Jakarta, Javanusa—Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan seluruh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia menggunakan sistem digital untuk pengelolaan belanja mulai Januari 2027.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat transparansi dan akuntabilitas pengadaan bahan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
BGN menggandeng Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Dukungan Pengembangan Tata Kelola Belanja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
Kerja sama tersebut memanfaatkan ekosistem Sistem Informasi Pembelanjaan Sekolah (SIPLah) sebagai landasan pengembangan sistem transaksi digital bagi dapur SPPG.
BGN Adopsi Sistem SIPLah untuk Belanja Dapur MBG
Kepala BGN Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, menjelaskan bahwa pemanfaatan SIPLah merupakan upaya mengadopsi praktik baik dari sistem pengadaan yang telah berjalan.
Menurutnya, BGN memilih mengembangkan sistem berdasarkan mekanisme yang sudah teruji daripada membangun sistem baru dari awal. Pendekatan tersebut memungkinkan penyesuaian sesuai kebutuhan operasional program MBG.
“Kami melihat ini sebagai bentuk pembelajaran dan benchmarking dari sistem yang memang sudah berjalan dengan baik. Daripada membangun sesuatu dari awal yang belum tentu teruji, lebih baik kita mengadopsi sistem yang sudah ada, kemudian melakukan penyesuaian agar sesuai dengan kebutuhan SPPG. Harapannya, tata kelola pembelanjaan SPPG nantinya dapat berjalan sebaik sistem yang telah diterapkan Kemendikdasmen,” ujar Mas Dar pada Jumat (30/10).
Uji Coba Melibatkan 40 Dapur dan 400 Pemasok
BGN saat ini menjalankan tahap uji coba digitalisasi pembelanjaan di 40 dapur SPPG. Pelaksanaan tersebut melibatkan sekitar 400 pemasok yang mendukung kebutuhan operasional dapur.
Dari sekitar 26.700 dapur SPPG yang menjadi sasaran pengembangan, BGN menyiapkan implementasi secara bertahap untuk memastikan kesiapan sistem sebelum penerapan secara nasional.
Mas Dar menyebut hasil uji coba sejauh ini menunjukkan perkembangan positif. Namun, BGN tetap mempertimbangkan evaluasi dan kesiapan teknis sebelum memperluas penggunaan sistem.
“Sejauh ini pelaksanaannya berjalan baik. Kita sudah memiliki 40 dapur yang menjalankan uji coba dan sekitar 400 pemasok yang terlibat. Harapannya, pada Januari tahun depan sistem ini sudah dapat diimplementasikan di seluruh dapur. Namun, kita tetap harus melihat hasil uji coba dan memastikan kesiapan sistemnya. Kalau memungkinkan untuk dipercepat, tentu akan kita upayakan,” jelas Mas Dar.
Implementasi Digitalisasi Belanja Dimulai November 2026
BGN telah menyusun tahapan pengembangan sistem pembelanjaan digital untuk mendukung target implementasi nasional.
Berikut tahapan yang direncanakan:
-
- November 2026: Soft launching sistem pembelanjaan SPPG.
- Desember 2026: Peluncuran tahap berikutnya sebagai bagian dari perluasan implementasi.
- Januari 2027: Target penerapan sistem secara menyeluruh di seluruh dapur SPPG.
BGN tetap membuka peluang percepatan implementasi apabila hasil evaluasi menunjukkan kesiapan sistem dan seluruh kebutuhan operasional telah terpenuhi.
Kemendikdasmen Siapkan Dukungan Data dan Teknologi
Kemendikdasmen mendukung pengembangan sistem melalui penyediaan akses data dan informasi SIPLah, pemutakhiran data, serta pengembangan teknologi.
Dukungan lainnya mencakup penyediaan sumber daya manusia dan narasumber untuk kegiatan bimbingan teknis. Sementara itu, Mitra Pengelola Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (Mitra PPMSE) menyediakan layanan lokapasar untuk memfasilitasi transaksi antara dapur SPPG dan pelaku usaha.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat keterhubungan antara kebutuhan pengadaan bahan pangan dan penyedia barang melalui mekanisme transaksi digital.
Abdul Mu’ti Harapkan Layanan MBG Semakin Tepat Sasaran
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyambut positif kerja sama BGN dan Kemendikdasmen dalam pengembangan tata kelola pembelanjaan SPPG.
Ia berharap kolaborasi tersebut mampu meningkatkan kualitas pelayanan MBG agar semakin tepat sasaran dan memberikan manfaat bagi seluruh murid di Indonesia.
“Alhamdulillah, ini satu kerja sama yang sangat bagus. Mudah-mudahan dengan kerja sama ini pelayanan MBG semakin baik, semakin tepat sasaran, dan manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh murid di Indonesia. Sekali lagi, ini merupakan bagian dari upaya menyukseskan program Bapak Presiden agar anak-anak kita tumbuh sehat dan memiliki semangat untuk belajar,” ujarnya.
Melalui pengembangan ekosistem pembelanjaan digital, BGN dan Kemendikdasmen berupaya membangun tata kelola program MBG yang lebih terukur, terintegrasi, dan akuntabel.
Penerapan sistem ini diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi pengadaan bahan pangan, tetapi juga mendukung pemenuhan gizi anak serta pembangunan sumber daya manusia Indonesia. (*)





