Payakumbuh, Javanusa—Kenagarian Aie Tabik menjadi nagari pertama di Kota Payakumbuh yang menggelar Mambangkik Tradisi Adat Salingka Nagari Tahun 2026.
Kegiatan itu diawali melalui tradisi Mauluan Konji di Bulan Baiak/Ramadan sebagai upaya menghidupkan kembali warisan budaya Minangkabau yang mulai jarang dikenal generasi muda.
Wakil Wali Kota Payakumbuh Elzadaswarman mengatakan kebangkitan tradisi tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan nilai adat dan budaya. Selain itu, tradisi itu juga memperkuat identitas masyarakat di tengah perkembangan zaman.
“Atas nama Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta dan Pemerintah Kota Payakumbuh, kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menggagas dan menyelenggarakan kegiatan ini. Tradisi Mauluan Konji bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan, mempererat hubungan antargenerasi, serta menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat,” kata Elzadaswarman saat menghadiri kegiatan di Balai Adat Nagari Aie Tabik, Minggu (7/6/2026).
Tradisi Mauluan Konji merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Minangkabau. Masyarakat melaksanakannya dengan memasak dan menyajikan konji atau bubur khas secara bersama-sama.
Tradisi itu menjadi simbol kebersamaan, kepedulian sosial, serta ungkapan syukur yang diwariskan turun-temurun di lingkungan nagari.
Menurut Elzadaswarman, pelestarian tradisi lokal memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Tradisi tersebut mampu memperkuat kohesi sosial, menjaga semangat gotong royong, serta menjadi sarana pendidikan karakter bagi generasi muda.
“Melalui kegiatan seperti ini, anak nagari dapat mengenal kembali akar budayanya, memahami nilai sopan santun, tanggung jawab sosial, dan semangat kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Minangkabau,” ujarnya.
Perkuat Peran Lembaga Adat
Elzadaswarman mengatakan pelestarian adat dan budaya menjadi salah satu perhatian Pemerintah Kota Payakumbuh di bawah kepemimpinan Wali Kota Zulmaeta dan Wakil Wali Kota Elzadaswarman.
Pemerintah kota mewujudkan komitmen tersebut melalui penguatan peran lembaga adat seperti LKAAM, Kerapatan Adat Nagari (KAN), dan Bundo Kanduang.
Selain itu, pemerintah juga mendukung berbagai program kebudayaan yang berlangsung secara berkelanjutan di tingkat nagari.
Menurut dia, pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam menjaga identitas budaya serta nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
“Kegiatan Mambangkik Tradisi Adat Salingka Nagari menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Ketika adat, agama, dan kebersamaan tetap terjaga, maka masyarakat akan memiliki fondasi yang kuat dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan zaman,” katanya.
Warisan Budaya Harus Diteruskan Generasi Muda
Elzadaswarman menambahkan kegiatan tersebut sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Minangkabau, yakni Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Falsafah itu menempatkan adat dan agama sebagai dua unsur yang saling menguatkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, ia mengajak seluruh unsur masyarakat, mulai dari niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, Bundo Kanduang, hingga generasi muda untuk terus bersinergi menjaga dan mewariskan tradisi yang menjadi identitas daerah.
“Jangan sampai perkembangan zaman mengikis jati diri kita sebagai urang Minang. Tradisi yang diwariskan para pendahulu harus tetap hidup, dikenal, dan diteruskan oleh generasi berikutnya,” ujarnya.
Pemerintah Kota Payakumbuh berharap kebangkitan tradisi Mauluan Konji di Nagari Aie Tabik dapat menjadi inspirasi bagi nagari lain.
Harapan tersebut bertujuan agar berbagai tradisi adat yang mulai jarang dilaksanakan kembali hidup di tengah masyarakat.
Dengan demikian, nilai kebersamaan, gotong royong, dan kearifan lokal tetap terjaga serta memberi manfaat bagi kehidupan sosial masyarakat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Payakumbuh, Ketua LKAAM Kota Payakumbuh, Camat Payakumbuh Timur, Lurah Balai Jariang, KAN 10 Nagori, Bundo Kanduang, serta tokoh masyarakat dan tamu undangan lainnya. (*/red)






