Padang, Javanusa—Gubernur Sumatera Barat (Padang) Mahyeldi Ansharullah menegaskan pemulihan lingkungan tidak dapat ditunda lagi.
Ia menyampaikan hal tersebut setelah banjir dan longsor meninggalkan kerusakan besar di berbagai wilayah Sumatera Barat.
Ia menilai bencana tersebut menjadi peringatan keras bagi semua pihak. Menurutnya, menjaga lingkungan jauh lebih murah dibandingkan biaya pemulihan kerusakan.
Mahyeldi menyampaikan pesan itu saat memimpin penanaman 1.000 pohon di kawasan Hutan Kota Malvinas. Lokasi berada di sempadan Sungai Batang Kuranji Sungai Batang Kuranji, Kota Padang, Jumat (12/6/2026).
Kegiatan ini berlangsung dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Program ini juga mendukung rehabilitasi kawasan terdampak banjir besar pada akhir tahun lalu.
“Tidak boleh ditunggu lagi. Kita harus bertindak sekarang untuk pengendalian iklim karena ini menyangkut keberlangsungan hidup manusia itu sendiri,” kata Mahyeldi.
Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Aksi Lingkungan
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumbar menginisiasi kegiatan ini. Ratusan peserta dari pemerintah, BUMN, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, pelajar, dan organisasi masyarakat ikut terlibat aktif.
Mahyeldi menegaskan kolaborasi lintas sektor menjadi modal penting dalam membangun kepedulian lingkungan. Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam gerakan tersebut.
“Alhamdulillah hari ini kita hadir bersama. Ini bukan sekadar memperingati Hari Lingkungan Hidup, tetapi bagaimana membangun kepedulian terhadap sampah, melakukan penanaman, menjaga dan merawat pohon, serta mewariskan kepedulian lingkungan kepada generasi muda,” ujarnya.
Dampak Kerusakan Lingkungan Mulai Terlihat
Mahyeldi mengingatkan masyarakat telah merasakan langsung dampak kerusakan lingkungan. Ia menegaskan kerusakan alam memicu banjir, longsor, dan dampak yang lebih luas.
“Kita sudah merasakan akibatnya. Ketika lingkungan rusak, yang muncul adalah banjir, longsor, dan kerusakan yang lebih luas. Karena itu kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan kita,” tegasnya.
Sorotan Pendangkalan Sungai Batang Kuranji
Mahyeldi juga menyoroti kondisi Sungai Batang Kuranji yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi pascabanjir. Ia menilai kondisi ini perlu penanganan segera.
“Ketika lingkungan terganggu dan rusak, maka inilah hasilnya: banjir, longsor, sungai mengalami pendangkalan. Kalau sedimentasi tidak segera ditangani, saat curah hujan tinggi air tidak lagi tertampung dan risikonya banjir akan kembali melebar,” katanya.
Kerusakan Ekosistem dan Kerugian Triliunan Rupiah
Mahyeldi menyampaikan kerusakan akibat bencana tidak hanya merusak infrastruktur. Kerusakan juga mengganggu ekosistem yang menopang kehidupan.
“Saya baru mengetahui banyak pohon di kawasan ini mati. Dulu Malvinas sangat hijau. Ternyata banjir tidak hanya memakan korban manusia, tetapi juga mematikan tumbuhan dan merusak keseimbangan lingkungan,” ucapnya.
Ia juga menyebut total kerugian akibat banjir dan longsor mencapai sekitar Rp33 triliun.
“Kerusakan dan kerugian akibat banjir longsor itu tidak kurang dari Rp33 triliun. Nilainya setara beberapa kali kemampuan anggaran daerah. Ini menunjukkan menjaga lingkungan jauh lebih murah dibanding memperbaiki kerusakan,” ujar Mahyeldi.
Mahyeldi mengingatkan agar kawasan sempadan sungai tetap dijaga. Ia menekankan larangan pemanfaatan kembali untuk permukiman. Hal ini penting untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.
Revitalisasi Kawasan Hutan Kota Malvinas
Kepala DLH Sumbar menjelaskan penanaman ini menjadi bagian dari revitalisasi kawasan sempadan Sungai Batang Kuranji. Kawasan tersebut sempat terendam banjir hingga sekitar dua meter dan menyebabkan ratusan pohon mati.
Sebanyak 1.000 bibit ditanam oleh sekitar 250 peserta. Peserta berasal dari OPD provinsi dan kota, instansi vertikal, BUMN, BUMD, perusahaan, komunitas, organisasi masyarakat, hingga kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
Bibit pohon berasal dari berbagai pihak, termasuk BPDAS Agam Kuantan, Dinas Kehutanan, PT Semen Padang, PT Incasi Raya Group, PT Pertamina Patra Niaga, PLN UID Sumbar, PLN PLTU Teluk Sirih, PTPN IV Regional 4, PT Supreme Energy Muara Laboh, dan sejumlah perusahaan lainnya.
Harapan Jadi Gerakan Berkelanjutan
Ketua Pokdarwis Kota Padang, Renaldo Saputra Leo, berharap kegiatan ini menjadi awal kolaborasi jangka panjang. Ia menilai pemulihan kawasan harus berkelanjutan.
“Harapan kami ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Kami ingin Hutan Kota Malvinas berkembang menjadi Green Forest City yang memberi manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat,” katanya. (*/adpsb)






