Javanusa.com—Kisah seorang ibu yang berusaha bangkit dari keterpurukan berubah menjadi perjuangan berat setelah pelecehan seksual dan fitnah menghancurkan kehidupannya.
Cerita tersebut menjadi inti film drama Beautiful Pain yang akan tayang di bioskop pada 22 Oktober 2026.
Film berdurasi 99 menit ini mengangkat perjalanan seorang ibu tunggal yang mencoba membangun kembali hidupnya melalui karier sebagai aktris. Harapan baru itu justru membawanya menghadapi persoalan yang mengancam reputasi sekaligus keluarganya.
Perjuangan Seorang Ibu Tunggal
Dalam cerita Beautiful Pain, sang tokoh utama mulai menemukan arah baru setelah melewati masa sulit. Karier di dunia akting menjadi kesempatan baginya untuk memperbaiki kehidupan dan memberikan masa depan bagi anak-anaknya.
Situasi berubah ketika ia menghadapi pelecehan seksual. Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi fitnah yang berdampak besar terhadap nama baiknya.
Tidak hanya kehilangan reputasi, perempuan tersebut juga harus menghadapi konsekuensi yang lebih berat. Ia kehilangan hak asuh atas anak-anaknya dan harus berhadapan dengan sistem yang dianggap tidak berpihak kepadanya.
Berusaha Melawan Sistem yang Bias
Di tengah tekanan yang semakin besar, tokoh utama tidak menyerah. Ia mendapat dukungan dari orang-orang terdekat yang membantu menguatkan langkahnya menghadapi berbagai persoalan.
Perjuangan itu tidak hanya berkaitan dengan upaya mendapatkan kembali anak-anaknya. Ia juga berusaha memulihkan martabat serta mendapatkan kembali hak untuk menyuarakan pengalaman dan posisinya sebagai perempuan.
Konflik tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan cerita Beautiful Pain. Film ini memadukan unsur horor dengan kisah tentang trauma, ketidakadilan, keluarga, dan perjuangan seorang perempuan untuk bangkit.
Beautiful Pain berada dalam genre drama dan memiliki durasi 99 menit. Film ini disutradarai Dmaz Brodjonegoro, sementara Hanung Bramantyo bertindak sebagai produser.
Baim Wong dan Raihaanun menjadi pemeran yang membawa cerita tersebut ke layar lebar. Film ini mendapat klasifikasi penonton 17 tahun ke atas dari Lembaga Sensor Film (LSF). (*)






