Padang, Javanusa—Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengapresiasi capaian rehabilitasi lahan pertanian terdampak bencana di Sumatera Barat.
Progres daerah ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dua provinsi lain di Sumatera.
Sekretaris Jenderal Kemendagri, Tomsi Tohir, menyebut realisasi rehabilitasi di Sumbar menunjukkan perkembangan signifikan.
Ia menilai kinerja tersebut melampaui capaian daerah lain yang juga terdampak bencana.
“Dari target rehabilitasi lahan pertanian seluas 3.902 hektare rusak ringan dan sedang akibat bencana di Sumatera Barat, hingga saat ini sekitar 98 persen sudah berkontrak dan 50,8 persen di antaranya telah selesai direhabilitasi. Capaian ini lebih baik dibandingkan dua provinsi terdampak bencana lainnya di Sumatera,” ujar Tomsi Tohir.
Rakor Nasional Evaluasi Pascabencana
Tomsi menyampaikan apresiasi tersebut saat memimpin rapat koordinasi Satuan Tugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam Sumatera. Rapat berlangsung secara virtual pada Kamis (30/4/2026).
Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah dari Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat ikut dalam rapat tersebut. Forum ini membahas percepatan pemulihan lahan pertanian terdampak bencana.
Dua Daerah Jadi Perhatian
Meski mencatat capaian tinggi, Kemendagri menemukan dua daerah di Sumbar yang belum menunjukkan progres. Wilayah tersebut adalah Kabupaten Pesisir Selatan dan Kota Pariaman.
Tomsi meminta pemerintah kabupaten dan kota segera mempercepat pekerjaan rehabilitasi. Ia menegaskan Satgas menargetkan seluruh proses selesai paling lambat akhir Juli.
Target itu mempertimbangkan potensi masuknya musim kemarau pada Agustus. Kondisi tersebut dapat menghambat proses rehabilitasi jika tidak segera dituntaskan.
Daerah Siap Percepat Penyelesaian
Perwakilan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan dan Kota Pariaman merespons arahan tersebut secara positif. Keduanya menyatakan kesiapan untuk mempercepat penyelesaian rehabilitasi.
Mereka menargetkan pekerjaan rampung lebih cepat, yakni pada akhir Mei 2026. Komitmen ini diharapkan mampu mendorong capaian Sumbar secara keseluruhan.
Data Nasional Kerusakan Lahan
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Ali Jamil, memaparkan kondisi kerusakan lahan di Sumatera. Total kerusakan sawah akibat bencana di tiga provinsi mencapai sekitar 94.000 hektare.
Pemerintah menargetkan rehabilitasi seluas 42.000 hektare untuk kategori rusak ringan dan sedang. Dari target tersebut, sekitar 39.000 hektare telah berkontrak.
Sementara itu, 3.000 hektare lainnya masih dalam proses. Dari lahan yang sudah berkontrak, sekitar 12.000 hektare telah selesai direhabilitasi.
Namun, baru sekitar 1.700 hektare yang kembali diolah oleh petani. Kondisi ini menunjukkan perlunya percepatan tahap pascarehabilitasi.
Sumbar Catat Realisasi Tertinggi
Dalam konteks nasional, Sumatera Barat mencatat capaian tertinggi. Dari target 3.902 hektare, realisasi kontrak mencapai 98 persen.
Penyelesaian fisik rehabilitasi telah menyentuh angka 50,8 persen. Capaian ini melampaui Aceh yang baru mencapai 0,6 persen.
Sumatera Utara mencatat progres 5 persen, sedangkan rata-rata nasional berada di kisaran 6 persen. Perbedaan ini menunjukkan percepatan signifikan di Sumbar.
Pengawasan dan Koordinasi Diperkuat
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah mengikuti rapat melalui Inspektur Daerah, Andri Yulika. Ia menyampaikan komitmen daerah dalam mempercepat rehabilitasi lahan.
Pemerintah provinsi terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota. Selain itu, inspektorat meningkatkan fungsi pengawasan.
Dukungan TNI dan Polri juga dioptimalkan untuk memastikan pekerjaan berjalan tepat waktu. Langkah ini sekaligus menjaga akuntabilitas program.
“Alhamdulillah, kita bersyukur apa yang kita kerjakan mendapat apresiasi dari Kemendagri dan Kementan. Memang masih ada dua daerah yang belum berprogres, dan ini akan kita kawal bersama. Hasil rapat ini segera kami laporkan kepada Bapak Gubernur untuk mendapatkan arahan lebih lanjut,” ujar Andri Yulika usai mengikuti rapat. (*/adpsb)






