Padang Panjang, Javanusa—Prestasi SMAN 1 Padang Panjang di Malaysia kembali mencuri perhatian. Dua siswi sekolah tersebut meraih medali perunggu dalam ajang kompetisi ilmiah internasional di Kuala Lumpur.
Dua pelajar itu adalah Zhafira Muthie Azzayani (X.2) dan Aisya Athfah Mardhiyah (X.9). Keduanya mewakili Indonesia dalam International Student Competition (ISC) pada 14–15 Februari 2026. Kompetisi ini mempertemukan peserta dari enam negara dalam delapan kategori lomba.
Kepala SMAN 1 Padang Panjang, Budi Hermawan, mengatakan ISC merupakan kompetisi ilmiah internasional yang diselenggarakan Universiti Putra Malaysia.
“Ajang ini diawali dengan seleksi esai bertema Global Synergy for Sustainable Development. Finalis kemudian diundang mengikuti kompetisi luring di Kuala Lumpur,” kata Budi, Rabu (18/2/2026).
ISC terbuka untuk pelajar SMA hingga mahasiswa. Pada babak final, peserta mempresentasikan karya ilmiah di hadapan dewan juri internasional.
Satu-satunya Wakil SMA Indonesia di Kategori Health
Pada kategori Health/Kesehatan, Muthie dan Aisya menjadi satu-satunya peserta jenjang SMA dari Indonesia. Mereka bersaing langsung dengan mahasiswa dari berbagai universitas bidang kedokteran dan kesehatan.
“Namun kondisi itu tidak menciutkan mental keduanya. Mereka tampil percaya diri mempresentasikan esai berbahasa Inggris,” ujar Budi.
Karya mereka berjudul “CatechiPop – A Leaf to Lollipop: Innovation Redefining Gambir Leaf for Sustainable Health”.
Inovasi Daun Gambir untuk Kesehatan Berkelanjutan
Dalam risetnya, Muthie dan Aisya mengolah daun gambir menjadi permen lollipop yang lebih sehat. Produk itu ditujukan sebagai alternatif camilan bagi remaja yang gemar makanan manis tinggi karbohidrat.
Mereka menilai inovasi ini berpotensi membantu menekan lonjakan gula darah dan menjadi langkah preventif terhadap diabetes. Selain itu, riset tersebut mengangkat komoditas lokal Sumatera Barat dalam perspektif kesehatan berkelanjutan.
Kolaborasi keduanya memadukan kemampuan menulis ilmiah dan keahlian farmasi serta desain. Sinergi riset dan visual itu mengantarkan mereka meraih Bronze Medal.
Muthie dan Aisya mengaku terharu atas capaian tersebut. Mereka menyebut dukungan kepala sekolah dan guru berperan besar dalam proses persiapan.
“Keberhasilan ini tidak lepas dari bimbingan dan motivasi guru. Kami juga mendapat ruang untuk berkembang dan berani tampil di tingkat internasional,” ujar keduanya.
Menurut mereka, kompetisi ini melatih public speaking bahasa Inggris dan memperluas wawasan global. Meski belum meraih emas, pengalaman bersaing dengan mahasiswa internasional menjadi bekal berharga.
“Semoga ini menjadi inspirasi bagi generasi muda Padang Panjang bahwa mimpi besar bisa dimulai dari ruang kelas,” kata Muthie dan Aisya. (*/red)






