Tanah Datar, Javanusa—Bagi penggemar pacu kuda, Pacu Bugih selalu menjadi suguhan menarik di gelanggang. Tradisi Minangkabau ini meski sering dianggap pembuka perlombaan, memiliki nilai budaya yang kuat dan makna historis.
Berbeda dari Pacu Kuda, Pacu Bugih memiliki kriteria penilaian tersendiri. Pemenang tidak ditentukan hanya oleh kecepatan, tetapi juga cara kuda berlari dan interaksi antar kuda. Jika kuda saling menghalangi atau bertabrakan, nilai bisa berkurang.
Menurut juri, kuda yang menunjukkan kelincahan, kestabilan, dan respons cepat terhadap perintah joki mendapatkan poin lebih tinggi. Teknik berkuda joki juga menjadi pertimbangan penting dalam menentukan pemenang.
Pacu Bugih dulu menjadi hiburan bagi bangsawan dan raja-raja Minangkabau. Event ini bahkan digunakan sebagai ajang mencari menantu bagi penguasa lokal. Saat ini, Pacu Bugih menjadi bagian integral dari festival Pacu Kuda di Sumatera Barat.
“Pacu Bugih bukan sekadar perlombaan, tapi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Minangkabau,” kata seorang pengamat budaya lokal.
Gelanggang Dang Tuanku Jadi Panggung Tradisi
Event Pacu Bugih terbaru digelar di Gelanggang Dang Tuanku Bukit Gombak, Tanah Datar, pada 8–9 Februari 2026. Hari pertama diadakan empat race, dan hari kedua empat race lagi, dengan hadiah mencapai Rp6 juta per race.
Pengunjung dapat menyaksikan langsung teknik berkuda para joki dan kelincahan kuda yang menjadi daya tarik tersendiri.
Dengan promosi dan pelestarian yang tepat, Pacu Bugih berpotensi menjadi ikon wisata budaya Sumatera Barat. Tradisi ini tidak hanya memperkuat nilai-nilai lokal, tetapi juga meningkatkan ketertarikan wisatawan terhadap event Pacu Kuda.
“Melalui Pacu Bugih, generasi muda bisa belajar menghargai budaya sekaligus menikmati hiburan tradisional,” tambah pengamat budaya. (*/red)






