Konflik Timur Tengah Picu Risiko Harga Energi dan Logistik bagi Industri Manufaktur

Penulis -

Sabtu, 7 Maret 2026 - 19:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Kemenperin)

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Kemenperin)

Jakarta, Javanusa—Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi kinerja industri manufaktur nasional, terutama melalui fluktuasi harga energi, gangguan distribusi logistik global, dan ketersediaan bahan baku industri.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan pemerintah terus memonitor perkembangan konflik karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat energi dunia sekaligus jalur penting perdagangan internasional.

“Setiap eskalasi konflik berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan sektor manufaktur,” kata Agus dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (5/3).

Salah satu faktor yang dinilai paling sensitif bagi sektor industri adalah potensi gangguan distribusi energi global. Kawasan Timur Tengah memiliki jalur vital perdagangan minyak dunia melalui Selat Hormuz.

Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut sehingga gangguan keamanan di kawasan itu dapat memicu kenaikan harga energi internasional.

Dalam beberapa hari terakhir, meningkatnya ketegangan geopolitik juga memicu kekhawatiran terhadap aktivitas pelayaran dan distribusi energi di kawasan tersebut.

Risiko keamanan maritim disebut berdampak pada menurunnya lalu lintas kapal tanker serta meningkatnya biaya pelayaran dan asuransi maritim.

Kenaikan harga energi global dinilai berpotensi berdampak langsung pada biaya produksi industri manufaktur.

Sejumlah sektor yang menggunakan energi sebagai komponen utama produksi antara lain industri petrokimia, logam dasar, semen, dan pupuk.

“Jika harga energi global meningkat dalam jangka waktu panjang, biaya produksi industri manufaktur juga berpotensi naik dan memengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk,” ujar Agus.

Selain energi, konflik geopolitik juga berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan baku industri yang berasal dari perdagangan global.

Gangguan pada jalur logistik internasional dapat meningkatkan biaya pengadaan bahan baku serta memperpanjang waktu pengiriman.

Baca Juga :  Dorong UMKM Go Internasional, Pj Wako dan Stafsus Menteri BUMN Resmikan Rumah BUMN Padang

Beberapa sektor industri di Indonesia yang memiliki ketergantungan pada bahan baku impor antara lain industri kimia, petrokimia, tekstil, logam, serta industri makanan dan minuman.

Menurut Agus, gangguan perdagangan global juga dapat memengaruhi kinerja ekspor manufaktur Indonesia karena permintaan dari negara tujuan ekspor berpotensi mengalami fluktuasi akibat ketidakpastian ekonomi global.

Untuk mengantisipasi potensi dampak tersebut, pemerintah mendorong penguatan struktur industri hulu, peningkatan penggunaan bahan baku dalam negeri, serta diversifikasi pasar ekspor.

Kemenperin juga mendorong efisiensi energi di sektor industri dan percepatan transformasi menuju industri hijau guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang sensitif terhadap dinamika geopolitik.

Selain itu, pemerintah memperkuat kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) serta pengembangan rantai pasok industri domestik guna menekan ketergantungan pada impor bahan baku.

Langkah tersebut juga dikaitkan dengan program ketahanan pangan dan ketahanan energi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Kemenperin, sektor industri manufaktur memiliki peran dalam mendukung program tersebut, antara lain melalui industri pupuk, alat dan mesin pertanian, pengolahan pangan, serta pengembangan teknologi energi.

Pemerintah menilai penguatan struktur industri nasional dapat meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia terhadap gejolak global yang dipicu konflik geopolitik. (*/red)

Berita Terkait

Empat Pasar di Pariaman Dapat Tambahan Anggaran Rehabilitasi Rp4,1 Miliar
Gebyar Pajak 2026, Mahyeldi Dorong Warga Sumbar Makin Taat Bayar Pajak
Rp115 Miliar Disiapkan untuk Pulihkan 38.000 UMKM Terdampak Bencana di Sumbar
SPKLU Center Pertama di Sumbar Diresmikan, Langkah Baru Menuju Green Province  
FIFA ASEAN CUP 2026 Jadi Berkah UMKM, Sehari Bisa Raup Omzet hingga Rp 1 Juta Sehari
Pertamina Cek Kualitas Pertalite di Padang, Sampel Diuji hingga Laboratorium Lemigas
Resmikan Al Harris Umrah, Fadly Amran Dorong Penguatan Ekonomi Haji dan Umrah
Pertalite Diduga Tercampur Material Asing, Pertamina Periksa 6 SPBU di Padang dan Agam

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:59 WIB

Gulat Kota Padang Juara Umum Porprov XVI Sumbar, Raih 16 Medali Emas

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:50 WIB

David Silva Comeback dari Pensiun, Gabung Klub Hong Kong Supreme Sha Tin

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:37 WIB

Stefano Cugurra Resmi Tangani Semen Padang FC, Targetkan Promosi ke Super League

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:04 WIB

Gateball Kota Padang Raih Emas Perdana Porprov Sumbar 2026 lewat Double Putra

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:54 WIB

Edo Vernando Sumbang Emas Pertama Biliar Kota Padang di Porprov Sumbar 2026

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Jadwal Lengkap Pertamina Grand Prix Indonesia: MotoGP, Sprint, hingga Balapan Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

MotoGP Mandalika 2026: Perebutan Gelar Memanas, Martin dan Marquez Cuma Terpaut 2 Poin

Berita Terbaru

Mikel Arteta sepakat memperpanjang kontrak di Arsenal. (Foto: IG @mikelarteta)

Olahraga

Mikel Arteta Sepakat Perpanjang Kontrak di Arsenal

Kamis, 8 Okt 2026 - 08:06 WIB