Pessel, Javanusa—Mengabaikan Al-Qur’an merupakan bencana besar bagi umat Islam. Dampaknya bahkan diyakini dapat melampaui kerusakan yang disebabkan oleh narkoba, bencana alam, atau peristiwa sosial lainnya.
Hal tersebut disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Khairatul Hasanah Muhammadiyah Lakitan, Ustad Sapta Kardeni, kepada media ini, Jumat (14/11/2025).
“Kerusakan moral dan spiritual itu tidak terlihat secara kasat mata, tetapi dampaknya merambat ke seluruh sendi kehidupan,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena menjauhnya masyarakat dari Al-Qur’an tidak hanya terjadi pada segelintir orang, tetapi sudah meluas ke berbagai kalangan, baik masyarakat awam, pelajar, pekerja, bahkan sebagian kaum terpelajar. Banyak yang mulai meninggalkan Al-Qur’an, baik dalam membaca, memahami, maupun mengamalkannya.
Ustad Sapta menggambarkan kondisi ini sebagai tanda hilangnya pedoman hidup.
“Jika Al-Qur’an mulai dikesampingkan, hati manusia seperti kapal tanpa kompas. Mereka berjalan, tetapi tanpa arah,” jelasnya.
Dalam ceramahnya, ia mengutip sejumlah dalil sebagai landasan, sehingga setiap penjelasannya terasa kuat dan meyakinkan.
1. Hidup Menjadi Sempit – QS Thaha: 124
Bahaya pertama, kata Ustad Sapta, adalah hidup menjadi sempit.
Kesempitan ini bukan hanya terkait materi, tetapi dapat muncul dalam berbagai aspek: ekonomi, ilmu, hati, dan pikiran.
“Allah berfirman dalam QS Thaha ayat 124 bahwa siapa saja yang berpaling dari peringatan-Nya akan mendapatkan kehidupan yang sempit,”ujarnya.
Menurutnya, kesempitan itu tampak dalam gelisah yang berkepanjangan, rezeki yang tersendat, serta ketidakmampuan melihat solusi dalam masalah. Kesempitan hidup sering kali bukan karena kurangnya usaha, tetapi karena jauhnya manusia dari sumber ketenangan sejati.
2. Dibangkitkan dalam Keadaan Buta-QS Thaha: 125–126
Bahaya kedua adalah dibangkitkan kelak di hari kiamat dalam keadaan buta. Kondisi ini, jelasnya, bukan hanya fisik, tetapi sebagai balasan karena seseorang buta terhadap kebenaran semasa hidupnya.
“Di dunia ia enggan menerima petunjuk, maka pada hari kiamat Allah membalas dengan keadaan buta,” terang Ustad Sapta.
Mereka yang menolak nasihat, menolak kebenaran, dan merasa cukup dengan logikanya sendiri termasuk dalam golongan yang menjauh dari Al-Qur’an.
3. Menjadi Saudara Syaitan – QS Az-Zukhruf: 36
Bahaya ketiga merujuk pada ayat QS Az-Zukhruf: 36, yakni bahwa siapa saja yang berpaling dari Al-Qur’an akan diberi qarin dari kalangan syaitan.
“Inilah puncak kehancuran spiritual,” tegasnya.
Orang yang mengabaikan Al-Qur’an akan lebih mudah dikuasai bisikan syaitan: yang buruk tampak baik, yang salah terasa benar, hingga manusia berjalan mengikuti hawa nafsu tanpa kendali.
4. Menjadi Orang Fasik dan Lupa Diri – QS Al-Hasyr: 19
Bahaya keempat adalah menjadi bagian dari golongan fasik, yakni orang yang lupa kepada Allah hingga Allah pun menjadikan mereka lupa pada diri sendiri.
“Ini bukan sekadar lupa nama atau identitas, tapi lupa tujuan hidup, misi ibadah, dan arah,” jelasnya.
Ketika Al-Qur’an tidak lagi dijadikan pegangan, manusia kehilangan cermin untuk menilai diri sendiri. Mereka sibuk mengejar dunia tetapi hampa dari nilai-nilai ilahi.
5. Hati Menjadi Keras – QS Al-Hadid: 16
Bahaya kelima adalah kerasnya hati. Menurut Ustad Sapta, hati yang keras membuat seseorang sulit menerima nasihat, enggan mendengar kebenaran, dan merasa resah ketika mendengar ayat-ayat Allah.
“Orang yang hatinya keras seperti batu. Hujan nasihat tidak bisa menembusnya,” tuturnya.
QS Al-Hadid:16 memperingatkan orang beriman agar tidak menjadi seperti umat terdahulu yang keras hatinya karena terlalu lama menjauhi wahyu.
6. Menimpakan Kezaliman pada Diri Sendiri – QS As-Sajdah: 22
Bahaya keenam adalah berbuat zalim terhadap diri sendiri. QS As-Sajdah:22 menjelaskan bahwa orang yang berpaling dari ayat-ayat Allah akan mendapat azab dan kehinaan.
“Tidak ada kezâliman terbesar selain meninggalkan petunjuk yang Allah turunkan sebagai rahmat,” kata Ustad Sapta.
Menurutnya, orang yang jauh dari Al-Qur’an hidup tanpa batas dan kendali, hingga akhirnya menjatuhkan dirinya ke dalam kehancuran moral.
Ajakan Kembali kepada Al-Qur’an
Setelah menjelaskan enam bahaya tersebut, Ustaz Sapta mengajak umat Islam untuk merenung.
Ia menegaskan bahwa solusi berbagai kegelisahan hidup bukan semata menambah harta atau mengejar dunia, tetapi dengan kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat harian.
“Mulailah dari yang sederhana,” ujarnya. Misalnya membaca satu halaman sehari, memahami maknanya, lalu berusaha mengamalkannya. Sedikit tetapi konsisten akan membawa perubahan besar.
Ia mengingatkan Al-Qur’an bukan untuk dibaca hanya saat musibah atau kematian, tetapi harus hadir dalam keputusan, tindakan, dan akhlak sehari-hari.
Keberkahan hidup, lanjutnya, akan mengalir ketika Al-Qur’an kembali mengisi rumah-rumah kaum Muslimin.
“Rumah tanpa Al-Qur’an seperti tubuh tanpa ruh,” ungkapnya.
Ustad Sapta mengajak umat Islam untuk memohon ampun atas kelalaian terhadap kalam-Nya, karena Allah Maha Pengampun bagi hamba yang ingin kembali.
“Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri selama nyawa belum sampai di tenggorokan,” tutupnya. (yoniks)






