Padang, Javanusa—Pemerintah Kota Padang menggelar bedah Novel Siti Nurbaya karya Marah Roesli di Gedung Youth Center, Senin (5/8/2024).
Bedah novel ini menghadirkan narasumber sejarawan Asril Chaniago dan dosen Sastra Indonesia Unand, Ivan Adila, dengan moderator Yusrizal KW. Hadir juga dua cucu Marah Roesli yakni Utami Roesli dan Dewi Odjar Ratna Komala.
Diskusi ini diikuti oleh para guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kota Padang. Sebelum diskusi, mereka diajak menonton film Siti Nurbaya yang pernah ditayangkan di TVRI.
Pj Wali Kota Padang Andree Algamar mengatakan Novel Siti Nurbaya bukan hanya sekedar karangan fiksi. Tapi karya sastra yang sangat melegenda dan titik awal pelopor kesusastraan Indonesia modern.
“Bahkan nama Siti Nurbaya ini kita abadikan menjadi nama taman, jembatan, event tahunan, dan masih banyak lagi,” ujar Andree.
Baca Juga: Padang Youth Creative Festival Meriahkan HUT ke-355 Kota Padang
Cucu Marah Roesli, Dewi Odjar Ratna mengatakan, kakeknya merupakan penulis yang mengekspresikan rasa kasih sayang dan cinta kasih.
Ia mengungkapkan, kisah pernikahan Siti Nurbaya bukan semata-mata tentang paksaan, melainkan lebih kepada pengorbanan seorang anak terhadap orangtuanya.
”Jadi, diluruskan saja, bahwa Siti Nurbaya bukan kawin paksa. Tetapi dipaksa menikah. Dan itu sebagai bentuk pengorban dan pengabdian seorang anak terhadap orangtua. Nilai-nilai itu sekarang yang hampir luntur. Kalau dilihat ceritanya ada nilai-nilai luhur dimana disampaikan dengan sangat santun,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, cucu Marah Roesli juga menghadiahkan dua foto keluarga Marah Roesli yang sudah berusia sekitar 80 tahun. (jn01)






