Semarang, Javanusa—MTQ Nasional XXXI resmi dimulai di Lapangan Pancasila, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu malam (12/9/2026).
Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno membuka ajang tersebut dengan pemukulan bedug.
Ribuan masyarakat dari berbagai daerah memadati lokasi pembukaan. Sejumlah pejabat juga hadir, termasuk Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, serta Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i.
Para gubernur, wakil gubernur, dan Kepala Kanwil Kementerian Agama dari berbagai provinsi turut mengikuti pembukaan. MTQ Nasional XXXI akan berlangsung hingga 20 September 2026.
Menag: MTQ Bukan Sekadar Kompetisi
Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai MTQ Nasional memiliki arti penting bagi kehidupan sosial dan kebangsaan. Menurutnya, pertemuan kafilah dari berbagai daerah membawa pesan persaudaraan di tengah keberagaman Indonesia.
“Kafilah dari berbagai penjuru Nusantara datang dengan bahasa, budaya, dan tradisi beragam. Mereka bertemu bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk membangun persahabatan dan memperkuat persaudaraan,” ujar Nasaruddin.
Ia juga menyoroti aspek inklusivitas dalam MTQ Nasional XXXI. Tahun ini, penyelenggara menghadirkan cabang ekshibisi Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas sensorik tuli dengan menggunakan mushaf Al-Qur’an isyarat.
“Ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua, tidak boleh ada seseorang pun yang kehilangan kesempatan mempelajari Al-Qur’an karena kondisi fisik, sosial ekonomi, ataupun geografis,” katanya.
Nasaruddin menyebut MTQ sebagai pesta rakyat terbesar di Indonesia. Ia berharap ajang tersebut mampu menghubungkan bacaan Al-Qur’an dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengajak masyarakat menyatukan hafalan dengan pengamalan serta pengetahuan dengan keteladanan. Menurutnya, Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga dipahami dan ditadaburi.
Nilai Al-Qur’an Harus Hadir dalam Kehidupan
Nasaruddin menekankan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an perlu hadir dalam berbagai aspek kehidupan. Di lingkungan keluarga, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, dan sikap saling menghormati.
Sementara di tempat kerja, nilai Qurani dapat tercermin melalui amanah, disiplin, profesionalisme, serta pelayanan yang adil. Ia meminta kedekatan dengan Al-Qur’an juga terlihat dari integritas saat seseorang menjalankan kewenangan.
Menag mengingatkan masyarakat untuk menjauhi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Ia menilai kepercayaan publik harus menjadi tanggung jawab yang terus dijaga.
Di tengah masyarakat, nilai Al-Qur’an dapat diwujudkan dengan saling mengenal dan membantu dalam kebaikan. Masyarakat juga perlu memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.
Langkah tersebut penting untuk mencegah fitnah, hoaks, ujaran kebencian, serta berbagai tindakan yang dapat merusak kehormatan dan persaudaraan.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Nasaruddin menekankan pentingnya keadilan, persatuan, perlindungan terhadap kelompok lemah, penghormatan terhadap kemajemukan, dan kepentingan bersama.
“Semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, semestinya semakin mulia akhlaknya, semakin santun tutur katanya, semakin menghormati perbedaan, dan semakin besar kontribusinya bagi kerukunan dan persatuan Indonesia,” katanya.
Ia kemudian mengajak masyarakat menjadikan MTQ Nasional XXXI sebagai momentum perubahan diri dan kehidupan sosial.
“Mari kita jadikan MTQ ini sebagai momentum untuk berhijrah. Semoga Allah SWT meridai seluruh ikhtiar kita dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menuntun bangsa Indonesia menuju kehidupan yang rukun, maju, adil sejahtera, dan berkeadaban,” ujar Nasaruddin.
MTQ Nasional XXXI Diikuti 2.242 Peserta
MTQ Nasional XXXI di Semarang mempertemukan kafilah dari 37 provinsi. Total peserta mencapai 2.242 orang.
Mereka berkompetisi dalam delapan cabang lomba. Cabang tersebut terbagi menjadi 24 golongan dan 48 kategori untuk peserta anak-anak hingga dewasa.
Materi perlombaan mencakup tilawah, tafsir dalam tiga bahasa, serta hafalan Al-Qur’an mulai dari satu juz hingga 30 juz.
Untuk memastikan kompetisi berjalan sesuai ketentuan, Menteri Agama telah mengukuhkan tujuh Dewan Pengawas dan 155 Dewan Hakim.
Seluruh perlombaan berlangsung serentak di 12 venue yang tersebar di Kota Semarang. Panitia juga menyiapkan satu lokasi khusus untuk registrasi kafilah.
Nasaruddin meminta seluruh peserta mengikuti perlombaan dengan sungguh-sungguh dan menjunjung kejujuran serta sportivitas. Ia juga meminta dewan hakim bekerja secara objektif, profesional, transparan, dan bertanggung jawab.
MTQ Akan Digelar Setiap Tahun
Dalam pembukaan tersebut, Nasaruddin mengumumkan perubahan pola penyelenggaraan MTQ. Kementerian Agama memutuskan MTQ digelar setiap tahun.
Sebelumnya, MTQ Nasional berlangsung dua tahun sekali karena penyelenggaraannya bergantian dengan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ).
“Kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian, bahwa kita tidak mengadakan lagi STQ. Karena itu demi untuk syiar, maka Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ, tapi yang kita lakukan adalah MTQ,” tegas Nasaruddin.
Jawa Tengah Kembali Menjadi Tuan Rumah
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai MTQ memiliki makna lebih luas daripada kompetisi membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Menurutnya, ajang tersebut menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Kehadiran pimpinan daerah dan kafilah dari seluruh Indonesia, kata Luthfi, memperlihatkan kuatnya dimensi kebersamaan dalam penyelenggaraan MTQ Nasional.
Jawa Tengah tercatat menjadi tuan rumah MTQ Nasional untuk kedua kalinya. Provinsi tersebut pertama kali menjadi tuan rumah 47 tahun lalu, yakni pada 1979.
Sementara itu, Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Nasional sekaligus Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad melaporkan kesiapan penyelenggaraan MTQ XXXI.
Persiapan melibatkan Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, LPTQ, Kanwil Kementerian Agama, pemerintah daerah, dewan hakim, serta panitia pusat dan daerah.
Abu Rokhmad berharap MTQ Nasional tidak berhenti sebagai ajang perlombaan. Ia ingin kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an dengan pengamalan nilai-nilainya.
Menurutnya, semangat tersebut sekaligus dapat memperkuat persaudaraan dan persatuan masyarakat Indonesia. (*)






