Javanusa.com—Kondisi feses menjadi salah satu indikator penting yang dapat menggambarkan kesehatan bayi, terutama pada masa-masa awal kehidupan.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan frekuensi, warna, aroma, dan tekstur buang air besar (BAB) bayi untuk mengetahui apakah tumbuh kembangnya berjalan normal.
Banyak orang tua merasa khawatir ketika mendapati feses bayi tampak lebih cair dibandingkan orang dewasa. Namun, apakah kondisi tersebut selalu menandakan adanya gangguan pencernaan?
Dikutip dari laman Halodoc, pada bayi yang baru lahir, terutama yang mendapatkan ASI eksklusif, tekstur feses cenderung lebih cair, lembek, bahkan terkadang berbusa. Kondisi ini umumnya masih tergolong normal dan bukan merupakan tanda diare.
Menurut keterangan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi usia 0 hingga 2 bulan dapat buang air besar dengan frekuensi yang cukup sering, bahkan mencapai 10 kali sehari. Hal ini terjadi karena bayi memiliki refleks gastrokolik yang masih sangat aktif.
Refleks gastrokolik merupakan respons alami tubuh yang merangsang pergerakan usus setelah bayi menyusu. Akibatnya, bayi dapat BAB hampir setiap kali selesai mengonsumsi ASI.
Selain frekuensi yang tinggi, feses bayi yang mengonsumsi ASI biasanya berwarna kuning keemasan, bertekstur cair hingga lembek, dan memiliki aroma agak asam.
Mengapa Feses Bayi Bisa Cair?
Sistem pencernaan bayi yang baru lahir masih dalam tahap perkembangan sehingga belum bekerja seefisien orang dewasa. Salah satu penyebab feses tampak cair adalah proses pencernaan laktosa dalam ASI yang belum berlangsung sempurna.
Sebagian laktosa yang tidak tercerna akan masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri alami di saluran pencernaan. Proses inilah yang menyebabkan feses bayi menjadi lebih encer dan memiliki aroma asam yang khas.
Selama bayi tetap aktif, menyusu dengan baik, serta mengalami kenaikan berat badan sesuai usia, kondisi BAB cair umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
Kenali Perbedaan BAB Cair dan Diare pada Bayi
Meski BAB cair termasuk normal pada bayi baru lahir, orang tua tetap perlu waspada terhadap tanda-tanda diare. Pasalnya, diare yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan dehidrasi dan menimbulkan komplikasi kesehatan lainnya.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
-
- Frekuensi BAB meningkat jauh lebih sering dibandingkan biasanya.
- Feses menjadi jauh lebih encer dari kondisi normal bayi.
- Bayi tampak lemas atau kurang aktif.
- Nafsu menyusu menurun.
- Muncul tanda-tanda dehidrasi seperti bibir kering atau jumlah urine berkurang.
Jika gejala tersebut muncul, orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Perhatikan Warna Feses Bayi
Selain tekstur, warna feses juga dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi kesehatan bayi.
Pada umumnya, feses bayi baru lahir dapat berwarna hijau kehitaman (mekonium), hijau kecokelatan, hingga kuning keemasan. Warna-warna tersebut masih tergolong normal sesuai usia dan pola makan bayi.
Namun, orang tua perlu segera memeriksakan bayi ke dokter apabila feses berwarna merah, hitam pekat setelah masa mekonium berlalu, atau putih pucat. Warna-warna tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan pada saluran pencernaan maupun organ lainnya yang memerlukan evaluasi medis lebih lanjut.
Dengan memahami karakteristik BAB normal pada bayi, orang tua dapat lebih tenang sekaligus lebih sigap mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan yang membutuhkan perhatian dokter. (*/red)






