Jakarta, Javanusa—Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak rencana konser Andrea Bocelli di Indonesia.
Penolakan tersebut berkaitan dengan informasi mengenai dugaan keterlibatan penyanyi opera asal Italia itu dalam kegiatan penggalangan dana yang dikaitkan dengan militer Israel.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, menjelaskan alasan tersebut dalam dialog di Kantor MUI, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Forum itu mempertemukan pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, tokoh lintas agama, budayawan, dan seniman untuk membahas rencana konser tersebut.
Sudarnoto menegaskan pembahasan konser Andrea Bocelli tidak cukup hanya melihat aspek seni dan musik. Menurutnya, rekam jejak musisi juga perlu menjadi bahan pertimbangan, terutama terkait isu Israel-Palestina.
MUI Soroti Informasi Penggalangan Dana pada 2010
Sudarnoto menyebut Andrea Bocelli sebagai musisi ternama yang memiliki reputasi internasional. Namun, ia menilai informasi mengenai dugaan keterlibatan Bocelli dalam kegiatan penggalangan dana terkait militer Israel perlu mendapat perhatian.
Berdasarkan data yang dihimpun tim MUI, Bocelli disebut terlibat dalam kegiatan pada 2010 yang berkaitan dengan Friends of the Israel Defense Forces (FIDF). Organisasi tersebut menghimpun dana untuk mendukung militer Israel.
“Yang menjadi masalah adalah temuan tim dari MUI. Pada 2010, Andrea Bocelli disebut terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) untuk menggalang dana dalam jumlah sangat besar,” ujarnya.
Sudarnoto juga menyoroti besarnya dana yang terkumpul serta keterlibatan sejumlah perusahaan besar dalam kegiatan tersebut.
Ia menyatakan informasi mengenai kehadiran Bocelli dalam acara itu menjadi salah satu pertimbangan MUI.
Selain itu, Sudarnoto menyampaikan pihaknya tidak menemukan penolakan dari Bocelli untuk menghadiri kegiatan penggalangan dana tersebut. MUI juga mempertimbangkan sejumlah informasi dari rentang 2003, 2008, 2010, hingga 2025 dalam kajiannya.
MUI, lanjut Sudarnoto, telah berkoordinasi dengan berbagai kementerian untuk membahas persoalan tersebut.
Sudarnoto menegaskan dukungan terhadap Israel dan Zionisme menjadi perhatian MUI. Karena itu, ia meminta publik melihat rencana konser Andrea Bocelli dalam konteks yang lebih luas, termasuk sikap terhadap konflik Israel-Palestina.
Dialog di Kantor MUI turut menghadirkan pembicara dari kalangan Islam maupun non-Islam. Para peserta menyampaikan pandangan yang beragam mengenai persoalan tersebut.
Sudarnoto menganggap perbedaan pendapat sebagai hal yang wajar dalam sebuah forum dialog. Menurutnya, pertemuan lintas agama dan unsur masyarakat dapat menjadi ruang untuk bertukar pandangan mengenai isu-isu penting.
“Sejumlah pembicara, baik dari Islam maupun non-Islam, sudah menyampaikan pandangan. Ada perspektif-perspektif yang memang berbeda, tetapi itu wajar saja,” ungkapnya.
Empat Poin Pernyataan Sikap MUI
Sebelumnya, Dewan Pimpinan MUI telah menyebarluaskan pernyataan sikap mengenai rencana konser Andrea Bocelli pada 13 Oktober 2026. Dalam pernyataan tersebut, MUI menyampaikan empat poin utama.
Pertama, MUI menolak dengan tegas rencana penyelenggaraan konser Andrea Bocelli di Indonesia.
Kedua, MUI mendorong pemerintah mengambil langkah tegas dengan tidak memberikan izin serta membatalkan seluruh rencana konser tersebut.
Ketiga, MUI meminta pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia yang tidak terafiliasi dengan Zionis Israel. MUI menempatkan langkah tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan ekonomi dan kebudayaan nasional.
Keempat, MUI meminta Andrea Bocelli dan seluruh pihak terkait memahami serta menghormati keputusan tersebut. MUI juga berharap tidak ada penyampaian pandangan yang dinilai kontraproduktif terhadap sikap organisasi itu.
Pernyataan tersebut menjadi dasar sikap resmi MUI dalam menyikapi rencana konser Andrea Bocelli di Indonesia. MUI menempatkan persoalan ini dalam kaitan dengan pandangannya terhadap Israel dan konflik Israel-Palestina, di samping pertimbangan di bidang seni dan kebudayaan. (*)






