Javanusa.com—Timnas Swiss tidak hanya membangun chemistry di lapangan selama Piala Dunia FIFA 2026.
Di sela padatnya jadwal pertandingan, para pemain justru mempererat kebersamaan lewat permainan golf, aktivitas yang dinilai ikut menjaga kekompakan skuad hingga memastikan tiket ke Babak 32 Besar sebagai juara Grup B.
Golf Jadi Cara Tim Swiss Perkuat Kebersamaan
Turnamen yang berlangsung hingga enam pekan menuntut pemain dan staf menghabiskan banyak waktu bersama. Mulai dari menginap di hotel hingga melakukan perjalanan antarkota.
Dalam situasi seperti itu, hubungan yang erat di luar lapangan menjadi faktor penting yang ikut memengaruhi performa saat bertanding.
Jika sejumlah tim memilih permainan kartu atau tenis meja untuk mengisi waktu luang, skuad Swiss memiliki pilihan berbeda.
Gelandang Michel Aebischer mengungkapkan kepada FIFA bahwa golf menjadi aktivitas favorit yang mempererat hubungan antarpemain.
“Semuanya berjalan sangat baik di seluruh tim, kami menghabiskan banyak waktu bersama dan sangat akrab. Ada beberapa kegiatan yang kami lakukan dan akhir-akhir ini termasuk bermain golf,” ujar Aebischer.
Ia mengaku cukup menikmati olahraga tersebut meski belum memiliki handicap resmi.
“Saya tidak buruk dalam hal itu, beberapa hari lebih baik, beberapa hari lebih buruk. Saya tidak memiliki handicap resmi, tapi mungkin sekitar 20. Pemain terbaik di skuad ini pasti Gregor Kobel, dia memiliki handicap rendah, saya tidak yakin angka pastinya tetapi dia bagus!” tambahnya.
Gregor Kobel Bangga Jadi Pegolf Terbaik di Skuad Swiss
Pernyataan Aebischer kemudian mengarah kepada penjaga gawang Gregor Kobel. Kiper Borussia Dortmund itu lebih dulu mengungkapkan rasa puas setelah Swiss mengalahkan Kanada 2-1 sekaligus memastikan diri menjadi juara Grup B.
Hasil tersebut memberi keuntungan besar bagi Swiss. Selain melangkah ke Babak 32 Besar, mereka juga tetap bermarkas di Vancouver untuk laga berikutnya, bahkan berpeluang bertahan hingga Babak 16 Besar apabila kembali meraih kemenangan.
“Rasanya sangat menyenangkan; tujuannya adalah memenangkan grup dan kami berhasil melakukannya, jadi ini perasaan yang sangat bagus. Saya pikir tim ini berkembang dengan baik menjelang turnamen dan itu adalah proses alami yang akan terjadi. Di mana segala sesuatunya mulai membaik dari pertandingan ke pertandingan,” ujarnya.
Swiss Percaya Diri Hadapi Babak Gugur
Aebischer menilai pencapaian sebagai juara grup menjadi modal penting menghadapi fase gugur. Meski enggan memasang target terlalu jauh, ia optimistis kualitas tim mampu membawa Swiss melangkah lebih jauh.
“Sulit untuk membuat prediksi, tetapi yang bisa saya katakan adalah kami memiliki tim yang bagus. Pertama-tama, yang terpenting adalah kami lolos ke babak selanjutnya. Kami tahu bahwa finis pertama juga penting, finis dengan kemenangan, mendapatkan perasaan yang baik, dan sekarang bisa beristirahat sedikit lebih lama daripada jika kami finis di posisi kedua, jadi kemenangan hari ini sangat penting,” ujarnya.
Menurutnya, hasil selama fase grup turut meningkatkan kepercayaan diri seluruh pemain.
“Saya rasa kami memainkan tiga pertandingan yang bagus. Pertandingan pertama hasilnya kurang memuaskan, tetapi pada akhirnya kami meraih dua kemenangan dan satu hasil imbang, jadi kami percaya diri sebagai tim. Banyak pemain kami dalam kondisi prima. Kami juga dalam kondisi bagus secara keseluruhan. Kami banyak tertawa, jadi kami sangat percaya diri untuk memainkan pertandingan selanjutnya,” ujarnya.
Kobel Akui Sangat Menggemari Golf
Masa jeda selama sepekan di Vancouver memberi kesempatan bagi para pemain untuk beristirahat. Kobel pun mengisyaratkan kemungkinan kembali bermain golf bersama rekan-rekannya.
Kiper berusia 28 tahun itu bahkan percaya diri menjadi pegolf terbaik di dalam skuad Swiss.
“Di tim kami, mungkin saya (yang terbaik). Saya juga belum pernah mendapatkan handicap formal dan menuliskannya, jadi tidak bisa terlalu membanggakan hal itu. Tapi saya bermain di beberapa lapangan yang sulit dan mencetak skor yang cukup bagus,” ujarnya.
Kobel mengaku baru mengenal golf setelah menjadi pesepak bola profesional. Meski demikian, olahraga tersebut kini menjadi salah satu hobinya.
“Saya tidak tumbuh besar dengan permainan ini, baru saat mulai bermain sepak bola profesional. Jadi tidak pernah tahu (tentang bermain secara profesional di masa depan) tetapi saya sangat menyukai PGA. Saya penggemar beratnya,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan pernah bermain bersama sejumlah pegolf profesional asal Jerman.
“Jika Anda bertanya siapa pemain favorit, saya tidak ingin hanya menyebutkan nama-nama yang sudah jelas, tetapi saya pernah bermain dengan beberapa pemain profesional dari Jerman, termasuk [mantan pemain top 50] Marcel Siem. Juga beberapa pemain lain, tetapi mungkin, di tim Swiss kami, saya berada di puncak,” ujarnya. (*/red)






