Lem Gigi Palsu: Jangan Asal Pilih, Ini Cara Menggunakannya dengan Aman

Penulis -

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi gigi palsu. (Foto: AI Generated)

Ilustrasi gigi palsu. (Foto: AI Generated)

Javanusa.com—Lem gigi palsu dapat membantu menjaga gigi tiruan tetap stabil saat digunakan untuk makan maupun berbicara. Namun, pemilihan dan pemakaiannya perlu dilakukan dengan tepat agar tidak mengganggu kesehatan gusi.

Gigi palsu atau gigi tiruan menjadi pilihan bagi orang yang kehilangan gigi akibat usia, penyakit gusi, maupun cedera. Selain mengembalikan penampilan, gigi tiruan juga membantu pengguna menjalankan fungsi mengunyah dan berbicara.

Meski begitu, sebagian pengguna masih merasa khawatir gigi tiruan akan bergeser atau terlepas ketika beraktivitas. Perekat gigi palsu kemudian menjadi salah satu produk yang dapat memberikan tambahan stabilitas.

Penggunaan lem secara berlebihan atau pemilihan produk yang tidak sesuai justru dapat menimbulkan masalah. Karena itu, pengguna perlu memahami jenis perekat, kandungannya, serta cara mengaplikasikannya.

Pilih Lem Gigi Palsu Sesuai Kebutuhan

Dikutip dari Halodoc, perekat gigi palsu tersedia dalam beberapa bentuk, seperti krim, bubuk, dan strip atau pad. Setiap jenis memiliki karakteristik berbeda sehingga pengguna dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan.

Lem berbentuk krim umumnya menawarkan daya rekat yang kuat dan dapat membantu menjaga gigi tiruan tetap stabil sepanjang hari. Sementara itu, bubuk dan strip cenderung lebih praktis saat digunakan.

Selain bentuknya, kandungan produk juga perlu menjadi pertimbangan. Pengguna yang membutuhkan perekat untuk pemakaian jangka panjang sebaiknya mempertimbangkan produk dengan label zinc-free.

Asupan seng dalam jumlah berlebihan dari penggunaan perekat tertentu berpotensi menimbulkan efek sistemik. Kondisi tersebut antara lain dapat berkaitan dengan gangguan saraf dan rasa kebas pada bagian tubuh tertentu.

Pengguna juga dapat memilih produk tanpa rasa atau unflavored. Formula tersebut membantu mempertahankan cita rasa makanan sekaligus mengurangi potensi iritasi bagi pemilik gusi sensitif.

Baca Juga :  Jangan Tunggu Sakit, Ini 10 Cara Mencegah Gagal Ginjal Sejak Dini

Hal lain yang tidak kalah penting adalah legalitas produk. Pastikan lem gigi palsu memiliki izin edar resmi dari BPOM atau kementerian kesehatan sebelum menggunakannya.

Untuk menentukan pilihan yang paling sesuai, pengguna sebaiknya berkonsultasi dengan dokter gigi. Dokter dapat mengevaluasi kondisi gusi serta kesesuaian perekat dengan jenis dan bentuk gigi tiruan.

Jangan Menggunakan Lem Gigi Palsu Terlalu Banyak

Tak sedikit pengguna menganggap penggunaan lem dalam jumlah besar akan membuat gigi palsu semakin kuat. Anggapan tersebut justru dapat menimbulkan ketidaknyamanan.

Perekat yang terlalu banyak dapat memengaruhi keselarasan gigitan atau oklusi rahang. Akibatnya, posisi gigi tiruan bisa terasa tidak nyaman ketika digunakan.

Gunakan perekat secukupnya sesuai petunjuk pada kemasan. Secara umum, pengguna dapat mengoleskan perekat dengan jumlah kira-kira sebesar biji kacang polong atau membuat beberapa garis pendek pada area yang diperlukan.

Gigi Palsu Longgar Perlu Diperiksa

Lem gigi palsu hanya berfungsi sebagai pendukung stabilitas. Produk tersebut bukan solusi utama untuk gigi tiruan yang sudah terlalu longgar akibat perubahan atau penyusutan jaringan rahang.

Jika perekat tidak lagi mampu mempertahankan posisi gigi tiruan, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian. Pengguna juga perlu memeriksakan diri apabila harus mengoleskan lem berkali-kali dalam sehari.

Dokter gigi dapat melakukan pemeriksaan dan menentukan apakah gigi tiruan membutuhkan penyesuaian. Salah satu tindakan yang mungkin diperlukan adalah relining, yaitu penyesuaian kembali bentuk basis akrilik agar sesuai dengan kondisi anatomi gusi.

Dengan demikian, penggunaan lem gigi palsu sebaiknya tidak hanya berorientasi pada daya rekat. Kenyamanan, kondisi jaringan mulut, keamanan kandungan, serta kecocokan gigi tiruan juga perlu menjadi pertimbangan utama. (*)

Berita Terkait

Jerawat Pasir di Wajah Sulit Hilang? Ini 5 Cara Mengatasinya dengan Aman
Jantung Koroner: Kenali Penyebab, Gejala dan Cara Menurunkan Risikonya
Cacar Air pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi dan Kapan Harus ke Dokter
Cara Membaca Hasil USG 4D Saat Hamil, Ini Istilah dan Angka yang Perlu Dipahami
Rutin Minum Jus Wortel, Apa Benar Bisa Menyehatkan Mata dan Kulit?
Toilet Jongkok atau Duduk, Mana yang Lebih Sehat? Ini Posisi yang Disarankan
Jangan Salah, Begini Cara Menghibur Orang Sedih agar Tidak Makin Tertekan
Bolehkah Ibu Menyusui Makan Nasi Goreng? Ini Batas Aman dan Tipsnya

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:01 WIB

Kepala BGN Sudaryono: Insentif MBG Kini Lebih Adil, Proporsional dan Efisien

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:01 WIB

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah SLTA, tapi Tak Batalkan sebagai Wapres

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Pemerintah Targetkan Renovasi 300 Ribu Sekolah dan Madrasah hingga 2029, Kemenag Siap Bersinergi

Selasa, 6 Oktober 2026 - 15:11 WIB

Kemenag Buka Bantuan S2 dan S3 hingga Rp25 Juta, Cek Syarat dan Jadwalnya

Senin, 5 Oktober 2026 - 16:02 WIB

Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026 Dorong Peternak Perkuat Genetik dan Produktivitas

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:44 WIB

Mentan Amran Sambut Wamentan Saleh Mustafa: Speed Kerja Pertanian Harus Meningkat

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Presiden Prabowo Anugerahkan Bintang Mahaputera kepada 7 Tokoh TNI, Ini Daftarnya

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:29 WIB

Presiden Prabowo Resmikan 204 Satuan Baru TNI pada HUT ke-81, Ini Daftar dan Rinciannya

Berita Terbaru