendapat kesempatan mengikuti kompetisi drifting profesional. Namun, ia harus membangun kepercayaan dan koneksi untuk berkembang.
Tokoh utama belajar bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup. Ia memerlukan kolaborasi dan kepercayaan dari orang lain.
Dengan bimbingan seorang mentor, ia berusaha mengubah bakat menjadi kekuatan bersama. Jika gagal, ia berisiko terjebak dalam masa lalunya. (*/red)






