Padang, Javanusa—Krisis hidrometeorologi di Kota Padang kian mengkhawatirkan setelah bencana akhir 2025 merusak ekosistem hulu sungai dan memicu krisis air bersih.
Kondisi itu mendorong diluncurkannya Gerakan Sejuta Pohon untuk Sumatera Barat 2026 sebagai solusi ekologis jangka panjang.
Padang pun dipilih sebagai lokasi peluncuran dan penanaman perdana program tersebut. Kegiatan berlangsung di kawasan Pemandian Jembatan Sitapuang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kamis (22/1/2026).
Penjabat Sekda Kota Padang, Raju Minropa, menegaskan penghijauan kembali kawasan hulu sungai menjadi solusi utama memperbaiki siklus air.
Menurutnya, kerusakan vegetasi memperparah limpasan air hujan sekaligus menurunkan cadangan air tanah.
“Penghijauan kawasan hutan dan hulu sungai merupakan solusi mutlak untuk memperbaiki siklus air,” ujar Raju di lokasi kegiatan.
Ia menjelaskan, bencana pada November dan Desember lalu menyebabkan pergeseran aliran sungai.
Dampaknya, jaringan irigasi terputus dan cadangan air tanah menurun drastis.
121 Titik Kekeringan Terdata di Kota Padang
Data Pemerintah Kota Padang mencatat terdapat 121 titik kekeringan yang tersebar di berbagai wilayah.
Kecamatan Kuranji menjadi daerah dengan dampak terparah.
Sekitar 80 persen warga di wilayah tersebut belum terlayani PDAM. Masyarakat selama ini hanya mengandalkan sumur gali yang kini banyak mengering.
“Sungai berpindah aliran sehingga irigasi terputus. Akibatnya, sumur warga mengering,” kata Raju Minropa.
Untuk jangka pendek, Pemkot Padang mengerahkan BPBD Kota Padang bersama BPBD Sumbar dan PMI.
Mobil tangki air terus menyuplai kebutuhan air bersih ke 121 titik terdampak.
Pembangunan Sumur Bor di Lima Lokasi Prioritas
Sebagai solusi permanen, pemerintah mulai membangun sumur bor di lima lokasi prioritas. Proyek ini bekerja sama dengan Balai Pembangunan Kawasan Permukiman Sumbar.
Sumur bor tersebut disiapkan sebagai sumber air baru bagi warga non-PDAM. Langkah ini ditargetkan mengurangi ketergantungan pada air tangki.
Tanam Sejuta Pohon untuk Ketahanan Ekologi
Gerakan tanam sejuta pohon digagas bersama Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera. Program ini difokuskan pada pemulihan fungsi resapan air di kawasan hulu.
Melalui Dinas Pertanian yang membidangi kehutanan, Pemkot Padang berkomitmen mengawal pertumbuhan tanaman. Tujuannya memastikan keberlanjutan ketahanan ekologis jangka panjang.
“Kami akan mengawal pertumbuhan pohon demi ketahanan ekologi Kota Padang,” tegas Raju.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi langkah strategis Padang dalam pemulihan lingkungan pasca-bencana.
Menurut Mahyeldi, gerakan ini sejalan dengan agenda adaptasi perubahan iklim Sumbar. Ia berharap model Padang bisa direplikasi daerah lain. (*/red)






