Jakarta, Javanusa—Kemampuan industri nasional memproduksi perkakas tangan untuk sektor pertanian dan perkebunan terus meningkat.
Industri ini mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik melalui berbagai produk berkualitas. Kondisi tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mendorong hilirisasi komoditas baja nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan industri perkakas tangan dalam negeri memiliki potensi besar. Industri ini berkembang meskipun menggunakan proses manufaktur sederhana.
“Industri ini didukung tenaga kerja di sentra produksi yang mewarisi keterampilan secara turun-temurun. Selain itu, pasar dalam negeri masih sangat besar karena Indonesia merupakan negara agraris,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (26/4).
Kebutuhan Pasar dan Peran Program P3DN
Agus menjelaskan pelaku industri kecil dan menengah (IKM), industri besar, serta perusahaan sektor kehutanan dan pertanian masih membutuhkan perkakas tangan. Produk tersebut digunakan secara luas dalam proses panen.
Pemerintah mendorong penyerapan produk dalam negeri melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Program ini membuka peluang lebih besar bagi IKM untuk memperluas pasar domestik.
“Perusahaan semakin yakin menggunakan produk IKM yang sudah memiliki sertifikasi SNI,” ujarnya.
Sebaran Sentra IKM Perkakas Tangan
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyebut jumlah IKM perkakas tangan mencapai 123 unit usaha. Data SIINas hingga pertengahan November 2025 mencatat sektor ini menyerap 512 tenaga kerja.
Industri tersebut tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera hingga Sulawesi. Sentra terbanyak berada di Sumatera Utara, seperti Kota Pematang Siantar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Labuhan Batu, Deli Serdang, dan Langkat.
Selain itu, sentra juga berkembang di Sumatera Barat, Riau, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, DI Yogyakarta, Bali, NTB, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Penguatan Daya Saing dan Tantangan Industri
Kemenperin melalui Ditjen IKMA terus memperkuat daya saing IKM perkakas tangan. Pemerintah menggandeng pemerintah daerah, akademisi, tenaga ahli, dan pelaku usaha sebagai offtaker.
Namun, industri ini masih menghadapi beberapa tantangan. Pelaku usaha mengalami keterbatasan bahan baku baja dengan komposisi karbon tertentu. Selain itu, produk impor menekan pasar domestik, sementara kebutuhan investasi teknologi cukup besar.
Untuk mengatasi hal tersebut, Ditjen IKMA menjalankan berbagai program penguatan. Program tersebut meliputi fasilitasi kerja sama bisnis, pendampingan teknis, restrukturisasi mesin produksi, serta kemitraan dengan penyedia teknologi.
Peluang Kemitraan dan Ekspor
Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Dini Hanggandari menyatakan IKM perkakas tangan berpotensi menjadi mitra industri besar, BUMN, dan pemerintah daerah. Peluang kerja sama terbuka secara langsung maupun melalui platform digital.
Sebagai contoh, PT Sarana Panen Perkasa di Medan memproduksi alat panen seperti egrek, dodos, dan berbagai jenis pisau. Perusahaan tersebut telah mengantongi sertifikasi SNI dan TKDN.
Produk PT SPP juga menembus pasar ekspor ke Liberia, Papua Nugini, Kosta Rika, Panama, dan Kolombia.
“Dalam dua tahun terakhir, PT SPP siap meningkatkan kapasitas produksi dengan dukungan bahan baku berkualitas dari PT Krakatau Steel dan PT Jatim Taman Steel,” ujar Dini. (*/red)






