Makassar, Javanusa—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan dan ekonomi. Program ini juga mendorong lonjakan kebutuhan tenaga profesional di bidang gizi.
Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat kebutuhan ahli gizi meningkat tajam. Peningkatan ini seiring ekspansi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah di Indonesia.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan setiap SPPG wajib memiliki tenaga ahli gizi. Kehadiran tenaga ini penting untuk menjaga kualitas dan komposisi makanan.
“Setiap SPPG harus ada ahli gizi, karena yang kita tetapkan bukan menu nasional, tetapi standar komposisi gizi. Jadi harus ada yang meramu sesuai potensi lokal,” ujar Dadan di Makassar, Selasa (28/4).
Jumlah SPPG kini telah mencapai puluhan ribu unit di seluruh Indonesia. Setiap unit membutuhkan minimal satu tenaga ahli gizi. Selain itu, unit juga memerlukan tim pendukung di bidang pengolahan pangan dan pengawasan kualitas.
Kondisi ini membuka peluang kerja yang besar di sektor kesehatan dan pangan. Permintaan tenaga kerja meningkat seiring pertumbuhan layanan gizi di berbagai daerah.
Profesi Ahli Gizi Kini Jadi Primadona
Dadan menyebut profesi ahli gizi yang sebelumnya kurang diminati kini berubah menjadi incaran. Kebutuhan tinggi di lapangan membuat lulusan gizi semakin dicari.
“Program studi gizi yang dulu tidak terlalu diminati, sekarang menjadi yang paling laku karena kebutuhan di lapangan sangat besar,” katanya.
Latar Belakang Non-Gizi Juga Dibutuhkan
BGN tidak hanya merekrut lulusan gizi murni. Lembaga ini juga membuka peluang bagi tenaga dengan latar belakang relevan.
Bidang tersebut meliputi kesehatan masyarakat, teknologi pangan, pengolahan makanan, hingga keamanan pangan. Langkah ini mempercepat pemenuhan kebutuhan SDM sekaligus menjaga kualitas layanan di setiap SPPG.
Peran Ahli Gizi dalam Keberhasilan Program
Menurut Dadan, tenaga ahli gizi memegang peran penting dalam keberhasilan program MBG. Pendekatan yang digunakan berbasis potensi lokal di setiap daerah.
Setiap wilayah memiliki karakteristik bahan pangan dan pola konsumsi yang berbeda. Karena itu, ahli gizi dibutuhkan untuk menyusun menu yang tepat dan seimbang.
Dorongan bagi Dunia Pendidikan
Lonjakan kebutuhan SDM juga mendorong perguruan tinggi menyesuaikan kurikulum. Institusi pendidikan mulai meningkatkan kapasitas di bidang gizi dan pangan.
Program MBG menjadi momentum penting bagi kebangkitan pendidikan vokasi dan profesi di sektor tersebut. (*/red)






