Solsel, Javanusa—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok Selatan tengah melaksanakan program sosialisasi mitigasi bencana di berbagai sekolah negeri dan swasta.
Program ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Novi Hendrix, Kepala Pelaksana BPBD Solsel menjelaskan berdasarkan kajian risiko bencana, seluruh wilayah Kabupaten Solok Selatan yang terdiri dari 7 kecamatan memiliki tingkat risiko bencana sedang hingga tinggi.
“Wilayah kami rentan terhadap berbagai jenis bencana. Mulai dari gempa, longsor, banjir, cuaca ekstrim, kekeringan, gunung meletus, hingga badai,” ujarnya pada Kamis (25/7/2024).
Program sosialisasi ini menyasar 23 sekolah di seluruh wilayah Kabupaten Solok Selatan. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan jenis bencana, identifikasi risiko, simulasi penanganan bencana, serta pengenalan pihak-pihak terkait dalam penanggulangan bencana.
Menanggapi himbauan Pemprov Sumbar terkait pengadaan Early Warning System (EWS), Novi menekankan pentingnya sistem ini.
“EWS sangat penting, terutama untuk mendeteksi gempa, aktivitas gunung berapi, dan pergerakan tanah. Namun, pengadaannya harus disesuaikan dengan kondisi keuangan daerah,” jelasnya.
Selain fokus pada sekolah, BPBD Solsel juga berencana berkolaborasi dengan pemerintah nagari untuk membentuk Desa Tangguh Bencana (DESTANA) dan Kelompok Sadar Bencana (KSB).
“Kami mendorong setiap nagari untuk menjadi Destana. Pembentukan KSB akan diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah nagari, mengingat sifatnya yang sukarela,” tambah Novi.
Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat Solok Selatan dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang mungkin terjadi di wilayah mereka. (*/jn04)






