Buka IGIC 2026, Menag Dorong Imam Jadi Duta Perdamaian Dunia

Penulis -

Minggu, 27 September 2026 - 18:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menag Nasaruddin Umar saat membuka International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Fadlil Chairil/Kemenag)

Menag Nasaruddin Umar saat membuka International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Fadlil Chairil/Kemenag)

Jakarta, Javanusa—Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong para imam mengambil peran lebih luas dalam membangun perdamaian dunia.

Ia menilai kedekatan imam dengan masyarakat menjadi modal penting untuk meredakan konflik dan memperkuat solidaritas kemanusiaan.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat membuka International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

“Kehadiran imam untuk menjadi ambassador perdamaian. Mari kita menjadikan masjid sebagai meeting point,” ujar Menag.

Imam Punya Kedekatan Langsung dengan Masyarakat

Nasaruddin menjelaskan, imam memiliki intensitas komunikasi yang tinggi dengan umat. Mereka berinteraksi dengan masyarakat secara rutin melalui berbagai kegiatan keagamaan.

Menurutnya, kondisi tersebut memberi imam posisi strategis untuk menyampaikan pesan perdamaian. Imam juga dapat membangun kesadaran masyarakat ketika menghadapi persoalan sosial dan konflik.

“Peranan imam sangat penting, sebab imam inilah yang paling intensif berkomunikasi dengan umat. Kurang lebih lima kali sehari semalam para imam berjumpa dengan umat, bahkan melampaui seringnya pemerintah atau pimpinan-pimpinan ormas yang lain berjumpa dengan umat,” kata Menag.

Karena itu, Nasaruddin ingin peran imam berkembang melampaui kepemimpinan ritual. Ia mendorong imam ikut terlibat dalam persoalan sosial, kemanusiaan, dan perdamaian.

Pendekatan Kemanusiaan untuk Meredam Konflik

Menag menilai jalur diplomasi formal belum selalu mampu menghentikan konflik yang berlangsung di berbagai wilayah dunia. Kondisi itu membuka ruang bagi pendekatan keagamaan melalui bahasa moral dan kemanusiaan.

“Diplomasi formal ternyata tidak berhasil menghentikan peperangan. Imam berusaha untuk menawarkan satu solusi lain, mari kita melakukan pendekatan lain. Bagaimana kita mendekati antar para pihak dengan menggunakan bahasa moral, menggunakan bahasa kemanusiaan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kemanusiaan dapat menjadi titik temu bagi masyarakat dengan latar belakang berbeda. Perbedaan agama, etnis, dan kebangsaan, menurutnya, tidak menghilangkan rasa kemanusiaan.

Baca Juga :  Kemenag Siapkan Materi Edukasi Cegah Penyebaran Budaya LGBTQ

“We believe humanity is only one, there is no colors. Kemanusiaan itu hanya satu, rasa kemanusiaan itu tidak mengenal agama apapun, etnik manapun juga. Semua punya rasa kemanusiaan,” tegasnya.

Melalui pendekatan tersebut, Menag berharap imam dapat ikut menyampaikan pesan yang menyejukkan di tengah konflik regional maupun internasional.

“Mari kita sentuh persoalan konflik regional internasional ini dengan menggunakan bahasa kemanusiaan. Mudah-mudahan bahasa agama ini bisa meredam konflik, bisa meredam ketegangan, dan kehadiran imam untuk membahasakan hal ini sangat strategis dan sangat penting,” sambungnya.

IGIC 2026 Bahas Perdamaian dan Lingkungan

Peran imam dalam pandangan Menag juga berkaitan dengan persoalan lingkungan. Ia mendorong para pemimpin agama menggunakan pendekatan keagamaan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian alam.

“Mari kita juga menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan warga masyarakat, warga manusia untuk mencegah terjadinya kerusakan alam yang sedemikian dahsyat ini. Mari kita menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan para pengelola hutan, para pengelola laut, dan para pengelola alam semesta yang lain untuk tidak melakukan hal-hal yang melampaui batas,” katanya.

Isu tersebut menjadi salah satu bagian dari pembahasan ekoteologi dalam IGIC 2026. Menag melihat masjid memiliki peluang menjadi ruang pertemuan yang membahas persoalan agama, kemanusiaan, dan lingkungan.

Menag Dorong Dialog Lintas Agama

Nasaruddin juga mengungkapkan rencana memperluas semangat IGIC melalui forum bersama pemimpin rumah ibadah dari agama lain.

Pertemuan tersebut nantinya dapat mempertemukan pemimpin Katolik, gereja, dan rumah ibadah lainnya. Mereka akan membahas berbagai persoalan kemanusiaan yang memiliki kepentingan bersama.

“Insyaallah kelanjutan daripada International Grand Imam Conference ini, kami juga akan menggagas pertemuan dengan pimpinan-pimpinan rumah-rumah ibadah lain non-muslim, pimpinan-pimpinan Katolik, gereja, rumah-rumah ibadah yang lain. Mari kita undang duduk bersama, karena tema sentral kita semua umat beragama adalah sama,” ungkap Menag.

Baca Juga :  Kemenag Perketat Validasi Data, Terapkan Satu Data Terpusat untuk Cegah Data Ganda dan Salah Sasaran

Ia juga memperkenalkan konsep ukhuwah makhluqiyah sebagai gagasan persaudaraan antarsesama makhluk. Konsep tersebut melengkapi gagasan ukhuwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah Islamiyah.

“Bahkan ada satu ukhuwah selain ukhuwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah Islamiyah. Ada satu konsep ukhuwah yang lain mungkin perlu kita kembangkan, ukhuwah makhluqiyah. Persaudaraan kita sebagai sesama makhluk,” jelasnya.

49 Delegasi dari 39 Negara Hadiri IGIC 2026

International Grand Imam Conference 2026 juga mempertemukan pemimpin keagamaan dari berbagai negara. Forum ini menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai kontribusi kepemimpinan agama terhadap perdamaian dan persoalan kemanusiaan.

Ketua Panitia IGIC 2026, M Sabilul Alif, menyebut 49 delegasi internasional dari 39 negara telah terkonfirmasi hadir saat konferensi dibuka.

“Hari ini telah terkonfirmasi 49 delegasi internasional dari 39 negara yang terdiri atas para Grand Imam, Grand Mufti, serta tokoh agama dari berbagai kawasan dunia,” jelasnya.

Para delegasi tersebut berasal dari berbagai kawasan dan membawa pengalaman masing-masing dalam menghadapi tantangan sosial serta kemanusiaan.

IGIC 2026 berlangsung pada 25–28 September 2026. Konferensi imam besar berskala dunia ini untuk pertama kalinya mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace”.

Forum tersebut membahas sejumlah isu, mulai dari peran masjid dalam membangun harmoni, diplomasi keagamaan, perdamaian global, hingga potensi pengembangan ekonomi kemasjidan. (*)

Berita Terkait

Polri dan Kemkomdigi Perkuat Kerja Sama Berantas Kejahatan Siber
Pemerintah Pangkas Ekspor Gas 8 Persen, Bahlil Pastikan Tak Langgar Kontrak
Polri Kerahkan 200 Personel Brimob dan 10 Bareskrim Tangani Karhutla di Kalimantan
Hadapi Kekeringan dan Karhutla, Kemenag Ajak Umat Islam Salat Istisqa
Operasi Patuh 2026 Dimulai Hari Ini, Korlantas Polri Utamakan Edukasi dan Keselamatan
Kapolri Ungkap Laboratorium Sabu di Aceh, Hampir 1,2 Ton Narkotika Disita
BGN Kembalikan Rp160,37 Miliar ke Kas Negara, Tindak Lanjuti Temuan BPK
MUI Desak Pemerintah Segera Putuskan Nasib Konser Andrea Bocelli di Indonesia

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:59 WIB

Progres Flyover Sitinjau Lauik I Capai 35,275 Persen, Jembatan 1 Rampung

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:17 WIB

Pemerintah Siapkan Storage di Dalam Negeri, Impor Crude Tak Lagi Mampir ke Negara Lain

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:02 WIB

Pemko Padang Lengkapi Fasilitas Basement Blok II dan III Pasar Raya, Pedagang Diminta Mulai Berjualan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Tekan Gejolak Harga Pangan, Pemerintah Gelar GPM Serentak di 38 Provinsi

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Gerakan Pangan Murah Payakumbuh, Cabai Merah Dijual Rp50 Ribu per Kg

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Pemko Padang dan UPTD PPD Padang Perkuat Sinergi, Optimalkan PAD Lewat Inovasi Layanan Pajak Kendaraan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:14 WIB

Gandeng BRI, Pemko Padang Pacu PAD Lewat Digitalisasi Retribusi dan Pajak Daerah

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:25 WIB

Optimalkan PAD Lewat Digitalisasi, Pemko Padang Jajaki Kerja Sama dengan BRI

Berita Terbaru