Jakarta, Javanusa—Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mendorong percepatan transformasi sektor penerbangan nasional guna meningkatkan keselamatan, efisiensi operasional, dan kualitas layanan kepada penumpang.
Hal tersebut disampaikan Dudy dalam Aviation Sharing Session yang digelar Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara di Kantor Pusat Kementerian di Jakarta, 5 Maret.
Menurut Dudy, industri penerbangan saat ini menghadapi berbagai tantangan yang mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Dalam era keterbukaan informasi, gangguan layanan penerbangan seperti keterlambatan dapat dengan cepat menjadi sorotan publik dan memengaruhi kepercayaan terhadap industri.
Beberapa isu yang sering disorot antara lain keterlambatan penerbangan, fasilitas bandara yang belum sepenuhnya optimal, serta pengalaman perjalanan penumpang yang dinilai masih perlu ditingkatkan.
Di sisi lain, sektor penerbangan juga menghadapi dinamika eksternal, seperti fluktuasi harga bahan bakar avtur, kebutuhan investasi teknologi dan infrastruktur, serta tuntutan peningkatan standar keselamatan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah mendorong percepatan transformasi sektor penerbangan melalui berbagai langkah strategis. Salah satunya adalah penguatan digitalisasi layanan penerbangan atau konsep Smart Aviation.
Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan konsep airportpreneurship, yakni pengelolaan bandara tidak hanya sebagai simpul transportasi, tetapi juga sebagai pusat aktivitas ekonomi.
Transformasi juga mencakup modernisasi sistem navigasi penerbangan serta peningkatan kualitas infrastruktur guna meningkatkan kapasitas layanan, keselamatan, dan ketepatan waktu penerbangan.
Dalam implementasinya, pemerintah menekankan empat faktor utama yang harus diperhatikan seluruh pemangku kepentingan, yaitu aspek keselamatan dan keamanan penerbangan, sinergi antarinstansi, perhatian terhadap detail operasional, serta kesiapsiagaan menghadapi ketidakpastian.
Dudy menegaskan bahwa keselamatan penerbangan harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan dan operasional industri.
Ia juga menyebut transformasi sektor penerbangan membutuhkan kerja sama erat antara regulator, operator, dan seluruh pemangku kepentingan agar peningkatan layanan dapat berjalan berkelanjutan.
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Perhubungan Suntana, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Teuku Faisal Fathani, Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto, serta Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa. Kegiatan ini juga dihadiri pejabat kementerian, pimpinan BUMN, perusahaan swasta, dan asosiasi sektor transportasi udara. (*/red)






