Tulungagung, Javanusa—Nama Evan Dimas sempat menjadi ikon sepak bola nasional. Namun kini, mantan kapten Timnas Indonesia itu memilih jalan berbeda. Ia tak lagi merumput di Liga 1, dan fokus melatih anak-anak di Sekolah Sepak Bola (SSB) milik Sanggar Saraswati Nuswantara, Tulungagung, Jawa Timur.
Keputusan ini mengejutkan publik sepak bola, terutama setelah sebuah video dirinya yang tampak lebih kurus tersebar luas di media sosial. Banyak warganet bertanya-tanya mengenai kondisi sang pemain.
“Alhamdulillah baik. Sekarang di Tulungagung, tetap aktif melatih dan berkegiatan dengan bola juga,” ujar Evan Dimas, menanggapi kabar yang beredar.
Vakum dari Kompetisi, Aktif Membangun Akar Sepak Bola
Sejak paruh musim BRI Liga 1 2024/2025, Evan tidak terikat kontrak dengan klub mana pun. Usai berpisah dengan Persik Kediri, ia memutuskan untuk beristirahat dari atmosfer sepak bola profesional. Namun bukan berarti ia meninggalkan dunia yang membesarkan namanya.
Kini, ia mengabdikan diri sebagai pelatih muda, melatih anak-anak usia dini di Tulungagung. Bersama SSB Sanggar Saraswati Nuswantara, Evan terlibat langsung dalam pengembangan bakat-bakat muda.
“Latihan jaga kondisi sama adik-adik. Sekarang fokus melatih di sini,” jelasnya.
Temukan Keseimbangan Baru di Sanggar Saraswati
Sanggar tempat Evan beraktivitas tidak hanya bergerak di bidang olahraga. Ia juga menjadi ruang ekspresi yang menyatukan berbagai kegiatan sosial, budaya, hingga sains dan teknologi. Hal ini menjadi salah satu alasan kuat mengapa Evan merasa nyaman menepi dari hiruk pikuk dunia sepak bola profesional.
“Di sanggar lebih santai. Ada kesenian, olahraga, sosial kemasyarakatan, budaya, pecinta alam, sains dan teknologi. Dari anak-anak sampai dewasa semua ada,” katanya.
Lebih Dekat dengan Masyarakat
Meski telah menepi dari gemerlap stadion besar, Evan Dimas tak kehilangan semangatnya. Ia justru menemukan makna baru dalam sepak bola: membentuk karakter, menanamkan nilai, dan membina generasi muda secara langsung dari akar rumput.
Sesekali, ia tetap pulang ke Surabaya, kampung halamannya. Namun kini, sebagian besar waktunya ia habiskan di Tulungagung, menjalani hidup yang lebih sederhana dan berorientasi pada kontribusi sosial. (*/red)
Sumber: liputan6.com






