Pessel, Javanusa—Sebuah hadis yang disampaikan Nabi Muhammad SAW melalui sahabat Abu Hurairah kembali mengingatkan umat Islam tentang kedahsyatan siksa neraka.
Dalam hadis tersebut, Nabi menggambarkan suara batu yang dilempar ke dalam neraka dan baru sampai ke dasarnya setelah 70 tahun.
Hadis hadis riwayat Imam Muslim, yang berasal dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini, menjadi bahan renungan dalam sebuah kajian.
Kajian ini tidak hanya memperdalam pemahaman umat, tetapi juga menjadi peringatan keras akan realitas akhirat.
Hal itu disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Khairatul Hasanah Muhammadiyah Lakitan, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Ustad Sapta Kardeni, saat dihubungi Selasa (21/10/2025).
Ia mengatakan hadis tersebut memiliki makna simbolik yang sangat dalam dan menyentuh. Menurutnya, hal ini perlu disampaikan dengan bijak agar bisa menggugah kesadaran umat akan pentingnya taat kepada Allah.
“Hadis ini bukan dongeng. Ia adalah bentuk nyata dari peringatan Allah yang disampaikan melalui Rasulullah SAW. Kita diajak untuk membayangkan betapa dalamnya neraka sampai batu yang dilempar sejak 70 tahun lalu baru terdengar suara jatuhnya sekarang,” jelas Ustad Sapta.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda bahwa suara jatuh itu berasal dari batu yang dilempar ke neraka tujuh puluh tahun lalu, dan kini baru mencapai dasarnya.
Menurut Ustad Sapta, ini adalah bentuk visualisasi metafisik yang diberikan kepada umat manusia agar bisa memahami, meski hanya sebatas bayangan, bagaimana pedihnya siksa akhirat.
“Angka 70 tahun bukan harus dimaknai secara literal duniawi. Bisa jadi ini simbol waktu akhirat yang tidak bisa diukur dengan logika kita,” ujarnya menegaskan.
Hadis ini, kata dia, sejalan dengan ayat dalam surah Al-Mulk ayat 7–8, yang menggambarkan suara menggelegak dari neraka ketika manusia dilemparkan ke dalamnya. “Ini konsisten antara hadis dan Al-Qur’an,” jelasnya.
Dalam ayat itu disebutkan neraka mengeluarkan suara mengerikan dan hampir pecah karena kemarahannya. Ini menambah kesan betapa seriusnya ancaman Allah bagi manusia yang ingkar dan berdosa.
Kajian hadis seperti ini, menurut Ustad Sapta, penting disampaikan secara berkelanjutan, terutama kepada generasi muda. Karena di tengah derasnya informasi digital, kesadaran spiritual harus terus ditanamkan.
“Salah satu tantangan kita hari ini adalah bagaimana menjaga generasi tetap takut kepada Allah SWT di tengah gempuran dunia maya. Hadis seperti ini bisa jadi tameng moral dan pengingat,” ujarnya.
Ia juga menggarisbawahi adab para sahabat ketika ditanya Rasulullah tentang sesuatu yang mereka tidak ketahui. Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Ini merupakan pelajaran penting tentang adab dalam ilmu.
“Jangan sok tahu dalam urusan agama. Ini pelajaran besar dari para sahabat. Mereka rendah hati, tidak mendahului ilmu,” tambahnya.
Selain itu, Ustad Sapta menekankan hadis ini mengandung pelajaran keimanan kepada hal ghaib. Apa yang disampaikan Rasulullah bukan hasil tebak-tebakan, tetapi wahyu dari Allah SWT.
Hal ini dikuatkan dengan ayat dalam Surah Al-Jin ayat 26–27, bahwa hanya Rasul yang diridhai Allah SWT yang bisa diberi tahu tentang hal-hal ghaib.
“Jadi, ketika Rasulullah berkata tentang suara batu di neraka, itu bukan kisah fiktif. Itu bagian dari ilmu yang Allah SWT sampaikan secara khusus kepada beliau,” tegasnya.
Ustad Sapta juga mengingatkan bahwa maksiat bukan sekadar pelanggaran kecil. Setiap dosa adalah ancaman yang bisa mengantar manusia ke dalam azab yang sangat pedih jika tidak disertai taubat.
Oleh karena itu, katanya, umat Islam perlu memperkuat keimanan, memperbanyak istighfar, dan menjauhi segala bentuk perbuatan zalim dan melanggar syariat.
“Hadis ini adalah panggilan bagi kita semua untuk kembali kepada jalan yang benar. Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi,” ujarnya.
Ia juga menyarankan agar para pendidik menjadikan hadis-hadis semacam ini sebagai bahan pendidikan karakter dan akhlak di sekolah-sekolah Islam.
“Bayangkan, kalau setiap anak tahu betapa pedihnya neraka, tentu mereka akan berpikir ulang sebelum berbuat salah. Ini penting dalam pendidikan moral,” katanya.
Akhirnya, Ustad Sapta mengajak seluruh masyarakat, khususnya umat Islam, untuk mengambil hikmah dari hadis ini sebagai bagian dari upaya memperbaiki diri dan memperkuat taqwa.
“Hadis ini bukan hanya cerita, tapi peringatan. Kita diajak untuk berpikir, merenung, dan kembali ke jalan Allah. Jangan tunggu batu itu sampai ke dasar baru kita sadar,” ingatnya. (yoniks)






